Kamis, 30 April 2009

ANTISIPASI FLU BABI, INDONESIA SIAPKAN 3 JUTA DOSIS OBAT


Untuk mengantisipasi penularan virus flu babi H1N1 di Indonesia, Departemen Kesehatan menyiapkan 3 juta dosis obat yang pada dasarnya sama dengan untuk flu burung H5N1, yaitu oseltamivir.

Demikian dikatakan Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Departemen Kesehatan Rita Kusriastuti saat dihubungi, Rabu (29/4) di Jakarta. Obat dari pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ada 3 juta dosis. Persediaan bantuan internasional yang ada di Indonesia 1,9 juta dosis.

Masih ada persediaan cadangan untuk negara-negara Asia, 5 juta dosis, yang tersedia di Singapura. Indonesia bisa mengambilnya jika perlu.

Depkes juga menyiapkan 100 rumah sakit rujukan yang berkemampuan menangani kasus flu babi. Tiap rumah sakit itu memiliki ruang isolasi pasien, ventilator, dan beberapa fasilitas kesehatan lain. Simulasi pandemi influenza juga sudah beberapa kali dilakukan di sejumlah tempat, antara lain RSUP Dr Sardjito di Yogyakarta, kemarin.


Pihak RSUP Dr Sardjito menyiapkan 12 kamar, empat di antaranya kamar isolasi penuh dilengkapi dengan fasilitas khusus, termasuk masker N95 (khusus flu babi). Persediaan tamiflu pun masih cukup. ”Jika ada pasien masuk, ada 22 perawat dan 20 dokter,” ujar Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Heru Trisno Nugroho.

Di Jawa Barat, selain RS Hasan Sadikin (RSHS), Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Subang, Garut, Cirebon, dan Kota Sukabumi juga siap menjadi rujukan pasien flu babi.

”Cara penanggulangan flu burung dan flu babi hampir sama. Dengan pengalaman menangani kasus flu burung, kita relatif siap,” kata Rita.

Persediaan tamiflu di Jabar tergolong cukup, ada 2.000-an dosis disimpan dinas kesehatan dan 7.000 dosis di RSHS.

Adapun Bali sebagai daerah kunjungan wisata utama dunia menyiagakan RSUP Sanglah yang selama ini menjadi RS rujukan utama. Persediaan tamiflu pun mencukupi.

Sementara itu, alat pemindai suhu tubuh (thermoscanner) di Bandara Internasional Adisumarmo, Surakarta, Jawa Tengah, mendapati seorang penumpang dari Malaysia dengan suhu tubuh mencapai 40° celsius. Penumpang yang merupakan tenaga kerja Indonesia itu sempat diwawancarai, tetapi ia lalu dibolehkan melanjutkan perjalanan. Hal itu mengingat dalam seminggu terakhir ia hanya menetap di Malaysia yang masih dinyatakan bebas flu burung dan flu babi.

Dengan belum adanya pengumuman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang flu babi, menurut dokter pada Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang Wilayah Kerja Bandara Adisumarmo, dr Arqu Aminuzzab, ”Kami tidak bisa membawa ke ruang karantina karena mengganggu kenyamanan perjalanan mereka.” (Kps)

Selengkapnya.....

YANG PERLU DIKETAHUI TENTANG VIRUS FLU BABI


Virus mematikan flu babi yang belum pernah ditemukan sebelumnya telah mewabah di Meksiko. Setidaknya 81 orang telah meninggal dan menimbulkan kekhawatiran terjadinya pandemi.

ADVERTISEMENT

Berikut sejumlah fakta yang perlu diketahui mengenai virus strain baru ini:

Flu babi sebenarnya merupakan penyakit influenza yang disebabkan virus influenza A subtipe H1N1. Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengkonfirmasi bahwa beberapa kasus flu babi yang muncul di Meksiko merupakan strain baru virus H1N1 yang belum pernah ditemukan.

Karena itu meski namanya flu babi, namun strain baru ini belum pernah ditemukan pada babi. Ancaman penyakit ini justru pada transmisi dari orang ke orang. Demikian seperti dilansir Reuters, Senin (27/4/2009).

Virus ini secara genetik berbeda dengan virus influenza manusia H1N1 yang telah beredar secara global selama beberapa tahun terakhir. Virus flu baru ini mengandung DNA yang identik dengan virus avian, virus babi dan virus manusia, termasuk elemen-elemen dari virus babi Eropa dan Asia.

Menurut badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus ini menular dari orang ke orang. Penularannya melalui bersin, batuk atau ketika seseorang terkena virus ini dari tangan mereka yang tidak dicuci bersih.

Lantas bisahkah orang tertular flu babi dengan memakan daging babi? Menurut CDC, tidak, asalkan daging tersebut dimasak secara benar dan matang. Pematangan hingga suhu 160°F telah mematikan virus flu babi maupun virus-virus lain dan bakteri.

Sejak Desember 2005 hingga Februari 2009, telah dikonfirmasi adanya 12 kasus penderita flu babi. Namun dari semua kasus itu, hanya satu orang yang pernah melakukan kontak dengan babi. Saat itu belum ada bukti penularan orang ke orang dalam kasus tersebut.

Namun sejak Maret lalu, kasus ini mulai dilaporkan di Meksiko dan terus menyebar ke AS dan negara-negara lainnya.

Yang perlu diingat, virus flu terus bermutasi. Karena itulah vaksin flu berubah setiap tahun. Untuk virus flu babi yang baru ini belum ditemukan vaksinnya.



Selengkapnya.....

Selasa, 28 April 2009

MASJID SEBAGAI PUSAT GERAKAN


Saya sering kali menyebut masjid adalah bukan hanya semata-mata sebagai tempat untuk beribadah umat, melainkan juga sebagai pusat kebudayaan. Tetapi, saya lebih menekankan lagi, bahwa masjid sesungguhnya harus difungsikan dan diperuntukkan untuk semua gerakan dan kegiatan hajat manusia.

Semasa kepemimpinan Nabi Muhammad saw, sebagai pimpinan gerakan Islam dan sekaligus pimpinan umat, menjadikan masjid sebagai tempat pemersatu umat Islam dari beberapa suku dan golongan. Bahkan, menjadi pusat musyawarah untuk mencapai kompromi berbagai persoalan ekonomi, keluarga dll.
Sehingga tidak ayal lagi, segala perselisihan dan perbedaan umat dapat diselesaikan dalam musyawarah kesepakatan yang dilangsungkan di masjid.

Masjid keberadaannya bagi Muhammadiyah hendaknya menjadi pusat gerakan dakwah. Oleh karena itu, Persyarikatan Muhammadiyah selalu menganjurkan kepada seluruh anggotanya untuk mengembalikan masjid menjadi pusat untuk menggerakkan dakwah.

Di tingkat Pimpinan Ranting dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah harus ada pusat-pusat dakwah yang menyatu dengan masjid dan gedung perkantoran.

Kenyataannya, yang terjadi sekarang ini, masjid-masjid yang ada belum digunakan sebagaimana mestinya. Masih sebatas untuk penggunaan peribadatan, pintu masjid ditutup jika usai shalat Isa’.

Mestinya, masjid terbuka untuk seluruh kegiatan musyawarah, kegiatan perekonomian, kebudayaan, kesenian, bahkan untuk mengatasi persoalan-persoalan dengan sebuah pertemuan musyawarah.


Kita mengetahui, Muhammmadiyah saat ini sedang berada di tengah-tengah krisis global dan keuangan global yang menghimpit kesulitan seluruh umat bangsa-bangsa di dunia. Kita tidak bisa mengelak lagi, Muhammadiyah jangan turut serta berputus harapan dan kecil hati. Muhammadiyah harus tampil sebagai pemecah masalah dan bagian dari energi kebangkitan untuk mencapai semangat baru dengan penuh kegairahan untuk terus berjuang.
Sebagian besar umat menaruh harapan kepada Muhammadiyah dalam memecahkan masalah dan mengatasi persoalan yang terjadi. Karena itu, Muhammadiyah harus dapat memberikan jawaban dan solusi terbaik.

Muhammadiyah terlahir sebagai sebuah gerakan penyelesai masalah dan solusi-solusi baru dari persoalan umat. Muhammadiyah tidak perlu kehilangan kepercayaan diri. Muhammadiyah sudah teruji dan memiliki kematangan dalam menghadapi masalah-masalah berat. Bahkan terkenal karena hal ini, umat lain justru terkena ‘sindrom tidak mau bersaing’ dengan Muhammadiyah. Dengan kondisi yang seperti itu, Muhammadiyah jangan sampai justru menjadi pihak yang tidak mau bersaing dengan umat-umat lain yang sudah lebih dulu maju.

Saya mengajak kepada umat untuk kembali membangkitkan kembali semangat dan kegairahan dalam berjuang. Jika mereka dapat maju, kita harus maju, jika mereka mampu bertahan kita harus melebihi dan jika mereka punya gairah kita harus lebih bersemangat.

Muhammadiyah yang hampir mencapai usia satu abad, tidak pernah mengeluh dalam mengembangkan masyarakat dan umat. Muhammadiyah satu abad adalah sebuah lembaran baru untuk melahirkan semangat baru bertajdid jilid kedua. Muhammadiyah kembali kepada bentuk identitas kelahirannya dulu. Semoga dalam perjalanan barunya nanti tidak ada lagi masalah yang menjadi kendala untuk memecahkan persoalan-persoalan umat.•(Oleh : Din Syasuddin - Ketua PP Muhammadiyah/SM)


Selengkapnya.....

VIRUS FLU BABI TERUS MELUAS, PRESIDEN GELAR RAPAT KABINET TERBATAS


Komunitas internasional berpacu dengan waktu untuk mencegah penyebaran virus flu babi ke seluruh dunia. Eropa pun sudah dirambah. Pos pemeriksaan kesehatan di perbatasan dan bandara diperketat. Di Indonesia, impor daging babi dihentikanW

Pemerintah Meksiko melaporkan, jumlah penderita dengan gejala flu babi yang tewas diperkirakan mencapai 103 orang. Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan 22 orang dari 103 orang positif tewas akibat virus flu babi dan terdapat 1.614 kasus dengan gejala flu babi sejak 13 April 2009.

Sementara itu, Pemerintah Kanada juga memastikan ada enam orang tewas akibat flu babi. Di Amerika Serikat ada 20 orang tewas.

Di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendadak menggelar rapat kabinet terbatas, Senin (27/4) sore, untuk membahas wabah flu babi. Presiden memerintahkan jajaran menteri segera melaksanakan kebijakan antisipatif untuk mencegah penyebaran penyakit itu ke Indonesia.

Menyebar ke Eropa

Kasus flu babi telah merambah ke Eropa, khususnya Spanyol. Pemerintah Spanyol, Senin, mengaku menemukan satu kasus penderita flu babi positif. Kini masih ada 17 penderita yang diperiksa karena diduga memiliki gejala flu babi.

Untuk mencegah penyebaran virus flu babi ke negara Eropa lain, Komisaris Kesehatan Uni Eropa mengimbau warga Eropa agar tidak ke Meksiko dan AS jika tidak ada kepentingan mendesak. Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Peter Cordingley, mengatakan, virus baru ini menyebar sangat cepat di Meksiko dan AS selatan.

”Jujur, kami belum tahu secara pasti bagaimana bentuk dan cara kerja virus baru ini,” kata Cordingley.

Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Janet Napolitano, Minggu, menegaskan, AS belum bisa mengetahui persis seberapa serius dan akan menjadi seberapa parah flu babi pada masa mendatang. Alasannya, WHO saja juga belum tahu. Meski demikian, AS memperketat pemeriksaan kesehatan di perbatasan, sementara Presiden AS Barack Obama mengimbau rakyatnya untuk tetap tenang.

Sebuah sekolah di New York City ditutup selama dua hari, Senin dan Selasa, setelah diketahui ada delapan kasus positif flu babi. Di Texas ada 14 sekolah yang ditutup selama sepekan karena ada dua kasus flu babi. Demikian pula di California dan Ohio.

Bank Dunia mengirim dana pinjaman 25 juta dollar AS untuk Meksiko dan 180 juta dollar AS pinjaman jangka panjang untuk membantu pencegahan sekaligus perawatan akibat virus flu babi.

Hentikan impor

Kemarin, Presiden dalam rapat kabinet terbatas meminta jajarannya untuk bertindak cepat dan tepat.

”Kita mulai hari ini melakukan semua yang harus kita lakukan, termasuk kontrol, pengecekan maskapai penerbangan, utamanya yang berasal dari Meksiko, AS, maupun negara yang telah ada kasus flu babi,” ujar Presiden Yudhoyono.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie juga memutuskan untuk sementara melarang impor daging babi dan semua produk turunannya.

Sementara itu, sejumlah daerah telah mengerahkan petugas dinas peternakan untuk mengawasi kondisi peternakan dan penampungan babi.

”Jika ada babi yang terinfeksi flu babi, akan segera dimusnahkan,” ujar Kepala Bidang Pemasaran Sosial dan Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tini Suryati.

Di Bali, Dinas Peternakan Bali telah menerbitkan surat yang ditujukan ke semua dinas di kabupaten/kota untuk memantau peternakan babi. Juga dibagikan masker dan desinfektan.

Sejumlah ternak babi yang sekarat di rumah potong babi di wilayah Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Jawa Timur, pada akhir tahun lalu dicurigai terjangkit virus flu babi. Kepala Seksi Peternakan Dinas Pertanian Kota Mojokerto Sunarto menyebutkan, ”Kemungkinan memang ada, tetapi belum kami lakukan tes, jadi belum bisa dipastikan. Belum ada petunjuk dari Departemen (Pertanian) soal flu babi.”

Di Kota Malang, warga diingatkan untuk memantau kondisi fisik babi sebelum dan sesudah dipotong.

Dalam rapat kabinet terbatas juga diputuskan, pendatang yang masuk ke Indonesia, khususnya dari Amerika Utara dan Singapura, negara transit, diharuskan melalui pemeriksaan pemindai suhu tubuh (thermographic scanner). Pemindai ini sudah dipasang dan dioperasikan di 10 bandar udara internasional.

Di seluruh dunia kini perhatian dipusatkan kepada para pelancong antarnegara. ”Virus ini diperoleh di Meksiko, lalu dibawa pulang dan mulai menyebar ke mana-mana,” ujar Robert Strang dari Lembaga Kesehatan Publik Nova Scotia di Kanada.

China, Rusia, dan Taiwan akan melakukan karantina bagi setiap pelancong dari negara-negara yang terkena flu babi. Sementara Italia, Polandia, dan Venezuela mengimbau warganya menunda atau membatalkan rencana perjalanan ke Meksiko dan AS. Singapura, Thailand, Filipina, Jepang, Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan melakukan pemeriksaan khusus di bandara pada penumpang dari Amerika Utara.

Sementara itu, Direktur Marketing dan Distribusi Indonesia AirAsia Widijastoro Nugroho dan Manajer Komunikasi Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang menekankan, belum terlihat penurunan jumlah penumpang untuk rute internasional.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), yang beranggotakan 230 maskapai di dunia, dalam siaran persnya, Minggu (26/4), menyatakan telah merekomendasikan kepada maskapai anggotanya untuk menyiapkan rencana darurat dan bersiap mengimplementasikannya ketika wabah menyebar lebih luas (KPS)


Selengkapnya.....

Senin, 27 April 2009

MUHAMMADIYAH BERDUKA; MAKNA BERMUHAMMADIYAH MENURUT K.H.S IBNU JURAEMI


Yogya - Allahumma, inna ustadzuna Suprapto Ibnu Juraimi, fi dzimmatika wa habli jiwarika, faqihi fitnatal qabri wa-adzabannar, wa anta ahlul wafa-i wal haq, faghfirlahu warhamhu, innaka antal ghafurur rahim.

Alhamdulillah, ketika saya pertama kali memangku tugas selaku Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, sekitar dua tahun yang lalu, telah dapat dilaksanakan ‘proyek’ Rihlah Dakwah tahap I yang ketika itu dimulai dari Magelang, Temanggung, Banjarnegara, Purwokerto dan Tegal.
Program ini merupakan suatu terobosan dari Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, yaitu model kajian selama satu hari satu malam, menggunakan pendekatan spiritual dan intelektual. Selama 2 tahun itu, sekitar 215 PDM sudah sempat dikunjungi untuk melaksanakan pengajian ini. Bahkan ada yang sudah sampai 3 kali, karena mereka minta dilaksanakan lagi.

Tema yang diangkat dalam kajian satu hari satu malam ini adalah “Meningkatkan Kualitas Kepribadian Pimpinan agar Berakidah yang Benar, Memiliki Kemampuan Berpikir Bayani, Burhani dan Irfani, serta Dapat Menjadi Uswah Hasanah”. Sebuah tema yang luar biasa. Kalau dilaksanakan dengan waktu hanya kira-kira 1,5 jam, harapannya tidak
mungkin akan tercapai. Sebab, pengajian model ini memerlukan proses. Dan, proses yang paling tepat itu kalau pengajian ini diprogram mulai dari pukul 4 sore sampai pukul 6 pagi esok hari. Pengajian ini dulu sudah pernah dicoba oleh PDM Temanggung dengan sasaran peserta para pimpinan. Para pimpinan Muhammadiyah ini dituntut menjadi pribadi yang berkualitas, sanggup berfikir bayani, burhani dan irfani.

Materi kajian dibagi dua. Karena menyangkut pimpinan Muhammadiyah, yang saya angkat pertama kali adalah tentang makna bermuhammadiyah. Jangan-jangan setelah sekian tahun bermuhammadiyah, ternyata kita tidak tahu apa sebenarnya bermuhammadiyah itu. Kira-kira setahun yang lalu, PWM DIY mengadakan kegiatan pembinaan Daerah. Saya mendapat tugas untuk melakukan Konsolidasi Ideologi. Saya angkat tema “Bagaimana seharusnya kita bermuhammadiyah”. Ada lima hal pokok di dalam kita bermuhammadiyah. Nampaknya, acara itu dianggap menarik. Sehingga pada tiga tempat yang menjadi tugas saya dalam Konsolidasi Ideologi ini, saya mengangkat tema ini. Setelah itu, insya Allah, baru kita bisa memposisikan diri sebagai pimpinan Muhammadiyah, dan apa yang perlu dilakukan sebagai pimpinan Muhammadiyah.


Dari pengamatan, saya menjumpai di beberapa Daerah/PDM, ada Pimpinan Daerah yang diangkat menjadi pimpinan langsung dari Pimpinan Ranting, bahkan menduduki jabatan sebagai Ketua PDM. Padahal dia tidak tahu seluk beluk Muhammadiyah, tidak kenal apa itu Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, tidak tahu apa itu MKCH, apalagi Kepribadian Muhammadiyah. Hanya karena kebetulan dia pinter bicara, ketika diselenggarakan Musyawarah Daerah, ia kelihatan menonjol, lalu terpilih menjadi ketua PDM.

Di sisi lain, bisa kita saksikan juga bahwa banyak orang tertarik dengan Muhammadiyah. Rupanya dengan aktif di Muhammadiyah itu bisa menjadi jembatan untuk, misalnya, menjadi anggota Dewan (wakil rakyat).

Konon, saya tidak tahu pasti, di Jawa Tengah, kini sedang ramai-ramainya orang Muhammadiyah berupaya untuk bisa menjadi calon anggota Dewan. Padahal tidak semua dari mereka itu bisa terangkat menjadi anggota Dewan, sehingga kemudian terjadi masalah. Di antara mereka sendiri saling padu, konflik antar sesama teman sendiri.
Memperhatikan hal yang demikian, maka kita perlu faham bagaimana sebenarnya bermuhammadiyah itu.

Makna Bermuhammadiyah: Pertama, Bermuhammadiyah adalah Berislam

Makna bermuhammadiyah yang pertama dan paling utama serta sangat mendasar adalah berislam. Bagaimana maknanya berislam itu? Mengungkap hal ini, saya akan membuka lembaran sejarah yang sudah amat jarang diketahui oleh para pimpinan Muhammadiyah. Alhamdulillah, saya beruntung, mendapat rahmat ketika saya bisa nginthil, mengikuti guru saya, seorang ulama besar di Jogjakarta, Bapak K.H.R. Hadjid. Beliau dijuluki sebagai Asyaddul Muhammadiyah, Jago Tua Muhammadiyah, sekretaris Badan Penasehat PP Muhammadiyah. Gara-gara saya ditendang dari IAIN, saya justru sempat berguru kepada beliau selama tidak kurang dari 10 tahun.

Saya sempat mendengar kisah yang dialami beliau. Beliau termasuk murid termuda K.H. Ahmad Dahlan. Nampaknya, beliau satu-satunya murid yang mencatat pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Kami sempat beberapa kali menerbitkan Buku Pelajaran Kyai Ahmad Dahlan itu dalam bentuk stensilan. Terakhir, diterbitkan oleh Depag Jawa Tengah, dibagi secara
gratis untuk PDM-PDM se Jateng. Buku itu adalah Himpunan Ayat-ayat Alquran yang Difahami oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan.
Buku itu berisi tentang bagaimana cara memahami, bagaimana cara mengajarkan, dan bagaimana pula cara mengamalkannya. Semua itu terungkap dalam Buku Pelajarannya Kyai Haji Ahmad Dahlan yang ditulis oleh KHR Hadjid. Generasi sekarang ini barangkali tidak banyak mengenalnya. Yang dikenal mungkin malah putra tertuanya yang juga terkenal, Bapak R.H. Haiban Hadjid.

Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik

Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik,
dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.

Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan.
Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga “ambisi” menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat.
Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.

Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam?
Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya “Beranikah kamu beragama Islam?”. Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, “Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu”. Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.

Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H. Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu pertanyaan.
Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, “Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe” (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).

Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An’am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.

Dalam salah satu kitab tafsir diungkap bahwa ayat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Kata-kata dalam ayat Alquran yang menyebut aslama-yuslimu-aslim, muncul dari Nabi Ibrahim AS. Jadi, awwalul muslimin itu Ibrahim, sedang wa ana minal muslimin itu Rasulullah Saw.
Maka di dalam doa Iftitah yang diucapkan dalam bacaan shalat tadi
boleh dipilih antara awwalul muslimin atau wa ana minal muslimin.
Qul, katakanlah (Muhammad), inna shalati, sungguh shalatku; wa nusuqi,
dan pengorbananku; wa mahyaya, dan kiprah hidupku; wa mamati, dan
tujuan matiku; lillah, hanya untuk dan karena Allah; raabil alamin,
pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; wa
bidzaalika umirtu, dan dengan itu aku diperintah; wa ana awwalul
muslimin, dan aku orang yang pertama, pasrah, setia tunduk kepada
Allah Subhanahu wataala. Amin ya rabbal alamin.
Itu makna yang populer, kecuali kata nusuq yang saya terjemahkan
menjadi pengorbananku. Pada hampir semua terje-mahan, nusuq diartikan
ibadah.
Mengenai tafsirnya, kebetulan tidak sempat saya catat tapi saya punya
kitabnya, nusuq bukan berarti ibadah. Yang berarti ibadah adalah
nasaqun. Nusuq artinya menyembelih kurban. Maka saya artikan, nusuqi
adalah pengorbananku. Jadi, “shalatku, pengorbananku, hidup matiku,
lillahi rabbil alamin”.

Kyai Bakir Sholeh, seorang ulama besar Jogja yang dikenal sebagai
kamus berjalan, memaknai dengan liman kana yarju…… “Sungguh, shalatku,
pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah”. Dalam terjemah
Miftah Farid masih kelihatan biasa. Tetapi untuk terjemahan ini orang
bisa tertegun, “Hanya karena untuk Allah rabbil alamin.”
Laa syarikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengertian ini oleh Kyai
R.H. Hadjid, yang telah mendengar pelajarannya langsung dari Kiyai
Dahlan dengan terjemahan tafsir “itu tidak untuk selain Allah”.
Karena syarikat bermakna sekutu. Sekutu itu apa saja bisa dianggap sekutu.
Lalu ayat tadi bermakna apa? “Shalatku, pengorbananku, hidup dan
matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta”. Laa syarikalah, tidak
ada sekutu selain Allah. “Aku diperintah untuk hidup dengan model cara
yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk
anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan
tanah airku”. Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan.
Hidupku tidak untuk itu.
Pertanyaannya, lalu untuk apa? “Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela
tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan
tanah air, tetapi karena Allah”. Di sini lalu maknanya, “berbuat
baiklah kamu kepada orang tuamu”. Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar
karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua,
tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata
“wa-ahsinuu, …..birrul walidaini”.
Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan “wa ana awwalul muslimin.
O, ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik
kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang
lain.

Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yang
namanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang
tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat
yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya’buduun.
Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat
yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan
satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain.
Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah.
Di situlah makna hakekat dari Islam.

Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi
pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup
menjawab.
Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang
dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama
aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye,
jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari
oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya
panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya
jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir,
yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput
mobil.

Bermuhammadiyah adalah berislam. Ungkapan ini memang cukup tandas.
Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main
trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan
itu, “Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran
tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang
banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya
jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi
sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya
menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar
fitnah”. Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal
ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal
Rasululah.

Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di
jaman sekitar hidup Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang
punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalnya haadzal
qur’ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan
Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan
menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah
kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.

Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan
karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk
menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar,
simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca
Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang
sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang
terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.

Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran,
kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending,
kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum’at Shubuh, Nabi
selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan
di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada.
Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak
apalagi diamalkan.

Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang
Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal.
Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi
kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis
diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau
menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal
mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap
Islamnya.

Anehnya, diantara orang-orang yang beragamanya hanya tiga kali seumur
hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini
sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang
merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk
perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi
di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat
gado-gado.
Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif,
membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu,
diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam
juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung
menjadi satu, Pancasila.

Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam.
Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan
kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat
kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang
mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada
orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika
mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan.

Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji
itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji
masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin…. Islam itu
dibangun di atas lima perkara, yang kita kenal dengan rukun Islam.
Lima perkara itu adalah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji,
itu baru pondasi. Untuk membangun Keluarga Sakinah memang harus lima
perkara itu dulu yang ditata. Sebab, ada orang yang berhaji
berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi
keluarga sakinah.

Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah,
bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya
tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya,
pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap
masalah ini.
Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang
dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan
pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga
pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis
kalimat itu, hanya mendengar sepintas, “Hidup sepanjang kemauan
Islam”.

Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani
menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut
kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini
yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat
mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari
bermuhammadiyah itu.

Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham
apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja.
Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma.
Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi,
tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua,
warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada
jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu
khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka
orang tadi difahamkan agamanya oleh Allah.

Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa
tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa
faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang
sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab
Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah
mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita
yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin
kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang
mengamalkan hal ini.

Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah

Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat
mereka dalam “wa-tawashau bil haq”. Ada sebutan yang cukup populer
pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk
jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya
berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya
nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang
seperti itu disebut mubaligh cleleng.

Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah
Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan
mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan
mengucap salam, “Selamat pagi, Pak!”. Beliau bertanya, “Kamu siapa?”
“Saya mahasiswa Bapak”, katanya. “Kembali sana, ucapkan dulu
“Assalamu’alaikum”.
Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan
“kulonuwun“. Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab,
padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena
berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud
pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar
Muzakkir sambil berkata, “Kibir kamu ya?” “Kenapa?” tanya orang itu.
Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam
dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya
mengucap salam “Assalamu’alaikum” kalau bertamu ke rumah orang koq
malah “kulonuwun”. Inilah contohnya mubaligh cleleng.

Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota
saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan
kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat
kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya
tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan
sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini
tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai
sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi
karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak
bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau
mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat
keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah
I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah
yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya
ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut.
Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan
kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih
minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil ’alamin
dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa
quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.

Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara
membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian
ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca
Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab,
“Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah
wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah
bertabligh.

Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah.
Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak Usman Tampubolon, orang
Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), tinggal di
Jogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang
adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa.
Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman
Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, “Wong saya
sendiri yang menyusun koq disuruh merubah”, kata Pak Usman.
Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya,
dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan
tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya
kitab tauhid, “Al Ushulust-tsalasah”,30) ketika ajarannya diambil,
mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah
Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka,
yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti.
Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.

Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan
menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk
bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama
jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini
membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai
Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan
mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada
di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad
Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan.

Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang
masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal
kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid’ah.
Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi.
Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu
membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah
melangkah lebih lanjut.
Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup
anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini,
selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak
sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang
singkat.

Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian
besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan
banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan
mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang
Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir
Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya budaya-budaya itu.
Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa
menjawab.
Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya
lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu
itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo,
Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan?

Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang lain,
adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup
menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat.
Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden,
terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto
adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di
bidang pendidikan.

Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti
asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu
bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta.
Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui
dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama
menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah.
Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober
lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita
ini termasuk sebagai pewaris falsafah “sendu” (seneng duit), merasa
senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang
senang terhadap duit.
Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin
menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja
membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana
pengaruh pendidikan Muhammadiyah.

Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang
memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke
sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah
mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya,
belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah
meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari
Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.

Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi

Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah
melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana
ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran,
sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu,
organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul
sebelumnya karena kebutuhan yang mendesak. SDI muncul untuk
mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari
pengaruh politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan
surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga
saja yang menjadi harapannya.

Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun saat itu belum ada
Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh
sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya.
Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam
wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya tidak tahu
persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat
ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada
jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada
saat lahirnya Muhammadiyah.

Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya
sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat
Haji Wada’ jumlah jama’ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang
punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu.
Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi 1 juta. Ummat yang sekitar 700
ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad
SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang
kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk
surga sebelum Rasullah meninggal.

Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu.
Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh
tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak
menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di
Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal
Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal
uswah hasanah saja.

Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan,
ada audien/peserta pengajian itu, yang memper-hatikan betul terhadap
Kyai Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia
memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya
ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan
waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di
Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa
menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu
hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa tidak puas
dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu.
Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan pulang ke Jogja orang tadi mengikuti.
Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan
sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang
sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh,
orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa
Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang
ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, “Pantas kalau
Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah”. Orang
itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau adalah
saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan,
yang berasal dari negeri Minangkabau.

Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah
orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP
Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di
Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika
beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya,
Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan
dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi kantor PP Muhammadiyah
Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang
lalu.
Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau
sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti
RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit,
sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.

Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada
satupun orang Muhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin
diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak
jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi.
Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan
pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80
ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok pengajian tadi lalu menyebarkan
warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian
diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat.
Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang
Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut,
kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi
membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus
kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak
AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu,
maka sisanya dikembalikan.

Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah
sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali
ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan
seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah
dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya,
dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah
tidak boleh seperti itu.

Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari
200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30
juta ummat yang juga sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan
kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ,
yang dikenal sebagai da’i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun
ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau
juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk
membangun ummat diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.

Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan
Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY,
UHAMKA dan sekitar 130 PTM, ditambah puluhan ribu sekolah
Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra
Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk
mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada
sedikit yang berasal dari IPM/IRM.
Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka
masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan
keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam
menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah,
koq setelah sholat malah yasinan.
Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap
tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak
itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?

Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua
Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di
Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah
itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih
lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang
membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling
tidak selama tiga tahun mereka kita didik.

PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu
melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa
di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu
menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius.
Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari
penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan “Hidup-hidupilah
Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah” masih relevan?
Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di
majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah.
Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas
ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.

Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini
sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied
di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat
itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan,
tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di
lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli
lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke
mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai
dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya
ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis
dhoif.
Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring
tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah
kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk
memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman
dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah
kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh
pengorbanan beliau.

Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk
dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor,
sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai
Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana,
misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur
juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di
kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu
latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu
orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami
Muhammadiyah tersebut.
Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja.
Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu,
panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman
beliau atas surat Al-Maun.

Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada
benturan yang berarti ia menjadi diminati oleh ummat. Cuma, sekarang
masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah
menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya,
untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.
Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan,
dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau
tidak kita jadikan kader kita.

Keempat dan Kelima, Bermuhammadiyah adalah Berjuang dan Berjihad serta
Berkorban.
Yang keempat, bermuhammadiyah itu berjuang dan berjihad.
Yang kelima, bermuhammadiyah adalah berkorban.
Untuk dua hal yang terakhir ini belum sempat saya angkat. Sebenarnya
mau saya sampaikan karena waktunya belum ada, maka saya minta maaf.::


*) Transkrip Ceramah Ustadz Ibnu Juraimi dalam Pengajian di PDM
Temanggung Jawa Tengah. Ditranskrip oleh Arief Budiman Ch.

Selengkapnya.....

WANITA BERJILBAB MENJADI PENASIHAT PRESIDEN OBAMA


Satu lagi peran Muslim dalam kehidupan bernegara Paman Sam. Seorang wanita keturunan Mesir, warga Amerika berjilbab ditunjuk sebagai penasihat Presiden Obama.

Dalia Mogahed, analis senior dan direktur eksekutif Gallup Center, lembaga survey independen tersohor, untuk Kajian Muslim adalah nama tokoh yang ditunjuk menjadi salah satu anggota Dewan Penasihat Obama untuk Hubungan dan Lingkungan Berdasar Keyakinan.

Penunjukkan itu akan membuat Dalia memiliki kesempatan memberi masukan kepada Presiden Obama terhadap sikap praduga dan masalah yang dihadapi dunia Muslim.

Itu tak hanya membuat warga Mesir bahagia--meski juga tetap waspada--, pihak Arab pun mengamati lebih dekat tanda-tanda kepemimpinan baru di Washington yang berupaya meningkatkan hubungan dengan Islam. Hubungan yang diyakini banyak Muslim dirusak dengan parah selama delapan tahun oleh pemerintahan Bush.

Pemilihan Mogahed juga dilihat oleh banyak pihak di Timur Tengah sebagai satu langkah maju Obama menghapuskan stereotip dan penghakiman terhadap Muslim, sesuatu yang menimpa komunitas sejak 11 September 2001 silam.


"Dalia Mogahed adalah contoh terbaik dari wanita Muslim sukses. Ia membuktikan jika Muslim pun dapat berhasil di segala bidang, paling tidah di bidang keahliannya," ujar seorang pengunjung situs yang menuliskan komentarnya di harian independen Al Masry al Youm, seperti yang dikutip oleh Latimes.com, Rabu, 22 April.

Dalia, kelahiran Mesir pindah bersama keluarganya ke Amerika Serika hampir 30 tahun lalu. Baru-baru ini, ia menjadi salah satu penulis utama dalam "Who Speaks for Islam" (diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul "Saatnya Muslim Bicara") dengan John Esposito, guru besar ilmu politik Amerika, orang yang dikritik banyak pihak sebagai pemberi maaf Islam. Dalia dan Esposito menerbitkan lembar opini bulan ini dalam The Times, berjudul Ketidakpedulian Amerika terhadap Islam dan Dunia Muslim.

Meski seorang Islam, Dalia tetap menyatakan diri loyalitas pertama akan diberikan kepada negaranya, demikian dalam sebuah wawancara dengna Al Masry al Youm, Senin pekan ini yang mengecewakan beberapa orang.

"Saya pikir loyalitas pertama ia pada Islam, baru yang lain," ujar seorang komentator, masih di website Al Masry. "Saya takut mereka mungkin akan mempermainkan dan menggunakan kamu sebagai kedok politik mereka yang tidak benar-benar mengarah pada Mesir, Arab, dan dunia Muslim," imbuh komentar itu (rep)

Selengkapnya.....

SELAMAT HARI BUMI, SELAMATKAN BUMI


Apalagi yang tidak kita tahu seputar perkembangan bumi akhir-akhir ini? Dari masalah pengelolaan sampah, peningkatan jejak (kaki) karbon alias carbon footprint sampai perubahan iklim dan pergeseran kulit bumi, sedang terjadi. Apa yang bisa kita lakukan?

Hal yang sederhana, semudah mengajarkan anak-anak kita cara tepat menggunakan benda-benda dalam keseharian sehingga produksi sampah bisa diminimalkan, sampai kepedulian untuk menanam pohon di setiap lahan kosong yang kita miliki. Jadi mulailah dari hal kecil, di lingkungan yang tak jauh dari diri kita, dan sekarang. Bukan besok atau nanti.

Jika Anda ingat dongeng klasik sarat makna, Jack and the Beanstalk, langkah sederhana Jack yang menukarkan sapi dengan beberapa biji kacang ajaib, kini diartikan oleh beberapa kalangan sebagai ajakan untuk hidup secara vegetarian, menjadi salah satu langkah untuk mengurangi “beban” terhadap bumi yang kita timpakan. Beberapa penelitian memang membuktikan emisi gas buang tak hanya “disumbangkan” oleh asap dari alat-alat transportasi dan industri. Peternakan sapi, ayam dan hewan lainnya punya andil besar dalam menimbulkan efek rumah kaca dan pencemaran lingkungan secara umum. Oleh karena itu, ada yang memilih mengurangi konsumsi produk peternakan, ada yang memilih hidup secara vegetarian murni (hanya makan sayur-mayur dan protein nabati), atau ada juga yang memilih mengonsumsi dan menggunakan produk-produk organik, dengan kata lain “kembali ke alam”.



Bagaimanapun setiap orang tua pasti punya cara tersendiri menghayati hari Bumi yang diperingati seluruh penduduk bumi setiap 22 April ini. Apabila Anda memilih menerapkan gaya hidup organik yang tak hanya dilakukan demi kesehatan, tetapi juga demi kesinambungan keberadaan semua aspek di alam, Anda bisa membaca Ayahbunda edisi 09 bertema “Orang Tua Hijau”. Atau, Anda juga bisa terjun langsung untuk terlibat dalam membangun kesadaran semua orang di lingkungan Anda, sebagaimana dilakukan para duta lingkungan hidup. Untuk itu, jangan lewatkan Berita Ayahbunda yang antara lain mengulik aksi hijau seleb dunia.

Selengkapnya.....

Jumat, 24 April 2009

PENYAKIT KENCING TIKUS MULAI MEWABAH


Musim hujan ternyata berpeluang untuk memicunya timbulnya berbagai penyakit, apalagi ditambah akan kurangnya kesadaran akan kebersihan diri maupun lingkungan sekitar.

Bukan hanya DBD dan Diare, penyakit lainnya yang kini muncul disaat intensitas hujan mulai memuncak yaitu Leptospirosis yang akan menjadi momok sebagian besar warga. Untuk itu seluruh masyarakan dihimbau waspada !

Penyakit Leptospirosis saat ini mulai menjangkiti warga, seperti dikawasan Cengkareng jakarta Barat, seorang wanita tua bernama Tumijah kini sedang kritis dan sedang menjalani perwatan intensif akibat penyakit kencing tikus tersebut. Bahkan penyakit tersebut juga telah merenggut korban jiwa yang dialami seorang pria warga Jatiuwung tanggerang.


Leptospirosis termasuk dalam golongan Zoonosis atau penyakit pada hewan yang juga dapat menjangkiti manusia. Umunnya penyakit ini lebih dikenal dengan penyakit kencing tikus, gejala dari terjangkitnya Leptospirosis diantaranya diawali dari flu kemudian, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri kepala, leher kaku, muntah, nyeri tenggorokan.

Sebagai antisipasinya dan mencegah berkembangbiaknya kuman leptospira yang mampu bertahan hingga bulanan pada air dan tanah ini, maka hendaknya waspada dimusim penghujan yang mulai memuncak ini, apalagi genangan air misalnya akibat banjir memungkinkan kuman tersebut bersarang. Langkah awal untuk memusnakannya ialah dengan membersihkan lingkungan sekitar dengan desinfektans.




Selengkapnya.....

PEMERINTAH TERAPKAN SISTEM BARU PENGELOLAAN OBAT ANTIRETROVIRAL (ARV)


Pemerintah berencana menerapkan sistem baru dalam pengelolaan obat antiretroviral (ARV) untuk mendukung pengobatan infeksi virus dan sindroma merapuhnya kekebalan tubuh (HIV/AIDS).

"Mulai 1 Juli nanti kita akan pakai sistem ’Voluntary Pooled Procurement’ atau VPP dimana ARV dibeli secara global, harganya jadi lebih murah sehingga kita bisa membeli lebih banyak. Dan ada model distribusi dan penyimpanannya yang lebih baik," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Nafsiah Mboi dalam simposium mengenai kesinambungan Antiretroviral Therapy (ART) di Jakarta.

Penerapan sistem itu diharapkan dapat mengatasi berbagai masalah dalam pengadaan dan distribusi ARV yang dalam satu tahun terakhir sering dikeluhkan pengelola rumah sakit rujukan pelayanan terapi ART dan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).


Kepala Sub Direktorat AIDS dan Penyakit Menular Seksual Departemen Kesehatan Dyah Erti Mustikawati menjelaskan, sistem itu akan digunakan untuk pengadaan ARV dari dana the Global Fund.

"Sebelumnya the Global Fund hanya memberikan dana, kita yang mengelola dan melakukan pengadaan ARV. Dengan VPP nanti, kita akan menyerahkan sebagian bantuan dana untuk VPP yang akan langsung memberikan ARV, jadi beban kita lebih ringan," katanya.

Tim VPP, kata dia, juga akan memberikan asistensi kepada pemerintah dalam pembangunan sistem pengelolaan ARV baru yang lebih efisien, termasuk dalam penerapan metode penyimpanan dan distribusi ARV.

Menurut Dyah, pemerintah akan bekerja sama dengan PT Kimia Farma untuk menerima, menyimpan dan mendistribusikan ARV yang didapat dari tim VPP the Global Fund.

"Jadi nanti hanya ada satu pintu, karena selama ini pengadaan ARV dengan dana APBN juga dilakukan PT Kimia Farma," katanya.

Ia menjelaskan pula bahwa untuk mendukung kesinambungan terapi ARV bagi ODHA pihaknya mengusulkan agar penetapan alokasi dana untuk pengadaan ARV dipisahkan dari keseluruhan pengadaan obat program supaya prosesnya lebih cepat.

Dyah menambahkan, alokasi dana untuk pengadaan ARV tahun 2009 total Rp61 miliar dimana Rp39 miliar diantaranya berasal dari APBN dan sisanya dari bantuan the Global Fund. Pengalokasian dana tersebut disesuaikan dengan perhitungan jumlah pasien 21.000 orang di seluruh Indonesia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pemerintah sudah berupaya menyediakan ARV secara berlanjut untuk mendukung kelangsungan pengobatan ODHA namun demikian ada beberapa hal yang mempengaruhi kesinambungan ketersediaan ARV.

"Jumlah pasien terus bertambah sehingga kebutuhan bertambah terus karena ini digunakan untuk perawatan seumur hidup pasien. Obat ARV juga masih terus berganti seiring perkembangan teknologi pembuatan obat," katanya.

Selain itu, kata dia, juga ada faktor lain seperti kepatuhan berobat, tingkat resistensi pada pengobatan, ketepatan perkiraan kebutuhan dan faktor-faktor yang berada di luar kendali departemennya.

Pemanfaatan Terapi ARV

Dyah menjelaskan, saat ini pemerintah sudah membangun 482 fasilitas konseling dan pemeriksaan (Voluntary Counselling and Testing/VCT) HIV/AIDS di 123 dari sekitar 440 kabupaten/kota.

Pelayanan terapi ARV bagi ODHA, lanjut dia, juga sudah tersedia di 122 rumah sakit rujukan dan 26 rumah sakit satelit.

Jumlah pasien HIV/AIDS yang tercatat mendapatkan perawatan hingga Maret 2009 sebanyak 38.888 orang dan 66 persen diantaranya memenuhi syarat mendapatkan terapi ART.

"Dari jumlah itu 19.579 diantaranya sudah mendapatkan terapi ARV dan saat ini 60 persennya masih menerima terapi dan 19 persennya meninggal dunia," katanya.

Sementara jumlah akumulatif kasus AIDS yang terlapor, kata dia, hingga akhir Maret 2009 sebanyak 16.964 kasus.

Kasus HIV/AIDS paling banyak ditemukan di provinsi Jawa Barat (3.162), DKI Jakarta (2.807), Jawa Timur (2.652), Papua (2.499), Bali (1.263), Kalimantan Barat (730), Jawa Tengah (573), Sumatra Utara (485), Riau (368) dan Kepulauan Riau (325)



Selengkapnya.....

Kamis, 23 April 2009

PERINGATI HARI BUMI: LAKUKAN GERAKAN PENANAMAN SEJUTA SANSEVIERA


Dalam memperingati Hari Bumi diadakan Gerakan Penanaman Sejuta Sanseviera dan penandatanganan Deklarasi Pengendalian Pencemaran Udara oleh perwakilan Komunitas Pencinta Sanseviera Indonesia (Kompensasi), berbagai departemen pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat, dan artis. Tekadnya adalah menjadikan Jakarta bersih dengan menanam sanseviera.

"Mari kita jadikan Jakarta sebagai kota sanseviera," kata Wali Kota Jakarta Pusat Sylviana Murni dalam sambutan acara yang bertajuk "Gelar Sanseviera Indonesia" di Lobi Gedung JaCC, Jakarta, Rabu (22/4).


Di acara yang bertepatan dengan Hari Bumi ke-39 ini, Sylviana mendukung pencanangan sejuta sanseviera, terutama untuk Jakarta. Saat ini, katanya, Jakarta memiliki kualitas udara yang jelek. Oleh karenanya, penanaman sanseviera di semua tempat sangat dianjurkan. "Saat ini ada 48 kelurahan dan 8 kecamatan yang telah menanam sanseviera," ungkap Sylviana di acara yang dihadiri oleh Ketua KONI Rita Subowo.

Menurut Ketua Umum Kompensasi Ully Hary Rusady, sanseviera atau juga disebut lidah mertua bisa menyerap zat polutan. "Ada 107 jenis polutan yang bisa diserap oleh sanseviera ini," kata Ully. Beberapa jenis polutan itu seperti karbondioksida, benzene, formaldehyde, dan trichloroethylene.

Gelar sanseviera Indonesia ini akan berlangsung selama 5 hari, dari 22 April 26 April 2009 di JaCC Thamrin City. Rangkaian acara dimulai dengan penanaman tahap pertama sanseviera di kawasan Thamrin, bursa dan parade tanaman sanseviera, talkshow, pemutaran film lingkungan hidup, dan pagelaran musik nyanyian alam sebagai wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan(kps)


Selengkapnya.....

TIDAK DITEMUKAN KASUS EFEK SAMPING PHENYLPROPANOLAMINE


Jakarta, Kompas - Sejauh ini tidak ada laporan kasus efek samping pemakaian phenylpropanolamine atau PPA di dalam obat flu dan batuk. Badan Pengawas Obat dan Makanan menilai pemakaian PPA di dalam obat flu dan batuk di Indonesia terbilang rendah dosisnya, hanya 15-25 miligram per dosis atau 75 mg per hari.
”Jadi tidak benar pada 1 Maret 2009 BPOM Amerika Serikat (US-FDA) mengeluarkan pengumuman tentang obat flu dan batuk yang mengandung PPA seperti yang beredar di SMS dan e-mail,” kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dr Husniah Rubiana Thamrin Akib di Jakarta, Selasa (21/4).
PPA adalah zat aktif dalam obat flu dan obat batuk yang berfungsi sebagai penghilang gejala hidung tersumbat.


Menurut Husniah, saat ini tidak ada informasi baru terkait keamanan PPA. Pada November 2000 US-FDA menarik obat yang mengandung PPA karena diduga ada hubungan antara perdarahan otak dan penggunaan PPA dosis besar sebagai obat pelangsing. PPA yang digunakan dalam obat pelangsing di AS sebanyak 150 mg per hari.
Penarikan obat yang mengandung PPA di AS diduga ada hubungan antara hemorrhagic stroke dan penggunaan PPA dosis besar sebagai obat pelangsing. PPA dosis besar sebagai obat pelangsing di AS dijual sebagai obat bebas. Di Indonesia, PPA tidak pernah disetujui sebagai obat pelangsing.
Hidung tersumbat
Di Indonesia, menurut Husniah, PPA hanya disetujui sebagai obat untuk menghilangkan gejala hidung tersumbat dalam obat flu dan batuk, serta tidak pernah disetujui sebagai obat pelangsing. Itu pun dalam dosis yang lebih kecil daripada di AS, yakni 15-25 mg per dosis atau 75 mg per hari untuk dewasa, sedangkan untuk anak berusia 6-12 tahun hanya diperbolehkan 37,5 mg per hari.
Di Indonesia juga tidak pernah ada laporan efek samping stroke atau perdarahan otak yang berhubungan dengan penggunaan PPA.
”Perlu dipahami, penggunaan obat apa pun juga wajib membaca aturan pakai maupun hal yang perlu diperhatikan,” tegas Husniah.
Obat flu dan obat batuk yang mengandung PPA atau golongan simpatomimetik (misalnya efedrin, fenilefrin, pseudoefedrin) tidak boleh digunakan oleh pasien darah tinggi, hipertiroid, penyakit jantung, diabetes, glaukoma, hipertropi prostat atau pasien yang sedang mengonsumsi obat antidepresan golongan penghambat monoamin oxidase (MAO).
Apabila obat digunakan sesuai aturan pakai yang telah ditetapkan, kata Husniah, efek samping yang ditimbulkan umumnya ringan dan bersifat sementara. Efek samping tersebut dapat berupa rasa mengantuk, sakit kepala, mual, muntah, gelisah atau susah tidur. (LOK/kp)


Selengkapnya.....

Senin, 20 April 2009

ISLAM AGAMA TERBESAR KE DUA DI JERMAN


JAKARTA -- Indonesia dinilai perlu banyak belajar dari Jerman dalam menyikapi kaum minoritas, yakni umat Muslim. Menurut Pengajar STF Driyakarya, Budi Hardiman, Indonesia dan Jerman adalah dua negara dengan masyarakat kompleks yang ditandai pluralisme di dalamnya.

''Cara-cara Jerman menangani problem minoritas migran cukup menarik untuk kita pelajari. Sebagai negara liberal, Jerman menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia,'' ujar Hardiman dalam sebuah diskusi yang mengusung tema ''Multikulturalisme di Jerman'' yang digelar Universitas Paramadina Jakarta, Rabu (15/4).

Dalam kesempatan yang sama, Monica Wohlrab Sahr dari University of Leipzig, mengungkapkan, kini Islam menjadi agama terbesar kedua di Jerman. Jumlah penduduk Muslim diperkirakan antara 3,3 hingga 3,5 juta. ''Mayoritas adalah Islam Suni, Syiah, dan Alevite,'' kata Monica.



Menurutnya, pemeluk Islam di negeri panser itu sebagian besar datang sebagai pekerja, yakni dari Turki, Maroko, Tunisia, dan Yuglosavia, sejak sekitar tahun 1960-an. Saat ini, menurut Monica, di Jeman terdapat sekitar 110 masjid dan lebih dari 2.000 bangunan berbentuk masjid kecil atau mushala.

''Masjid saat ini menjadi simbol penting dari eksistensi kaum minoritas dalam kehidupan di Jerman. Pada tanggal 3 Oktober setiap tahunnya, masjid-masjid di Jerman dibuka untuk umum,'' ungkap Monica (REP)

Selengkapnya.....

SIAPA MAU PEDULI KEPADA ANAK ?


Efektivitas penyelenggaraan perlindungan anak di Indonesia masih terkendala sikap masyarakat dan instansi pemerintah yang belum memiliki keberpihakan terhadap persoalan anak.

"Saat ini masih sedikit departemen, menteri, pejabat eselon yang mau berpartisipasi dalam membantu memecahkan permasalahan anak," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Masnah Sari di Jakarta.

Padahal jumlah anak mencapai 30 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta atau sekitar 80 juta jiwa.

Ia mengatakan, dari 80 juta anak tersebut setidaknya 25 persen telah terpapar berbagai persoalan kehidupan, seperti kejahatan seksual, narkoba, perdagangan manusia, dampak informasi teknologi, dan sebagainya.

"Padahal 100 persen dari jumlah anak-anak di Indonesia adalah cikal bakal keberlangsungan negara ini sehingga selagi usia dini harus mendapat perlakuan layak," katanya.


Lebih lanjut dikatakannya, anak rentan terhadap pengaruh lingkungan sekitarnya dan saat ini sudah banyak anak yang terpapar, baik sebagai pelaku, maupun korban kejahatan yang telah merusak anak.

Ia mengatakan, partisipasi dalam perlindungan anak diberikan, baik terhadap anak yang sudah terpapar, maupun anak-anak yang masih berada dalam perhatian keluarga membutuhkan dukungan dari pemerintah dan masyarakat.

"Kepedulian media yang termasuk dalam unsur masyarakat bisa diimplementasikan melalui pemberitaan tentang anak secara rutin, baik pemberitaan terhadap anak yang terpapar, maupun yang berprestasi," katanya.

Ia mencontohkan, kemajuan teknologi informasi di satu sisi telah memberikan pengaruh buruk karena anak-anak menjadi mudah pergi ke internet melihat gambar porno.

KPAI ingin segera menjembatani masalah-masalah anak yang terpapar kejahatan dan pengaruh dunia orang dewasa.

"Kami melihat paling penting dilakukan adalah ketahanan keluarga. Konsep ketahanan keluarga ini dengan memberikan parenting skill (keterampilan orangtua)," katanya.

"Selain itu, mengembalikan pelajaran budi pekerti yang sudah dihapuskan dari kurikulum sekolah dan menumbuhkan kearifan lokal yang dimiliki tiap-tiap daerah," tambahnya.(kps)

Selengkapnya.....

Jumat, 10 April 2009

BROKOLI DAPAT MENJADI PENANGKAL KANKER


JAKARTA-- Konsumsi 2,5 ons brokoli dapat mengurangi risiko dari gangguan dalam perut dan kemungkinan kanker dalam perut, berdasarkan uji coba di Jepang.

Pada penelitian, risiko kanker lambung merupakan salah satu jenis kanker ganas berhasil ditekan dengan pola makan yang mengandung brokoli. Termasuk juga kanker pada kerongkongan, saluran kemih, kulit dan paru-paru.

"Kami harus hati-hati mengenai antusiasme dari pernyataan dari penelitian yang kamilakukan," ujar peneliti dari John Hopkins School of Medicine, Jed W. Fahey yang memimpin studi awal yang kemudian dilanjutkan di Jepang.

"Studi ini merupakan ujicoba yang kecil. Namun semua bukti menunjukkan brokoli atau tunas brokoli dapat mencegah kanker pada manusia," terangnya.


Fahey mengatakan, kandungan zat kimia dalam brokoli yang mendukung perlindungan tubuh terutama terhadap bagian perut yaitu sulforaphone.

Kelompok peneliti yang dipimpinnya pertama kali menggambarkan hal tersebut sebagai antibiotik yang kuat melawan helicobacter pylori pada tahun 2002.

Penelitian di Jepang dalam Cancer Prevention Research melaporkan studi tersebut didesain untuk membuktikan apakah mengonsumsi brokoli yang kaya akan kandungan sulforaphane dalam menunrunkkan kadar bakteri H.pylori sebagai bakteri yang sering dihubungkan dengan risiko dari gangguan perut dan kanker lambung.

Peneltiian yang dilakukan di Jepang karena infeksi dari H.pylori tergolong tinggi. Sekitar 25-30 persen dari warga Amerika Serikat terinfeksi.

"Di Jepang, infeksi mencapai tingkat 90% karena kepadatan penduduk dan kondisi ekonomi yang rendah," ujar Fahey sambil menambahkan, bakteri tersebut dapat ditularkan melalui kontak tubuh.

Studi tersebut dilakukan terhadap 48 orang yang terinfeksi. Setengah dari mereka mengonsumsi tunas alfalfa, yang tidak mengandung sulforaphane.

Setelah delapan minggu, tes menunjukkan tingkat yang lebih rendah infeksi h.pylori dari yang mengonsumsi tunas brokoli, sementara yang mengonsumsi tunas alfalfa tidak mengalami perubahan sama sekali.

"H.pylori dikenal sebagai karsinogen. Fakta yang menunjukkan kami dapat mengurangi efek dari infeksi yang juga merupakan karsinogen memberikan harapan jika seseorang memakan tunas brokoli atau brokoli secara teratur dapat mengurangi tingkat H.pylori dan setelah beberapa tahun akan menurunkan risiko untuk mengalami kanker. Hal itu sulit dibuktikan, namun hasilnya sangat disarankan," tutur Fahey.

Brokoli dan tunasnys sama-sama penting. Demikian dikatakan Dr. Steven H.Zeisel, direktur Nutrition Research Institute di University of North Carolina.

"Secara khusus, tunas yang tumbuh sebelum brokoli memiliki kandungan sulforaphane yang sangat tinggi," terang Zeisel.

Manfaatnya hanya dapat diperoleh ketika brokoli atau tunasnya direndam, kemudian di kunyah. Hanya dengan memisahkan bagian-bagiannya, maka kandungan kimianya akan terbentuk.

Sulforephane kemudian dapat mendukung hati untuk memproduksi enzim yang penting untuk mencegah kanker,tegas Zeisel.

"Orang yang mengonsumsi brokoli lebih banyak, mampu memaksimalisasi fungsi hati dan bagian sel lain untuk menghancurkan sel kanker," ujarnya. Bawang putih memiliki efek yang hampir sama.

Dengan meningkatkan kedua jenis makanan tersebut dalam makanan sehari-hari, yaitu brokoli dan tunasnya, dapat memproduksi kandungan kimia bioaktif yang bermanfaat.

Hal itu merupakan saran yang baik, namun Fahey menuturkan, sebagian orang akan mengambil jalan pintas dengan mengonsumsi pil sulforaphane dibandingkan memakan produk yang baik untuk mereka.

"Saya menyimpulkan, kita tidak dapat meminta seseorang untuk mengganti pola makannya secara drastis. Sebuah pil lebih baik dibandingkan tidak sala sekali. Namun bukan berarti saya menyanrankan atau memprosmosikan konsumsi pil dengan kandungan sulforaphane," tegasnya.

Hanya dua hingga tinga ons per hari, brokoli yang sudah dimasak mampu melindungi tubuh. (healthday/rin)
Selengkapnya.....

Selasa, 07 April 2009

KORBAN GEMPA BUMI ITALIA CAPAI 150 ORANG, 19 SUSTER INDONESIA SELAMAT

Sebanyak 1.500 warga dilaporkan terluka dalam musibah ini, dan 50.000 kehilangan rumah.

Lima anak dilaporkan meninggal dunia dan banyak lagi warga yang nasibnya belum dipastikan sementara pencarian besar-besaran untuk menemukan warga yang terjebak di puing-puing bangunan berlanjut.

Gempa berkekuatan 6,3 itu mengguncang Senin dini hari, sekitar pukul 03.30 (08.30 WIB).

Pusat gempa itu berada di dekat kota abad pertengahan, L’Aquila, sekitar 95km arah timur laut kota Roma.

Setidaknya 19 suster asal Indonesia bekerja di kota yang dilanda gempa tersebut.

Duta besar Indonesia untuk Tahta Suci Vatikan, Suprapto Marto Sutomo memastikan warga Indonesia yang tinggal di kota itu selamat.

Silvester Payak, atase di kantor kedutaan Indonesia di Vatikan menjelaskan tiga suster tersebut meloncat dari rumah mereka begitu getaran pertama terasa.

Sebagian besar suster-suster tersebut saat ini berada di tenda-tenda penampungan.

Seorang pejabat perlindungan sipil mengatakan, antara 3.000 hingga 10.000 bangunan di kota abad pertengahan itu mungkin rusak. Dan, sekitar 50.000 warga dikhawatirkan kehilangan tempat tinggal. Bangunan-bangunan kuno yang berumur ratusan tahun ikut hancur.



Sebuah hostel untuk pelajar ambruk dan para penolong sedang menggali reruntuhan, tempat para korban diduga terperangkap.

Keadaan darurat
Komisaris Palang Merah Italia, Fransesco Rocha mengatakan ia memprihatinkan fasilitas kesehatan di kota itu.

Para pejabat setempat mengatakan ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan mereka memperkirakan jumlah yang tewas akan meningkat.

Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi telah menerapkan keadaan darurat dan membatalkan lawatannya ke ibukota Rusia, Moskow.

Juru bicara badan perlindungan sipil, Agostino Miozzo, menggambarkan suasana panik di kawasan bencana di L’Aquila.

“Upaya pencarian masih berlangsung untuk menemukan orang yang tertimpa reruntuhan,” kata Miozzo.

Petugas pemadam kebakaran dan relawan yang datang dari seluruh Italia dikerahkan untuk memberikan pertolongan dan menyalurkan bantuan.
“Bantuan kami berikan tidak hanya di kota L’Aquila tetapi juga di desa-desa kecil yang juga terkena bencana,” katanya.

Panik
Gempa bumi terjadi beberapa jam setelah guncang berkekuatan 4,6 melanda kawasan yang sama, tapi tidak ada laporan terjadi kerusakan.

Ribuan dari sekitar 70.000 penduduk kota berlarian ke jalan dalam kepanikan menyusul guncangan gempa bumi yang berlangsung kurang lebih 30 detik.

Korban selamat menggambarkan bagaimana mereka mendapati diri mereka tiba-tiba melihat ke jalan terbuka, sebab dinding bangunan yang tempat mereka berada tiba-tiba runtuh.

Sebuah asrama mahasiswa dilaporkan termasuk bangunan yang rusak berat. Para penolong dilaporkan mencari puing-puing untuk menemukan orang yang dikhawatirkan terjebak di bawah.

“Kami berhasil keluar dengan mahasiswa lain, tapi kami harus menyusup melalui lubang di tangga, sebab seluruh lantai runtuh,” tutur Luigi Alfonsi, 22 tahun.

“Saya di ranjang – [kejadian] itu seperti tidak akan pernah berakhir, sebab saya mendengar bagian-bagian gedung ambruk di sekeliling saya,” katanya.

Para wartawan mengatakan, L’Aquila, ibukota kawasan bergunung-gunung Abruzzo, memiliki banyak bangunan tua yang tidak dirancang untuk menahan getaran gempa kuat.

Bahkan, beberapa banguan modern di pinggiran kota dilaporkan ambruk.
Getaran gempa bumi juga dirasakan di Roma.

Italia berada di dua garis patahan bumi. Negara Eropa ini pernah diguncang gempa dahsyat di masa lalu, khususnya di belahan selatan.



Selengkapnya.....

BERAT BADAN BAYI CEPAT NAIK ? AWASI OBESITAS

JAKARTA -Bayi cepat gemuk belum tentu sehat. Bahkan para orang tua mesti waspada. Para bayi yang memiliki peningkatan berat badan cepat selama masa enam bulan pertama setelah kelahiran sangat rentan menjadi obesitas ketika masuk masa balita, demikian menurut laporan sebuah penelitian Havard.

"Kami perlu memulai metode pencegahan ketika anak-anak masih berusia sangat muda," ujar penulis penelitian Dr Elsie M Taveras. "Bahkan dalam beberapa minggu setelah kelahiran, kami bisa memberi panduan kepada orang tua untuk mencegah peningkatan berat badan dengan capat pada bayi-bayi mereka," imbuhnya

Dalam penelitian serupa terdahulu, telah ditemukan kaitan antara bobot bayi saat lahir dengan obesitas, namun pengaruh faktor lain seperti durasi kehamilan, tinggi ibu dan gaya hidup ibu sering kali tak dipertimbangkan.


Para peneliti Havard melacak 559 anak yang menjadi partisipan Project Viva, sebuah studi berjalan terhadap para wanita hamil dan anak-anak mereka. Para bayi yang lahir kemudian diukur berat dan tinggi mereka, kemudian pengukuran dilakukan lagi pada saat bayi berusia 6 bulan, dan lagi pada saat 3 tahun.

Setelah mengikutkan faktor-faktor lain seperti panjang tubuh bayi, para peneliti menemukan jika para bayi yang memiliki indeks masa tubuh meningkat saat enam bulan pertama cenderung mengalami atau bahkan sudah dapat diklasifikasikan obesitas saat usia 3 tahun mendatang.

"Saat ini, sebagian besar panduan seputar penanganan obesitas menganjurkan kita memulai pemeriksaan dan perawatan terhadap anak-anak ketika mereka masuk usia 2 tahun," ujar Elsie. "Namun dengan penemuan itu pencegahan dan perawatan pun sebaiknya dilakukan seawal mungkin," imbuhnya.

Menurut Institut Kesehatan Nasional, AS, sekitar sepertiga orang dewasa di Pamn Sam dikategorikan obese. Sepuluh hingga lima puluh persen orang-orang obese cenderung meninggal dengan semua penyebab masalah kesehatan. Pada 2000, epidemik obesitas menelan biaya sistem kesehatan AS hingga 117 milyar dolar AS.

"Kunci indikasi untuk penelitian ini adalah pentingnya pendidikan lebih baik tentang asupan bayi," ujar Connie Diekman, direktur Bidang Nutrisi, di Universitas Washington, St. Louis. "Karena studi tidak memeriksa makanan apa yang diberikan kepada bayi setelah masa menyusui, sulit untuk mengetahui jika pemberian asupan berlebih menjadi penyebab," kata Connie.

Agar tepat sasaran, bisa jadi hanya diperlukan perubahan kecil sederhana. Di jerman, sebuah air mancur ditempatkan di 32 sekolah yang terletak di kawasan miskin dua kota Jerman. Para guru kemudian mempresentasikan empat pengajaran terhadap anak-anak kelas dan kelas.

Studi menemukan, para siswa yang mendatangi sekolah tersebut, sekitar 31 persen memiliki resiko obesitas lebih kecil ketimbang murid yang bersekolah di tempat yang tak mengajarkan perihal air tadi.

Kedua studi di atas diterbitkan dalam jurnal Pediatrik terbitan April tahun ini.

"Para periset sendiri menyatakan bahwa kita membutuhkan penelitian tentang perawatan dan hubungan atau ikatan bayi, karena studi lain telah menunjukkan ikatan yang minim selama saat memberi makan, bayi akan langsung mengubah apa yang yang mereka makan," ujar Connie.

"Sebagai tambahan pula, temuan meragukan perlu disingkirkan dan studi mesti diulang lagi untuk melihat apakah penambahan berat badan berlebih saat hamil juga menjadi faktor," imbuh Connie.

"Penelitian kami memang memancing banyak pertanyaan baru, mengapa peningkatan cepat berat badan bayi bisa menyebabkan obesitas di kemudian hari," ujar Elsie. "Oleh karena itu kami membutuhkan riset lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor yang menjelaskan kaitan tersebut," katanya./healthday/itz

Selengkapnya.....

HARI KESEHATAN SEDUNIA: BENAHI SISTEM PENANGANAN BENCANA


Organisasi Kesehatan Dunia menyerukan kepada negara-negara di seluruh dunia untuk membangun rumah sakit-rumah sakit yang bisa menangani bencana alam dan bencana lainnya.

Hal ini diungkap Direktur Regional WHO Wilayah Pasifik Barat Shin Young-soo, Senin (6/4) di Manila, Filipina, sebagaimana dikutip kantor berita AFP, pada peringatan Hari Kesehatan Sedunia terkait masalah bencana alam dan bencana akibat ulah manusia di seluruh dunia.

”Saat bencana dan situasi darurat, fasilitas-fasilitas kesehatan sangat diperlukan untuk menyelamatkan jiwa para korban,” katanya. Karena itu, fasilitas-fasilitas kesehatan harus ditata dengan baik, dengan fasilitas memadai dan tenaga kesehatan yang terlatih dalam menangani kegawatdaruratan.

Beberapa negara di dunia kerap mengalami bencana alam, badai, letusan gunung berapi, dan gempa bumi. Akhir tahun lalu, gempa bumi di China menghancurkan dan merusak lebih dari separuh wilayah Provinsi Sichuan. Rumah sakit-rumah sakit di provinsi itu harus melayani puluhan ribu korban.

Akhir tahun lalu, angin puyuh menghancurkan 89 rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Filipina, dan tahun 2007 tsunami menghancurkan banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Pulau Solomon.

”Hasil riset menunjukkan, kerusakan pada fasilitas kesehatan meningkatkan biaya kesehatan tahunan pemerintah hingga 60 persen,” ujar Shin.

Karena itu, pembangunan fasilitas kesehatan yang aman juga berarti menghemat biaya kesehatan. ”Pemerintah dan pengelola rumah sakit harus memastikan bahwa rumah sakit dibangun di lokasi yang aman dari bencana, desain dan konstruksi bangunan yang bagus, dan ditangani tenaga kesehatan terlatih,” katanya.


Standar

Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Adib Yahya menyatakan, kesiapan jajaran rumah sakit di semua provinsi di Tanah Air sangat diperlukan dalam penanggulangan bencana, apalagi Indonesia termasuk negara rawan bencana.

”Tiap ada bencana, rumah sakit memegang peranan penting dalam penanganan kesehatan para korban. Sebab, banyak korban bencana yang terluka, patah tulang, dan penyakit infeksi lain pascabencana,” kata Adib.

Sejauh ini, rumah sakit merupakan subsistem dalam penanggulangan bencana secara keseluruhan. ”Karena itu, sistem penanganan bencana juga perlu dibenahi secara keseluruhan, tak terbatas pada kesiapan rumah sakit,” katanya menegaskan.

Namun, sampai saat ini baru 10 persen dari sekitar 1.200 rumah sakit yang memiliki manajemen penanganan bencana yang baik.

”Beberapa rumah sakit sudah ada manajemen penanggulangan bencana, tetapi sebagian besar belum memiliki manajemen yang baik. Ini disebabkan tidak ada standar dari pemerintah mengenai prosedur penanganan bencana,” ujarnya.

Sistem penanganan bencana secara keseluruhan sudah mulai sejak kejadian, siapa yang bertanggung jawab terhadap pelayanan kesehatan di lapangan, tim evakuasi korban, dan rumah sakit mana saja yang siap menampung para korban bencana.

Dengan manajemen penanganan bencana yang baik, para korban yang butuh penanganan bisa dirujuk ke beberapa rumah sakit. Tujuannya agar rumah sakit tidak kewalahan melayani para korban bencana. Bila terlalu banyak pasien, kualitas pelayanan dikhawatirkan akan menurun sehingga malah merugikan pasien.

Sebelum bencana

Dalam menangani bencana dan situasi kegawatdaruratan lainnya, rumah sakit harus disiapkan sejak sebelum ada bencana. ”Yang harus disiapkan antara lain mekanisme penanganan pasien, bagaimana menggerakkan para dokter dan perawat, sistem logistik obat-obatan dan keamanan,” ujarnya.

Rumah sakit harus siap menghadapi lonjakan jumlah pasien melebihi kapasitas yang ada. Sebagai contoh, bila rumah sakit yang berkapasitas 200 tempat tidur harus melayani 250 pasien, rumah sakit bersangkutan bisa menambah kapasitas dengan memanfaatkan ruang aula. Ruang darurat itu harus dilengkapi tempat mengganti infus dan ketersediaan obat-obatan.

Untuk mengantisipasi bencana, saat ini Persi bekerja sama dengan Ikatan Ahli Bedah Indonesia dan Departemen Kesehatan tengah mengadakan pelatihan manajemen penanggulangan bencana di berbagai daerah. ”Kami berkeliling ke semua daerah. Tentunya ini butuh waktu hingga semua rumah sakit punya pola sama,” kata Adib.

Selain itu, Departemen Kesehatan kini tengah menyusun buku panduan mengenai kesiapsiagaan rumah sakit-rumah sakit di semua provinsi dalam menghadapi bencana. Dengan adanya panduan itu, pola penanganan bencana yang dilakukan tiap rumah sakit diharapkan sesuai standar nasional. (EVY/KPS)


Selengkapnya.....