Tampilkan postingan dengan label Info Organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Organisasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2011

Muhammadiyah Kembangkan 1000 Taman Baca untuk Masyarakat


Muhammadiyah akan mengembangkan 1000 taman baca ( Bustanul Qutub) bagi warga masyarakat. Pengembangan 1000 pustaka di seluruh Indonesia itu akan dilakukan melalui Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhamamdiyah di seluruh Indonesia. Dengan 1000 taman baca (pustaka) itu diharapkan kontribusi Muhammadiyah terhadap upaya pencerdasan anak bangsa akan lebih konkrit.

Demikian dijelaskan Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Muhamamdiyah Sumatra Utara, Syaiful Hadi JL, dari Joqjakarta. Majelis Pustaka dan Informasi menggelar rapat kerja nasional di Universitas Ahmad Dahlan, Joqjakarta. Tim MPI Sumatera Utara diwakili oleh Syaiful Hadi J.L (ketua), Eko Purwanto (Sekretaris) Adrivan Diwirsyah (Bendahara).

Rapat Kerja nasional Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah dibuka oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. DR. HM Din Syamsudin, MA. Ketua Umum PP Muhammadiyah berharap agar rakernas menghasilkan program-program yang bisa diakses oleh masyarakat dalam rangka mengembangkan dakwah Islam dan menyosialisasikan program Muhammadiyah. Apalagi dalam perkembangan teknologi informasi dimana perubahan terjadi sangat cepat. “ Masyarakat membutuhkan informasi yang bisa mencerahkan,” tegas Din.



Muhammadiyah akan mengembangkan 1000 taman baca ( Bustanul Qutub) bagi warga masyarakat. Pengembangan 1000 pustaka di seluruh Indonesia itu akan dilakukan melalui Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhamamdiyah di seluruh Indonesia. Dengan 1000 taman baca (pustaka) itu diharapkan kontribusi Muhammadiyah terhadap upaya pencerdasan anak bangsa akan lebih konkrit.

Demikian dijelaskan Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Muhamamdiyah Sumatra Utara, Syaiful Hadi JL, dari Joqjakarta. Majelis Pustaka dan Informasi menggelar rapat kerja nasional di Universitas Ahmad Dahlan, Joqjakarta. Tim MPI Sumatera Utara diwakili oleh Syaiful Hadi J.L (ketua), Eko Purwanto (Sekretaris) Adrivan Diwirsyah (Bendahara).

Rapat Kerja nasional Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah dibuka oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. DR. HM Din Syamsudin, MA. Ketua Umum PP Muhammadiyah berharap agar rakernas menghasilkan program-program yang bisa diakses oleh masyarakat dalam rangka mengembangkan dakwah Islam dan menyosialisasikan program Muhammadiyah. Apalagi dalam perkembangan teknologi informasi dimana perubahan terjadi sangat cepat. “ Masyarakat membutuhkan informasi yang bisa mencerahkan,” tegas Din.

"Perkembangan teknologi informasi telah banyak mengubah dunia.Apa yang terjadi di Timur Tengah saat, bisa kita saksikan saat ini juga di negara kita", ujar Din Syamsudin mencontohkan."Sehingga kemajuan Muhammadiyah yang akan datang, akan turut ditentukan dan dibantu oleh kemajuan teknologi informasi", lanjutnya.
Dalam bidang pustaka, Din Syamsudin berharap agar ditumbuhkan gerakan gemar membaca. Kalau dalam bidang pendidikan ada Bustanul Atfhfal, maka dalam bidang gerakan gemar membaca ini, kita perlu mencanangkan Bustanul Qutub (Taman Bacaan).

Sementara itu Drs. H Muchlas, MT Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah mengatakan bahwa salah satu program MPI adalah akan membangun 1000 Taman Bacaan di seluruh Indonesia. 1000 Taman Bacaan ini akan berbasis di cabang dan ranting Muhammadiyah."Insya Allah dalam waktu dekat ini, kita akan melaunching beberapa taman pustaka, di beberapa wilayah sebagai pilot proyek", jelas Muchlas.

Khusus untuk pengembangan taman baca ( pustaka) ini, Majelis Pustaka dan Informasi Muhamamdiyah Sumut bertekad untuk segera mengembangkan 100 pustaka di Simatera Utara. 100 pustaka itu meliputi Pustaka Masjid, Pustaka Amal Usaha ( Perguruan Tinggi dan Sekolah), Pustaka Organisasi dan Pustaka Mandiri.

Rakernas yang akan berlangsung sampai tanggal 3 Juli 2011 ini, dihadiri oleh MPI tingkat wilayah se-Indonesia, Majelis dan Lembaga PP Muhammadiyah, Ortom tingkat Pusat dan beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Hadir dalam acara pembukaan Rakernas ini antara lain; Prof. DR. H Dadang Kahmad, Ketua PP Muhammadiyah, Hj.Siti Hadiroh Ahmad dari PP Aisyiyah, dan Wakil Rektor I UAD DR Ir Dwi Sulisworo, MT. ***


Selengkapnya.....

Selasa, 28 Juni 2011

AISYIYAH SUMATERA UTARA FOKUS TINGKATKAN KUALITAS KESEHATAN MASYARAKAT



















Medan, 28 Juni 2011 – Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Utara melalui Majelis Kesehatan kini memiliki berbagai program yang fokus pada upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Demikian disampaikan Ketua Majelis Kesehatan PW Aisyiyah Sumatera Utara Yuniar R. Yoga dan Sekretaris Dra. Azwinar Apt kepada wartawan di Medan, Selasa (28/6).

Untuk kegiatan itu Aisyiyah selain akan melakukan sosialisasi berbagai tip’s kesehatan kepada warga Aisyiyah juga akan melakukan kegiatan yang sama kepada amsyarakat luas lewat kegiatan kampanye kesehatan dan bakti sosial kesehatan.

Untuk kegiatan itu, PW Aisyiyah Majelis Kesehatan telah mulai melakukan inisiasi kepada warga di Kabupaten Langka, Minggu (26/6) lalu. Dihadapan ratusan warga Aisyiyah dari 8 cabang di telah disosialisasik tip’s menyusui dini dan ASI ekslusif oleh tim kesehatan Aisyiyah, Dr.Dwi Mayaheti Nasution. Karena masih banyak warga yang tidak paham manfaat sesungguhnya dari pemberian kepada kepada bayi. “ Kami juga memtar video agar warga lebih mudah untuk paham,” kata Yuniar. Kepada warga juga sosialisasikan makanan yang sehat bagi ibu menyusui untuk memperbanyak proten dalam makanan.


Warga Aisyiyah yang hadir berasal dari Cabang Secanggang, Cabang Selesai, Cabang Bahorok, Cabang Padang Tualang, Cabang Stabat, Cabang Tanjung Pura, Cabang Brandan, Cabang Besitang.

Kampanye tentang Asi Ekslusif juga disampaikan Aisyiyah melalui radio M-UMSU. Di radio ini materi juga disampaikan oleh Dr.Dwi Mayaheti Nst yang juga adalah dosen pada Fakultas Kedokteran UMSU.

HARI TB

Program kesehatan Aisyiyah yang menjadi fokus adalah upaya mengentaskan TB yang penderitanya masih cukup banyak. Diharapkan Pimpinan Aisyiyah Sumatera Utara yang berasal dari berbagai majelis, Majelis Kesehatan melakukan sosialisasi terhadap upaya pengentasan penderita TB, Sabtu (25/6) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Sumatera Utara di Medan.

“ Diharapkan semua pimpinan Aisyiyah menjadi kader TB sehingga mereka seharusnyalah paham dan mengerti apa TB dan paham pula untuk memberikan solusinya,” jelas Yuniar. Kegiatan sosialisasi diinternal Aisyiyah kali ini diberikan oleh Dr.Sri Arbaningsih Sp P. Dia adalah dosen FK UMSU juga dokter praktek di RSUM.

Juga dijelaskan, dalam rangka Milad Aisyiyah ke-97, PW Aisyiyah Majelis Kesehatan bersama Majelis Diknas mengadakan “lomba sekolah sehat” di tujuh daerah di Sumatera Utara, masing-masing Deli Sedang, Serdang Bedagai, Tebingtinggi, Binjai, Langkat, Medan dan Karo. Puncak acara yang akan berlangsung di Kampung Dadap [pada 27 Juli 2011 nanti, PW Aisyiyah juga akan menggelar kegiatan bakti social kesehatan.

Selengkapnya.....

Sabtu, 25 Juni 2011

Pengurus Wilayah Riau Pemuda Muhammadiyah resmi dilantik


PEKANBARU - Pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah periode 2010_2014 dilantik. Anggota Fraksi A DPRD Riau, Jabarullah didapuk untuk mengnahkodai organisasi Pemuda Muhammadiyah hingga 2014 nanti. Pelantikan yang dilakukan di Hotel Pangeran Pekanbaru tersebut dihadiri oleh tokoh nasional yang juga mantan ketua MPR-RI di masa pemerintahan presiden Abdurachman Wahid, Amien Rais.

Ketua PWPM, Jabarullah mengatakan bahwa organisasi Pemuda Muhammadiyah merupakan organisasi temmpat pembelajaran pemuda-pemuda Muhammadiyah di segala bidang. Termasuk membentuk karakter pemuda yang diharapkan akan dapat menjadi pemimpin di masa mendatang.


"Langkah strategis organisasi Pemuda Muhammadiyah adalah menyiapkan kader-kader pemimpin di masa mendatang. Organisasi juga menjadi tempat 'menggodog' para pemuda khususnya anggota Pemuda Muhammadiyah memiliki karakter dan jiwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai agamis. Sehingga ke depan akan menjadi pemimpin yang berakhlak baik," terangnya.

Sementara itu, Amein Rais mengatakan bahwa masanya Megawati, SBY, Amin Rais dan lainnya sudah lewat. Untuk itu, pemuda-pemuda harus menyiapkan diri untuk menggantikannya menjadi pemimpin bangsa di masa mendatang. Salah satunya adalah dengan berorganisasi di Pemuda Muhammadiyah.

"Pemuda Muhammadiyah akan mendidik dan menyiapkan para pemuda yang tergabung dalam Pemuda Muhammadiyah untuk menjadi pemimpin bangsa di masa mendatang menggantikan pemimpin saat ini yang sudah masuk ke masa 'sunset'," selorohnya.***(H-we)



Selengkapnya.....

Jumat, 24 Juni 2011

MENGENANG “PEMBESAR” MUHAMMADIYAH HR MOHAMMAD SAID























Oleh: Shohibul Anshor Siregar

”.....sebaiknya tangisilah diri sendiri karena tidak mempunyai jasa sebesar almarhum HR Mohammad Said” (HAMKA, 1939)


Tanggal 25 Nopember 1927. Pada sebuah tempat di Jalan Nagapatam Nomor 44 Kampung Keling, Medan. Biasanya di sana berlangsung pengajian rutin. Tetapi kali ini berubah agenda menjadi rapat pembentukan organisasi Muhammadiyah. Pemimpin pertemuan bernama Hr Mohammad Said. Ia seorang cendekiawan dan aktivis politik (Sarikat Islam Pematangsiantar). Hr Mohammad Said juga dikenal sebagai pemimpin sebuah surat kabar (Pewarta Deli). Sebelum maupun sesudah pendirian Muhammadiyah Sumatera Timur, beliau sudah kerap mewartakan organisasi ini kepada pembacanya.

Jika terdapat jama’ah yang berbilang, tentulah pengurus Muhammadiyah yang diputuskan saat itu tak cuma belasan orang: Hr Mohammad Said (Ketua), Djuin St Penghulu (Wakil), Maspono (Sekreraris), Pangulu Manan (Wakil), dan seorang advisor bernama Tandjung Moehammad Arief . Selain itu kepengurusan dilengkapi 5 anggota: Kongo St Maradjo, Hasan St Batuah, Awan St Saripado, H Su’ip, dan Sutan Berahim.

Tempat pertemuan itu kini sudah berubah nama menjadi Jalan Kediri. Setelah berlalu 83 tahun, di antara pembaca mungkin ada yang berfikir: ”tidakkah diperlukan merenovasi gedung pertemuan itu menjadi monumen penting dengan peruntukan kegiatan dakwah?” Patutlah direkomendasikan untuk Musywil XI mendatang.



Mengembangkan Sayap pada Masa Sulit. HR Mohammad Said memimpin pengembangan Muhammadiyah dengan titik awal di sebuah kota terpenting (Medan). Setelah itu tercatatlah pertumbuhan cukup menggembirakan di berbagai kota dan pelosok lainnya. Dalam tulisan singkat ini hanya akan disebut beberapa tempat dan waktu. Karena keterbatasan tidak mungkin menguraikan keseluruhan.

Di Sumatera Barat telah lebih dahulu berdiri (1925). Diperkirakan beberapa tempat di Tapanuli juga lebih dahulu mengenal Muhammadiyah. Dalam beberapa catatan terpercaya, malah para pendatang dari Sumatera Barat telah memperkenalkan Muhammadiyah sambil menjalankan aktivitasnya berdagang atau kegiatan intelektual lainnya, bahkan sebelum tahun 1927 di daerah-daerah yang mereka datangi, termasuk wilayah-wilayah sekitar perkebunan di Sumatera Timur.

Dalam Seminar Sejarah Muhammadiyah Sumatera Utara (1990) Ketua PDM Tapanuli Selatan almarhum H Ruhum Harahap menuturkan Muhammadiyah di daerahnya merupakan pengembangan langsung dari Sumatera Barat, dan secara resmi berdiri di Padangsidimpuan tahun 1930, disusul kemudian di Sipirok. Dari data yang dihimpun HM Nur Rizali ditemukan beberapa catatan sejarah perkembangan dengan pola tertentu. Setelah berdiri di Sumatera Timur (1927) maka pada tahun yang sama berdiri pula di Tebing Tinggi dan Kisaran.

Rupanya jarak antara satu dan lain tempat tidak selalu memudahkan pengembangan. Ini terlihat dari fakta bahwa meskipun Medan dengan Binjai atau Belawan begitu dekat, tetapi justru di kedua kota itu Muhammadiyah barulah berdiri resmi beberapa tahun kemudian. Tercatat bahwa di Binjai Muhammadiyah berdiri tahun 1930, bersamaan tahun dengan pendirian di Pematangsiantar dan Tanjungbalai. Sedangkan di kota Belawan pada tahun 1933, bersamaan tahun dengan pendirian di kota Rantauprapat dan Gunungsitoli (Pulau Nias).

Tanah Karo sudah lama diangap penting bagi para missionaris. Pada saat Muhammadiyah berdiri di sana (1936), beberapa gereja sudah berdiri sebagai hasil pekerjaan para missionaris itu. Begitu pun di Kota Berandan baru berdiri tahun 1939, sedangkan pada tahun itu di tempat terpencil di pedalaman Tapanuli Utara seperti Sirihit-rihit, Aekbotik, Janji Angkola dan Sibulan-bulan sudah berdiri Madrasah.

Peserta Seminar Sejarah Muhammadiyah (1990) sepakat akan pentingnya penulisan sejarah Muhammadiyah Sumatera Utara secara serius. HM Nur Rizali telah memulainya dengan penulisan karya rintisan berjudul ”Sejarah Hidup Tokoh-Tokoh Muhammadiyah Sumatera Utara dan Perkembangan Cabang-cabangnya”, yang diterbitkan DPD IMM (2000). Penulisan sejarah ini pun patut direkomendasikan kepada Musywil XI.

Tokoh Luar Biasa. Dalam kondisi kekinian, kira-kira beranikah kita melamar Muktamar Muhammadiyah berikut di Kota Medan atau di kota lain di Sumatera Utara? Berani, dan kita pasti mampu. Itulah mungkin jawaban optimistik dari sebagian pembaca. Tetapi, bayangkanlah, saat baru berusia 12 tahun, begitu berani menjadi tuan rumah Muktamar. Bayangkan lagi, saat itu Indonesia belum merdeka. Sebenarnya Muktamar ke 28 tahun 1939 di Medan adalah hasil pinangan ketiga setelah pinangan resmi yang diajukan pada Muktamar 25 (Betawi), Muktamar 26 (Yogjakarta) dan Muktamar ke 27 (Malang). Jumlah pengunjung yang tak kurang dari 10.000 (sepuluh ribu) orang pada Muktamar ke 28 ini cukup melukiskan besarnya perhelatan tersebut. HR Mohammad Said memang orang besar.

Semua data ini dicatat pada Majalah Soeara Moehammadijah Nomor 4 Tahun 1939. Ngomong-ngomong, berapa banyak warga Muhammadiyah Sumatera Utara yang berlangganan Majalah Suara Muhammadiyah sampai kini? Mungkin, ini juga perlu menjadi rekomendasi untuk Musywil XI Januari mendatang.

HR Mohammad Said wafat tanggal 22 Desember 1939. HAMKA menceritakan perihal wafatnya tokoh besar ini dengan rinci. Tentang jumlah pelayat yang demikian besar, tentang pemberitaan media yang melukiskan perasaan kehilangan. Tetapi ada yang amat menarik, bahwa saat menyaksikan deraian air mata jama’ah yang menangisi kepergian almarhum HR Mohammad Said, dengan amat tegas HAMKA berkata:

”Apa yang kita tangiskan tuan-tuan? Siapa yang kita tangisi? Padahal almarhum yang kita cintai ini wafat meninggalkan jasa yang amat besar. Kalau hendak menangis juga, sebaiknya tangisilah diri sendiri karena tidak mempunyai jasa sebesar almarhum HR Mohammad Said”.


Selengkapnya.....

Selasa, 21 Juni 2011

PAWAI TA’ARUF DAN BAZAR JELANG MUSYCAB MUHAMMADIYAH BATAN-SELAMAT
















Medan, 19/6 – Pawai Ta’aruf dan Bazar digelar Pimpinan Cabang Muhamamdiyah dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Bantan Selamat , Minggu (19/6) kemarin. Pawai yang ditandai dengan defile marchingband siswa SD Muhamamdiyah Ranting Jln Mandailing itu juga diikuti ratusan warga Muhammadiyah, Aisyiyah, Pemuda dan NA secabang Bantan Selamat. Ikut serta dalam pawai itu, Ketua Cabang Mas’ud Hutasuhut.

Gelaran Pawai ta’aruf dan bazaar digelar untuk menyemarahkkan Musyawarah Cabang Muhammadiyah Bantan Selamat yang akan berlangsung pada Minggu (26/6) mendatang. Musyda adalah perhelatan puncak sekali lima tahun di cabang. Kegiatan Musyda digelar selesai Muktamar kemudian Musyawarah Wilayah, Musyawarah Daerah. Diaharapkan pada Musyca ini selain tersusun program kerja Cabang untuk periode 2011-2015 juga akan terpilih pengurus baru selama lima tahun mendatang.


Medan, 19/6 – Pawai Ta’aruf dan Bazar digelar Pimpinan Cabang Muhamamdiyah dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Bantan Selamat , Minggu (19/6) kemarin. Pawai yang ditandai dengan defile marchingband siswa SD Muhamamdiyah Ranting Jln Mandailing itu juga diikuti ratusan warga Muhammadiyah, Aisyiyah, Pemuda dan NA secabang Bantan Selamat. Ikut serta dalam pawai itu, Ketua Cabang Mas’ud Hutasuhut.

Gelaran Pawai ta’aruf dan bazaar digelar untuk menyemarahkkan Musyawarah Cabang Muhammadiyah Bantan Selamat yang akan berlangsung pada Minggu (26/6) mendatang. Musyda adalah perhelatan puncak sekali lima tahun di cabang. Kegiatan Musyda digelar selesai Muktamar kemudian Musyawarah Wilayah, Musyawarah Daerah. Diaharapkan pada Musyca ini selain tersusun program kerja Cabang untuk periode 2011-2015 juga akan terpilih pengurus baru selama lima tahun mendatang.

Sekretarius Cabang Muhammadiyah Bantan Selamat M. Syafei Lubis SH, MKn mengatakan, sebelum dilaksanakannya Musycab lebih dahulu diawali dengan kegiatan Musyarah Pimpinan Cabang, yang akan berlangsung, Rabu (22/6) di Gedung Muhammadiyah Ranting Jln Mandaling. Pada Musypimcab ini ditetapkan pengajuan calon pimpinan cabang yang akan dipilih pada musycab.

Pawai ta’aruf yang dilakukan berkeliling di beberapa lokasi strategis di kawasan Bantan Selamat itu berlangsung meriah karena panitia menyediakan luckydraw kepada peserta dan kemudian diramaikan dengan bazaar oleh komunitas Aisyiyah Bantan Selamat *** Yuniar R. Yoga


Selengkapnya.....

Selasa, 14 Juni 2011

Aisyiyah Bantu Program Pemkab Penajam Paser Utara


PENAJAM- Personal Implementing Coordinator (PIC) Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menggelar workshop Wit District Stakeholder selama dua hari yang berakhir kemarin di Hotel Kalimantan, Penajam.

Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah PPU Ema Wahyuni Agoes mengatakan, kegiatan ini membahas tentang penanggulangan penyakit malaria di Kabupaten PPU. “Kami ingin membantu program pemkab dalam pemberantasan penyakit malaria.

Karena beberapa lokasi masuk dalam endemis penyakit tersebut seperti Desa Bukit Subur, Kecamatan Penajam dan Kelurahan Pemaluan, Kecamatan Sepaku. Dua daerah itu menjadi target PIC Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) untuk dihijaukan atau desa bebas malaria,” papar Ema Wahyuni.

Dijelaskannya, kegiatan dimulai dengan pengumpulan data sekunder tentang daerah endemik dari Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Pemprov Kaltim dan kabupaten di wilayah Kaltim dan Sulawesi. Dari data itu diperoleh Kabupaten PPU dikategorikan daerah merah atau klasifikasi kabupaten dengan tingkat endemis tinggi.

Karena itu Pimpinan Daerah Aisyiyah PPU merekrut kader yang terdiri puskesmas dan perangkat desa se kabupaten untuk membentuk Pos Malaria Desa (Polmas Desa) yang difungsikan sebagai tempat melapor jika ditemukan masyarakat yang terserang penyakit malaria.
”Dari hasil itu kemudian menjadi bahan pertimbangan Global Fund (GF) untuk membebaskan masyarakat yang memiliki daerah endemis. Jadi, peserta sepakat tugas dan peranan kader melakukan kerjasama dalam dalam penanggulangan kejadian luar biasa (KLB),” pungkasnya.(*/pam)
Selengkapnya.....

Senin, 13 Juni 2011

Muhammadiyah Dan Gerakan Pembaruan


Oleh : M Hilaly Basya

Tanggal 3-8 Juli 2010, Muhammadiyah akan melaksanakan muktamar ke-46 di Yogyakarta. Perhelatan ini disebut Muktamar Satu Abad Muhammadiyah.

Satu abad merupakan momen penting mengkaji ulang perjalanan dan perjuangan Muhammadiyah. Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, di depan 200 tokoh agama di Roma (17/06/2009), mengisyaratkan perlunya keterlibatan agamawan untuk menyuarakan dampak pembangunan yang tidak manusiawi. Menurutnya, sejauh ini pembangunan yang dilakukan negara-negara maju dinilai lebih berorientasi pada keuntungan kelas sosial tertentu dan cenderung memarginalisasi yang lainnya.

Dalam konteks nasional, pidato ini memiliki relevansi dengan kondisi pembangunan di Indonesia yang oleh beberapa pengamat dinilai cenderung mendiskriminasi kelas sosial tertentu. Bagaimana seharusnya tokoh-tokoh Muhammadiyah menyikapi kecenderungan ini?

Secara umum, peran agamawan—terutama tokoh-tokoh Islam—dalam kehidupan sosial di Indonesia cukup menggembirakan. Mereka berhasil melakukan reinterpretasi teks-teks agama dalam upaya modernisasi. Perubahan sosial yang terjadi di Indonesia sebagian besar tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan mereka. Kyai Haji Ahmad Dahlan, tokoh dan pendiri Muhammadiyah, misalnya, adalah salah satu agamawan yang memberikan teladan bagaimana menerjemahkan ajaran Islam dalam konteks pendidikan modern. Berdirinya ribuan lembaga pendidikan berbasis agama, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi modern, di kemudian hari meski tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh Dahlan, menggambarkan adanya kesinambungan gerakan modernisasi pendidikan tersebut.

Kecenderungan modernisasi berbasis agama ini berlanjut dalam proses demokratisasi di Indonesia. Peran ini juga melibatkan tokoh Islam berbagai organisasi, seperti Himpunan Mahasiswa Islam, Persatuan Islam, Muhammadiyah, dan Nahdhatul Ulama. Bahkan, Indonesia dikategorikan negara berpenduduk Muslim terbesar yang berhasil membangun demokrasi. Kategori ini melampaui negara Muslim lain. Sejumlah penelitian menunjukkan, peran agamawan sangat signifikan dalam membangun demokrasi di Indonesia.

Melihat arus besar modernisasi yang melibatkan tokoh agama disimpulkan peran agamawan cenderung pada cultural struggle. Cultural struggle didefinisikan sebagai upaya memperjuangkan nilai-nilai modernitas, seperti demokrasi, pluralisme, toleransi, HAM, dan kebebasan berekspresi. Dalam batas tertentu, sebagian besar agamawan abai menyikapi ketidakadilan sosial akibat modernisasi.

Saya setuju dengan analisis Moeslim Abdurrahman, cendekiawan Muhammadiyah, bahwa reinterpretasi teks dan semangat pembaruan seharusnya dilandasi pembacaan kritis konteks sosial saat ini. Dalam refleksi tersebut, penafsir diajak merenungkan konteks sosial seperti apa yang sedang dihadapi. Tanpa mengidentifikasi konstruksi sosial di mana teks tersebut ingin dicari makna barunya, penafsiran ini akan kehilangan makna pembebasannya. Dengan begitu, tafsir teks yang responsif terhadap problem sosial yang krusial dapat ditemukan. Penggabungan hermeneutika sosial dan hermeneutika teks adalah prasyarat penting membangun tafsir yang peka terhadap dampak pembangunan.

Hermeneutika sosial

Sejauh ini tokoh-tokoh Muhammadiyah kurang dalam melakukan pembacaan konteks sosial. Ini menyebabkan organisasi Muhammadiyah kurang cekatan dalam memproduksi tafsir dan fatwa yang terkait dengan problem sosial semacam kemiskinan, penggusuran, dan pendidikan mahal. Alih-alih menghasilkan fatwa yang kritis terhadap dampak modernisasi dan kapitalisasi, Majelis Tarjih Muhammadiyah lebih berkutat dengan persoalan-persoalan ibadah dan TBC (takhayul, bidah, dan churafat).

Tanggung jawab para agamawan terhadap kehidupan publik merupakan bagian penting keberagamaan dan kesalehan. Karena itu, kualitas keagamaan seseorang sepatutnya diukur dari sejauh mana kepeduliannya terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Seorang Muslim yang tidak peduli dengan problem sosial di lingkungannya dinyatakan oleh Al Quran sebagai orang yang melalaikan salat, bahkan pendusta agama (lihat surat Al-Ma’un). Sungguh pun keyakinan agama itu bersifat privat, ekspresi keberagamaan itu sejatinya memancar ke masyarakat.

Bukan dalam bentuk pendisiplinan, melainkan penegakan nilai kemanusiaan dan keadilan yang dibutuhkan bagi tegaknya masyarakat yang beradab. Ajaran amr ma’ruf nahy munkar (menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran) yang selama ini menjadi doktrin dakwah para ulama menjadi kunci hermeneutika yang penting dalam gerakan agamawan dalam mengkritik ketidakadilan sosial. Kemungkaran sosial dalam konteks masyarakat kontemporer banyak berkaitan dengan dehumanisasi, seperti penjualan manusia, pengabaian hak pekerja, dan keberpihakan negara terhadap pemodal ketimbang kepentingan masyarakat luas. Keberpihakan terhadap masyarakat marginal meniscayakan kepedulian tokoh agama dalam membangun tafsir kritis terhadap dampak modernisasi dan pembangunan.

Dengan demikian, ajakan Din Syamsuddin untuk merevitalisasi gerakan pembaruan Muhammadiyah merupakan poin penting dalam mengkaji ulang peran sosial yang akan dimainkan Muhammadiyah pada masa mendatang. Mudah-mudahan hal ini akan menjadi bahan renungan bagi para muktamirin nanti.

M Hilaly Basya Pengajar Studi Islam di Universitas Muhammadiyah Jakarta


Selengkapnya.....

Jumat, 10 Juni 2011

Gairahkan Tradisi Kepustakaan dan Teknologi Informasi, MPI Gelar Rakernas


Yogyakarta- Rumusan hasil Mukatamar satu abad Muhammadiyah 2010 terkait visi pengembangan program bidang pustaka dan informasi, yaitu terbangunnya budaya pustaka dan informasi sebagai organisasi Islam modern di tengah dinamika perkembangan masyarakat yang kompleks, untuk mewujudkannya, Majelis Pustaka Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah siap menggelar Rakernas yang akan di gelar di Yogyakarta.

Demikian disampaikan Iwan Setiawan, wakil sekretaris MPI PP Muhammadiyah saat ditemui di gedung Muhammadiyah jl. KHA Dahlan No.103, Yogyakarta, Kamis (09/06/2011). Rapat Kerja Nasional MPI menurut Iwan Setiawan akan dilaksanakan pada tanggal 1 hingga 3 Juli 2011 di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. “Untuk mewujudkan visi sebagaimana tersebut di atas perlu menyusun langkah strategis melalui konsolidasi organisasi dan program.

Lebih dari itu diperlukan kesediaan secara bersama membangun kesepahaman dan berbagi pengalaman antar eleman Persyarikatan guna menggerakan sumber daya MPI hingga lapisan paling bawah,” jelasnya. Lebih lanjut menurut Iwan Setiawan, melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MPI Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini dapat dijadikan tahapan penting dalam membangun sinergi jaringan Persyarikatan dangan Amal Usaha Muhammadiyah maupun pihak lain.

Tema Rakernas MPI PP Muhammadiyah menurut Iwan Setiawan adalah Menggairahkan Tradisi Kepustakaan dan Optimalisasi Teknologi Informasi sebagai Peningkatan Daya Saing Persyarikata.Rencananya dalam Rakernas nanti, akan dibagi menjadi 4 komisi dalam perumusannya yang terdiri dari komisi Pustaka, Komisi Pendayagunaan Teknologi Informasi, Komisi Kerjasama dan Publikasi, serta Komisi Pengembangan Media Center.
Selengkapnya.....

Selasa, 07 Juni 2011

KHITANAN MASSAL 3000 ANAK, AKAN PECAHKAN REKOR MURI


MEDAN- Harian Sumut Pos bekerja sama dengan Laziswa Muhammadiyah Sumut, PDM Kota Medan, Fakultas Hukum UMSU, Fakultas Kedokteran UMSU, RSU Muhammadiyah dan Dinas Kesehatan Kota Medan akan menggelar khitanan massal 3.000 anak di Medan pada 29 Juni mendatang. Khitan massal ini akan memecahkan rekor nasional yang sebelumnya 2.700 anak dikhitan di Wonosobo. Panitia juga akan melaksanakan tabligh akbar Isra Miraj bersama 3.000 anak peserta khitanan massal di Medan tersebut.

“Pelaksanaan khitanan massal ini sengaja kita gelar bertepatan dengan perayaan Israk Miraj,’’ kata Koordinator Pelaksana Ottoman didampingi Dekan Fakultas Hukum UMSU Farid Wajedi, Manager Event Organizer (EO) Sumut Pos Darwin Purba, Senin (6/6).

Ottoman mengatakan, lokasi khitanan massal akan digeber serentak pada enam lokasi di Medan. “Lokasinya di SD Muhammadiyah Medan Kota, Komplek Perumahan Muhammadiyah Jalan Abdul Hakim Tanjung Sari, Jalan Pahlawan Nomor 67 Medan Timur, Teladan I Jalan SM Raja Km 5,5 Medan, Jalan Mustafa Nomor 1 Kampung Dadap dan Islamic Centre Jalan Medan-Belawan Km 22 Medan,’’ urainya.

Pendaftaran peserta khitanan massal pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) ini dilakukan di 17 lokasi. “Posko pendaftaran di Jalan SM Raja Nomor 136 Medan, PDM Medan, Fakultas Hukum UMSU, SD Muhammadiyah 13 Jalan Karantina Nomor 80 Medan, Islamic Centre Belawan, Jalan Abdul Hakim Tanjung Sari.

Lokasi pendaftaran lain, lanjut dia, di Harian Sumut Pos Jalan SM Raja Km 8,5 Nomor 134 Amplas, di Teladan I, SD Muhammadiyah Medan Kota, Muhammadiyah Jalan Kapten Muslim Sei Sikambing C, Jalan Sei Mencirim Medan, Jalan Pahlawan Nomor 67 Medan Timur.

Panitia juga menyediakan lokasi pendaftaran di rumah Basru Jalan Menel Anwar Lingkungan IX Kelurahan Terjun, Lorong Ujung Tanjung Morawa Bagan Deli, Jalan Tuar Raya Griya Martubung, Muhammadiyah Kedai Durian dan Muhammadiyah Babura.

“Pendaftaran peserta gratis dan terbuka untuk semua golongan dan lapisan masyarakat di Kota Medan sekitarnya. Informasi pendaftaran dapat ditanyakan langsung pada nomor telepon 085220440938 (Zakirman), 085762057772 (Rahadian) dan 081376658902 (Deddi Purba),’’ katanya.

Ottoman menyebutkan, kegiatan ini juga mendapat dukungan dan antusias dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Medan untuk melaksanakan khitanan massal. ‘’Ini merupakan pengadian Muhammadiyah pada masyarakat. Agenda kegiatan ini kiranya dapat menjadi rekor Muri dengan peserta terbanyak dalam satu kota penyelenggaraan,’’ terang dia.

Ia juga berharap dukungan semua pihak termasuk warga, sekolah dan instansi terkait dalam pelaksanaan program khitanan massal yang dapat menjadi kebanggaan warga Medan dan torehan sejarah di kancah nasional.(mag-9)


Selengkapnya.....

Senin, 06 Juni 2011

Bambang Sudibyo : Perlu Taubat Nasional untuk Perbaiki Bangsa


Jakarta - Ketua PP Muhammadiyah Bambang Sudibyo mengatakan, Indonesia sebenarnya berpeluang menjadi negara besar. Namun, hal itu terhambat patologi kronis bahkan sudah stadium 4 di dalamnya, yakni korupsi. Untuk mengatasinya, perlu tobat nasional.

“Kunci pemberantasannya adalah penegakan hukum yang tegas,” kata mantan Menteri Pendidikan Nasional itu di Gedung PP Muhammadiyah, di Jakarta Kamis (2/6).

Untuk penegakan hukum yang tegas, kata Bambang, perlu adanya kepemimpinan nasional dengan visi yang sangat baik. Dan bahkan kalau perlu seluruh pemimpin melakukan pertobatan nasional seperti apa yang dilakukan para nabi-nabi dimasa lalu, demi menyelamatkan peradaban.

"Kondisi negara tercinta memang seperti itu, dibutuhkan kepemimpinan hukum, bermoral, jujur, dan mengajak kembali ke kebenaran dan kejujuran. Kalau perlu melakukan pertobatan."







(rif)
Selengkapnya.....

Minggu, 05 Juni 2011

PP Aisyiyah Berencana Kembangkan Woman Crisis Centre


JAKARTA--PP Aisyiyah berencana mengembangkan Woman Crisis Centre dan Pusat Konsultasi Keluarga. Kedua program itu merupakan salah satu hasil Konsolidasi Pimpinan dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PP Aisyiyah yang berlangsung di Jakarta sejak Kamis (2/6) dan ditutup oleh Ketua PP Aisyiyah Masyitoh, Sabtu (4/6).

“Program-program itu bersifat gerakan,” terang Masyitoh. Menurutnya, dakwah dalam koridor amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi misi Aisyiyah tidak cukup dengan dakwah billisan. Dakwah yang lebih membawa dampak, katanya, adalah dakwah bil haal yang hanya bisa direalisasikan melalui gerakan.

Masyitoh menegaskan, kegiatan yang diikuti perwakilan 33 provinsi tersebut bertujuan merevitalisasi dan mengoptimalkan program-program yang telah ada. Serta menggagas program-program baru yang dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan aktual di masyarakat, baik di tingkat daerah maupun nasional. “Semua dalam koridor dakwah,” katanya.

Dalam bidang hukum misalnya, Majelis Hukum dan HAM PP Aisyiyah berkeinginan membuat woman crisis center. Sedangkan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) menjadikan lembaga konsultasi keluarga sebagai salah satu program unggulannya.

Selain itu, kedepannya Dikdasmen juga akan mengoptimalkan pendidikan non sekolah melalui pelatihan life skill bagi anak-anak yang putus sekolah. Wakil Ketua Majelis Dikdasmen Fitri Wilis mengatakan, keterampilan itu sebagai bekal untuk merajut kehidupan yang lebih baik. “Jika mau, mereka juga bisa sekolah dari hasil keterampilannya itu,” ujarnya.

Dalam program Pendidikan Satu Atap, Aisyiyah juga berharap dapat mengoptimalkan pendidikan SD berkarakter. Pendidikan tersebut, kata Fitri, menitikberatkan pembentukan sikap dan kepribadian siswa.

Ia menambahkan, sebelum program-program tersebut ditularkan ke tingkat cabang dan ranting, hasil konsolidasi di tingkat pusat akan dikonsolidasikan lagi di tingkat wilayah. “Tahap selanjutnya adalah rakerwil (rapat kerja wilayah),” pungkasnya.*** rep.





Selengkapnya.....

'Aisyiyah Membangun Karakter Bangsa dan Mencetak Masyarakat Madani



Jakarta -- Memasuki usianya yang ke-97 tahun, Pimpinan Pusat Aisyiyah menyelenggarakan Konsolidasi Pimpinan dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis-Lembaga Aisyiyah (2-4/6). Pembukaan kegiatan dilaksanakan di Wisma Maraka Universitas Indonesia. Dalam kesempatan ini, hadir Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin serta Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar.

Menurut Ketua Umum PP Asisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, kegiatan ini bertujuan untuk menerapkan hasil Muktamar ke-46 Aisyiyah yang berlangsung di Yogyakarta, pada Juli 2010 silam. "Apa yang telah diputuskan dalam muktamar, maka melalui Konsolidasi dan Rakernas Aisyiyah ini, kami ingin mengaplikasi berbagai kebijakan itu dalam praktik di lapangan," ujar Noordjannah.

Ia menambahkan, tujuan lainnya adalah menyamakan pandangan dan membangun komitmen bersama bagi Aisyiyah dalam gerakan praksis. Hal itu, lanjutnya, untuk menunjang misi dakwah Aisyiyah dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar pada seluruh aspek kehidupan.

Kegiatan rakernas ini diikuti sebanyak 290 Pengurus Wilayah (PW) Aisyiyah se-Indonesia dan mengangkat tema tentang 'Pembangunan Karakter Bangsa untuk Penguatan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Ummat'. Sedangkan
konsolidasi pimpinan diikuti empat dari 11 majelis yang ada di Aisyiyah, yakni Majelis Kesehatan, Kesejahteraan Sosial, Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Majelis Hukum dan HAM. "Sedangkan konsolidasi pimpinan untuk tujuh majelis lainnya, kata Noordjannah, dilaksanakan 20 Mei lalu di Yogyakarta.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, konsolidasi ini hendaknya menekankan revitalisasi tiga dimensi pergerakan Muhammadiyah. Ketiga dimensi itu, katanya, harus didukung dengan penguatan pemberdayaan di berbagai lini meliputi pelayanan sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. "Pemberdayaan harus berkesinambungan dan terarah," ujarnya.

Sementara itu, Menkumham Patrialis Akbar dalam sambutannya menjelaskan, upaya mewujudkan masyarakat madani perlu diawali dari penegakan hukum dan HAM.
Karena itu, kata Patrialis, supremasi hukum adalah sebuah kebutuhan. Kebebasan sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 haruslah kebebasan yang memiliki batas. Di antaranya, ia dibatasi oleh HAM. "Karenanya, jika ada kebebasan HAM, ada kewajiban HAM," katanya.

Sebagai perwujudan dari kewajiban HAM, katanya, setiap perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan berbangsa harus menghargai hak asasi orang lain. Batasan kebebasan lainnya adalah aturan perundang-undangan dan agama.

Dalam kesempatan ini, Patrialis mengajak perempuan Aisyiyah untuk menggalang penegakan hukum dan HAM dalam rangka menegakkan masyarakat madani. Hal itu, menurutnya, dapat direalisasikan dengan bentuk aksi yang mencakup lima butir intisari dari Piagam Madinah. "Itulah teladan dari Rasulullah," katanya.

Butir pertama adalah membangun interaksi secara baik sesama Muslim ataupun dengan non-Muslim. Kedua, saling membantu menghadapi musuh yang tidak lagi berbentuk penjajahan secara fisik. Ketiga, membela masyarakat yang teraniaya. Keempat, saling menasihati di antara sesama, dan butir terakhir adalah menghormati kebebasan beragama sebagaimana terwujud dalam pasal 29 ayat 1 UUD 1945. "Kemerdekaan penduduk untuk memeluk agamanya telah dijamin negara," ujarnya.

Dari situ, Patrialis menggarisbawahi sebuah poin penting bahwa pembatasan HAM dengan nilai-nilai keagamaan adalah perjuangan Muhammadiyah dan juga Aisyiyah. "Itu seratus persen perjuangan Anda," katanya. c15

Aisyiyah Tingkatkan Kualitas Kader
Globalisasi dan modernisasi menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kompetisi individu. Karena itu, para kader Aisyiyah pun harus meningkatkan kualitas.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muham -ma di yah, Din Syamsuddin, saat membuka Konsolidasi Pimpinan dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis dan Lembaga Aisyiyah di Depok, Jawa Barat, Kamis (2/6). “Globalisasi yang berbicara adalah kualitas bukan kuantitas,” ujar dia. Upaya peningkatan tersebut, menurut Din, membutuhkan konsolidasi dan sinergi yang kuat, yang dimulai dari internal organisasi.

Di bidang ekonomi, misalnya, kebangkitan Cina mesti disi kapi serius. Tanpa penyikapan itu, kekuatan ekonomi nasional bisa terancam, termasuk perekonomian umat. “Kedai ekonomi kita bisa runtuh.”

Din mengatakan, konsolidasi tersebut hendaknya menekankan revitalisasi tiga dimensi pergerak -an Muhammadiyah sebagai gerak -an pencerahan (harakat tanwiriyyah). Yakni, pembebasan ke -yakinan umat dari belenggu takhayul, bid’ah, dan khurafat. Dimensi itu, tegas Din, mesti didukung dengan penguatan pemberdayaan di berbagai lini, meli -puti pelayanan sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

Pem -berdayaan perlu dilaksanakan secara berkesinambungan dan terarah.
Ketua Umum PP Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, mengatakan, pemberdayaan ekonomi, lanjut Noordjannah, merupakan komitmen utama Aisyiyah dalam upaya meningkatkan kesejahteran umat. *** rep


Selengkapnya.....

AISYIYAH MEMILIKI BEBERAPA PROGRAM UNGGULAN UNTUK TINGKATKAN KUALITAS KESEHATAN MASYARAKAT


Jakarta – Program TB menjadi salah satu program unggulan ‘Aisyiyah, khususnya unggulan bagi Majelis Kesehatan. Demikian ditegaskan Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Dra Hafni Rochmah SKM, MPH didampingi Bendahara PP Aisyiyah Dra. Hj Noor Rochman ( selaku Bendahara PPA dan PR TB Aisyiyah) pada rapat kerja Majelis Kesehatan di Kampus UI, Depak Jakarta, Jumat (3/6).

Rakernas berlangsung 2-4 Juni 2011 diikuti oleh Pimpinan Wilayah Aisiyiyah dari 33 Provinsi di Indonesia. PWA Sumatera Utara hadir Ketua Dra. Sulhati Syam MA, Yuniar R. Yoga dan Dra. Azwinar Apt (selaku Ketua dan Sekretaris Majelis Kesehatan). Konsolidasi dan Rapat Kerja Majelis Kesehatan kali ini mengambil tema : Konsolidasi Majelis Kesehatan ‘Aisyiyah sebagai Gerakan Praksis Pelayanan dan Pengembangan Kesehatan Ummat Menuju’Aisyiyah Satu Abad.

Ketua Majelis Kesehatan PPA Dra. Hafni Rochmah menjelaskan bahwa pada tahun 2009 Aisyiyah terpilih menjadi koordinator npenanggulangan TB oleh civil society di Indonesia yang didanai oleh Global Fund. Kenapa Global Found memiliih ‘Aisyiyah ? Dra Hafni mengatakan ada 3 hal (1) Aisyiyah adalah organisasi yang memiliki akar rumput cukup banyak, (2) Aisyiyah memiliki SDM yang bisa diandalkan dan (3) Aisyiyah memiliki amal usahan kesehatan. Hafni menjelaskan tafsir QS Al-Maidah 32 ....“Barangsiapa yang memelihara kehidupan seseorang maka dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya”.
Dalam pengelolaan program TB ini Aisyiyah memiliki mitra kerja di 16 Propinsi dan 36 kabupaten diseluruh Indonesia termasuk di Sumatera Utara serta Kabupaten Langkat ( PW Aisyiyah Sumut dan PDA Langkat).

Masih menjelaskan landasan organsiasi dan misi dari majelis kesehatan, Hafni mengatakan adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya perempuan, anak dan bayi dengan berbasis pelayanan kesehatan dan komunitas. Misi itu merujuk pada spirit QS Al-Maun.

Kata Hafni, dalam pengelolaan program penanggulangan TB itu, Majelis Kesehatan memiliki konsep program dengan berusaha meningkatkan program peran serta masyarakat dalam menyuluh, menemukan suspect serta mendampingi proses pengvobatan pasien dengan strategi DOTs, meningkatkan peran serta UPK non-pemerintah dalam pelayanan dan pengobatan pasien TB, juga dengan strategi DOTs

Program Unggulan

Selain TB, Aisyiyah melalui majelis kesehatan juga memiliki program dalam pencegahan penyakit menular seperti malaria, HIV/AIDS serta mengkampanyekan program PHBS (Pedoman Hidup Bersih dan Sehat) di rumah tangga serta kesehatan reproduksi.
Aisyiyah juga kini lebih fokus pada program unggulan lainnya yakni program Qoryah Thoyyibah Kesehatan. *** Yuniar R. Yoga – Jakarta.


Selengkapnya.....

Sabtu, 04 Juni 2011

Din Syamsudin Usul Pemerintah Bentuk Densus 99 Buru Koruptor


Analisa/muhammad arifin.

Medan, (Analisa) -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan Muhammadiyah harus bisa menjadi tenda besar bagi bangsa Indonesia. "Menjadi tenda besar artinya orang lain nyaman bernaung di bawah tenda besar Muhammadiyah. Meskipun ada perbedaan tapi dapat hidup berdampingan,"kata Din Syamsuddin ketika menyampaikan tausiah pada taaruf Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Sumut di Auditorium Kampus UMSU,Jalan Muktar Basri Medan, Minggu (29/5).

Din menegaskan, Muhammadiyah sebelum kemerdekaan menjadi tenda besar bagi bangsa Indonesia, tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Ki Bagus Hadi Kusuma menyelamatkan Republik Indonesia. Walaupun sudah bersepakat, dasar negara yang salah satu sila pertama, berbunyi Ketuhanan Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluknya dan terjadi penolakan dan keberatan kalau ini dipaksakan Indonesia akan terpecah-pecah, karena sebagian dari Indonesia timur menolak bergabung. Tapi dengan dengan kebijaksanaan, kearifan dan wawasan luas dari tokoh Muhammadiyah ki Bagus Hadi Kusuma yang cerdas mengusulkan dan memasukan kata menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa".
"Itulah yang menyelamatkan Indonesia.


Inilah wawasan kebangsaan Muhammadiyah, dan ini harus dimiliki warga Muhammadiyah. Sekarang ini forum internasional, Muhammadiyah sangat dikenal baik organisasi yang punya wawasan yang luas dan wawasan kerja, di luar negeri saya diakui sebagai President of Muhammadiyah Indonesia, yang memiliki Organisasi Islam Modern yang terbesar," kata Din yang menilai kekuatan besar tidak dilihat dari jumlah, tapi pengakuan kerja.

Kekuatan Muhammadiyah menjelmakan iman dalam amal sehingga lahir amal-amal yang banyak.
Menurutnya, Muhmmadiyah harus punya kepercayaan diri menjadi tenda besar. PP Muhammadiyah MoU kini telah menjalin kerjasama dengan banyak pihak, termasuk dengan pemerintah negara-negara barat. Ada MoU dengan Australia, Inggris, dan akan datang dengan New Zeland dan Amerika. Tapi, mentalitas umatIslam, mentalitas kaum minoritas, kalau ada apa-apa takut dan khawtir, padahal kelompok terbesar, sehingga mentalitas sebagian mentalitas umat Islam "orang kalahan". Ini harus dirubah, umat Islam harus memiliki kepercayaan diri, kita besar, kita punya kelebihan.

Karena selama ini saya sampaikan kepada warga Muhammadiyah dan umat Islam, mari kita menjadi tenda besar. Menjadi tenda besar bagi semua, bagi semua umat Islam, walaupun berbeda paham keagamaan,

Densus 99

Din Syamsuddin mengaku kecewa dengan kepemimpinan Presiden SBY. Dia bercerita sudah mengkritik dengan kata-kat ayang lembut, bahkan dalam pertemuan empat mata hingga 6kali, dimana disampaikan kepentingan Muhammadiyah dan umat Islam. Ternyata tidak dijalankan.
Dia menilai, soal terorisme, soal ekonomi kerakyatan, ekonomi kapitalistik yang dijalankan pemerintah sekarang hanya memunculkan kelompok tertentu yang berjaya dan itu menjadikan umat Islam korban, karena robohnya kedai, dan Muhammadiyah mengalami kesulitan.

"Tolong bapak presiden, tolong kembalikan ekonomi nasional kepada ekonomi berdasarkan ekonomi konstitusi, UUD yakni ekonomi kerakyatan, kalau ini dibiarkan seperti sekarang umat Islam jadi korban, ini akan terus kita desak dan kita berjuangkan, saya sudah sampaikan secara langsung dan waktu bertemu dengan tokoh agama yang saya prakarsai di Istana. Saya sedikit tegas, dan bilang ini harus diubah," ucapnya.
Menurutnya, kalau umat Islam tidak berjalan di bidang ekonomi, akibat kebijakan negara tidak tepat. Saat ini the power of the money, Keuangan yang Maha Kuasa, menjadi yang sangat besar. Korupsi dimana dan lingkungan Istana.

"Pemerintah tidak serius memberantas korupsi, termasuk presiden SBY, saya nilai presiden mangkir dari amanat reformasi, memberantas korupsi. Lari dari persoalan, begitu ada persoalan dan ada di lingkungan terdekat, dan seharusnya saatnya presiden turun tangan, malah mengatakan cukup diserahkan ke KPK. Ini namanya sikap lari dari masalah. Ini disebut "mangkir" dari terhadap realitas yang dihadapi. Orang yang mangkir dari amanat orang kita sebut melakukan perbuatan mungkar, maka harus ditegakkan amar mahruf nahi munkar," ucapnya.

Dia mengusulkan kepada pemerintah agar membentuk Tim Densus 99/Antiteror untuk memburu koruptor atau teroris ekonomi bangsa ini. "Kalau Tim Densus 88 untuk memburu teroris, tapi Densus 99 khusus memburu koruptor. Sebab koruptor bangsa ini tidak jauh beda dengan teroris, bedanya koruptor merupakan teroris ekonomi,
dia menjelaskan, jika pemerintah baik dan benar, kita berada di garda terdepan mendukung pemerintah, tapi kalau pemerintah menyeleweng, menyimpang termasuk dari nilai agama, maka Muhammadiyah akan menjadi pengkritik.

Sedangkan Turut memberikan sambutan, Ketua PWM Sumut, Prof Dr H Asmuni, MA dan Rektor UMSU, Drs Agussani, MAP. Adapun susunan PWM Sumut, Ketua PWM, Prof Dr Asmuni, MA, Wakil Ketua, Drs Dalail Ahmad, MA, Prof Dr H Hasyim Nasution, MA, Drs Sarwo Edhi, MA, H Suhrawardi K Lubis, SH, SpN,MH, Koordinator Bidang, Drs Mario Kasduri, MA, Prof Dr Ibrahim Gultom, MA, Drs H Askolan Lubis, MA, H Bahril Datuk, SE, MM, Drs Shohibul Anshor Siregar, MSi. Sekretaris, HM Nasyir Wahab SE. MBA, wakil sekretaris, Irwan Syahputra, dan Bendahara. Drs Agussani, MAP. Sedangkan Pengurus PWA, Ketua, H Elynita, Sekretaris, Nur Rahma Amini,MA, Bendahara Endang Pilihaning Rahayu dan dibanti wakil ketua dan bidang. (maf/ANALISA)



Selengkapnya.....

HATTA RAJASA BICARA EKONOMI INDONESIA DI DIDEPAN PIMPINAN 'AISYIYAH

















Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diakui Dunia Tahun Ini Ditargetkan Tumbuh 6,8 Persen

BANTUL - Kondisi masyarakat Indonesia dapat dibilang masih karut marut. Apalagi jika dilihat dari tingkat kesejahteraan, banyak rakyat kecil yang belum dapat hidup layak. Meski demikian, pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh baik. Hal tersebut disampaikan Menko Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Hatta Radjasa ketika menjadi keynote speech dalam Rakernas dan Milad ke-97 Aisyiyah di Sportarium UMY, kemarin (20/5). Ikut hadir dalam acara ini, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, SE, MM, dan Ketua PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir.


Hatta Radjasa menegaskan, sudah ada kemajuan di Indonesia yang patut disyukuri. Apalagi dalam kuartal pertama ini, pertumbuhan ekonomi sudah mencapai 6,5 persen. Padahal target pertumbuhan ekonomi tahun 2011 berada di angka 6,4 persen.

Dengan hasil yang dianggap memuaskan itu, pada tahun ini, diperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6,8 persen. ’’Indonesia diakui di dunia internasional, bahwa sudah ada kemajuan yang dicapai. Tentu itu harus disyukuri,’’ ujarnya di hadapan ratusan peserta Rakernas.

Hatta Radjasa menjelaskan, dalam upaya memperbaiki kondisi masyarakat, saat ini sedang dijalankan enam program prorakyat. Keenam program itu bertujuan untuk menyejahterakan warga, sehingga derajat kehidupannya meningkat.

Keenam program itu, meliputi rumah sangat murah yang dibagi menjadi rumah sangat murah dan rumah murah. Ada program angkutan murah untuk penumpang dan barang, serta air bersih untuk rakyat serta program listrik murah dan hemat. Program prorakyat lain yakni peningkatan kehidupan nelayan dan masyarakat pinggiran perkotaan.
’’Bersama-sama kita jadikan Indonesia maju, program prorakyat ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat,’’ tandasnya.

Hatta menambahkan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang maksimal, masih diperlukan banyak usaha. Tak hanya dengan program yang dijalankan, tapi juga peningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas.

’’Kita butuh sumber daya manusia yang memiliki kemandirian, kompetitif, jujur, dan bertanggung jawab. Bagaimana itu bisa terwujud, ya dengan pembangunan karakter,’’ ungkapnya.

Rakernas dan Milad ke-97 Aisyiyah dihadiri ratusan peserta. Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Dra. Siti Noordjannah Djohantini, MM, MSi mengungkapkan, momentum Milad ke-97 tahun yang berlangsung bersamaan dengan agenda konsolidasi dan rapat kerja nasional majelis dan lembaga itu, akan menjadi sejarah bagi Asiyiyah untuk berperan aktif dalam menyelesaikan problem dan tantangan umat.

Siti menjelaskan, gerakan yang akan dilakukan Aisyiyah melalui konsolidasi pimpinan dan rapat kerja nasional ini ada beberapa hal. Pertama, mendorong kehidupan keluarga yang berkualitas sesuai konsep Keluarga Sakinah dan Qaryah Thayyibah. Ikut serta membangun dan menciptakan kultur kemandirian ekonomi umat dan akses permodalan, serta membangun dan menumbuhkan prilaku keagamaaan umat yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang.
Selain itu, melakukan advokasi terkait berbagai prilaku kekerasan social. Baik terhadap anak maupun terhadap kalangan perempuan. Juga melakukan kampanye, sosialisasi, dan pendidikan terhadap gerakan antikekerasan.

’’Kami juga ikut serta dalam mendorong program-program pemerintah yang mendukung perbaikan dan kesejahteraan masyarakat secara luas. Seperti pelestarian hutan dengan melakukan gerakan pembibitan pohon mulai dari level akar rumput hingga nasional,’’ ucapnya. (ila)



Selengkapnya.....

Jumat, 03 Juni 2011

Ketua PPA Noordjannah Djohantini: Lima Langkah Strategis Aisyiyah


Jakarta – Ketua PP Aisyiyah Dra. H. Siti Noordjannah Djohantini menyampaikan ceramahnya dengan judul " Tantangan dan Dinamika 'Aisyiyah sebagai Gerakan perempuan Berkemajuan dan Arah Program Nasional Aisyiyah.

Noordjannah Djohantini menjelaskan beberapa langkah strategis yang harus dilakukan ‘Aisyiyah lima tahun kedepan. Pesan itu disampaikannya dihadapana ratusan Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Majelis pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang berlangsung di Kampus UI, Depok Jakarta, 2 Mei 2011. Rakernas yang berlangsung 2-4 Juni 2011 juga menghadirkan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan pejabat pemerinatahan.


Ketua PP ‘Aisyiyah Noordjannah Djohantini menegaskan beberapa langkah strategis yang harus dilakukan ‘Aisyiyah dan ini disebutnya sebagai Langkah Prioritas Revitalisasi Aisyiyah.

1. Penguatan Cabang dan Ranting
2. Pengembangan Pimpinan dan Kader ‘Aisyiyah
3. Amal usaha ‘Aisyiyah
4. Optimalisasi peran Aisyiyah dalam berbagai kehidupan jelang satu abad
5. Menciptakan model-model kegiatan di masing-masing majelis dan lembaga

Diharapkan dengan spirit Aisyiyah jelas satu abad dengan segala potensi yang dimiliki maka Aisyiyah mampu berbuat lebih baik bagi bangsa dengan negara. *** Yuniar R. Yoga-Jakarta


Selengkapnya.....

Aisyiyah Siapkan Advokasi Kesehatan Reproduksi



Aisyiyah mengadakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan menjelang seabad organisasi perempuan Persyarikatan Muhammadiyah itu. Aisyiyah akan mengadakan advokasi kesehatan reproduksi.Pada April, Aisyiyah Yogyakarta telah mengadakan kampanye memerangi tuberculosis (TB). Aisyiyah juga telah membentuk kelompok penanggulangan TB berbasis komunitas yang lazim disebut Community TB Care.

“Kami memperingati Hari TB Sedunia dengan kampanye perang terhadap TB dengan mengadakan lomba paduan suara dengan lagu wajib mars TB dan lagu pilihan Islami bebas,” ujar Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Aisyiyah DIY Zulaikhah Ajron baru-baru ini.
Lirik mars lagu TB ini memuat pesan dan pemahaman bahwa TB bukanlah penyakit akibat guna-guna maupun penyakit keturunan. Zulaikhah juga menyampaikan, lagu mars TB ini diciptakan oleh anggota PW Aisyiyah DIY, Dyah Sulistyowati.

Aisyiyah telah berusia 100 tahun pada 17 Mei 2011. Aisyiyah pun mengadakan kampanye kesehatan reproduksi. Aisyiyah percaya tidak ada perempuan yang menghendaki aborsi. Namun, fakta-fakta diperlukannya aborsi dalam kasus penyakit fisik atau cacat berat pada ibu maupun janin, trauma psikologis pada perempuan akibat tindak kekerasan seksual, dan sebagainya, mendorong Aisyiyah untuk melakukan advokasi terhadap praktik aborsi.

Aisyiyah akan melakukan lima hal penting untuk advokasi terhadap aborsi. Pertama, Aisyiyah perlu memastikan semua orang, apa pun status perkawinannya, memiliki akses terhadap alat kontrasepsi. Aisyiyah perlu memastikan bahwa tidak satu pun alat kontrasepsi yang gagal secara teknologi. Aisyiyah juga perlu mengupayakan agar pendidikan kesehatan reproduksi diterima sebagai bagian dari kurikulum.

Aisyiyah juga harus terus menghapus anggapan bahwa anak di luar hasil perkawinan yang sah adalah anak jadah. Dengan kata lain, anak-anak yang lahir dari perkawinan yang sah maupun tidak, memiliki proporsi penerimaan yang sama. Terakhir, Aisyiyah perlu mendorong perubahan pada undang-undang yang menyatakan bahwa anak di luar pernikahan adalah milik sang ibu.* (Koranmuslim.com)


Selengkapnya.....

Kamis, 02 Juni 2011

PROF MALIK FAJAR : AISYIYAH ORGANISASI YANG VISIONER


Ketua PP Muhammadiyah Prof. Drs. Malik Fajar MA hadir ditengah ratusan pimpinan wilayah ‘Aisyiyah dengan topik “ Kepimimpinan Aisyiyah Jelas Satu Abad”. Prof. Malik Fajar, mantan Menteri Pendidikan itu mengatakan : Aisyiyah adalah satu organisasi masa yang besar yang memiliki masa sangat banyak. Organisasi ini juga selain modern juga memiliki cita-cita yang besar bagi kepentingan bangsa dan negara. Kata Malik Fajar, Aisyiyah juga adalah organisasi yang memiliki visi yang jelas.

Sepuluh orang peserta Rapat Konsolidasi Pimpinan dan Rapat Kerja Nasional Majelis Aisyiyah itu masing-masing dua Ketua Wilayah : Dra. Sulhati Syam MA, Dra. Wimaslina, Yuniar R. Yoga dan Dra. Azwinar Apt (Ketua dan Sekretaris Majelis Kesehatan),Rasta Kurniawati Pinem MA dan Dra. Yurisna Tanjung MAP (Ketua dan Sekretaris Majelis Hukum dan HAM), Dra. Ermita Sabri Msi dan Ramadhani (Ketua dan Wkl Sekretaris Majelis Dikdasmen), Dra, Ratnawati MA dan Dra. Asmiani (Ketua dan Anggota Majelis Kes-Sos). *** Yuniar R. Yoga - Jakarta



Selengkapnya.....

KERJASAMA PP AISYIYAH – BANK RAKYAT INDONESIA


YOGYAKARTA: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT BRI Syariah bekerja sama dengan Pimpinan Pusat Aisyiyah mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi untuk memberdayakan ekonomi umat.

“Kami memiliki komitmen terhadap pengembangan ekonomi kerakyatan yang populer dengan aktivitas usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi,” kata Dirut PT BRI Syariah Ventje Rahardjo di Yogyakarta, Jumat (20/5).

Menurut dia pada penandatanganan nota kesepahaman antara PT BRI (Persero) Tbk dan PT BRI Syariah dengan Aisyiyah, dengan adanya kerja sama itu akan diperoleh sinergi yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan umat.

“Kami akan menawarkan berbagai produk atau jasa perbankan syariah. Dengan berbagai produk yang kami miliki, kami bertekad membantu mendorong kegiatan pemberdayaan ekonomi anggota Aisyiyah,” katanya.

Dirut PT BRI (Persero) Tbk Sofyan Basyir mengatakan, BRI sebagai salah satu bank pelaksana Kredit Usaha Rakyat (KUR) akan menyediakan fasilitas untuk mendukung dan mengoptimalkan potensi usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi.

Dalam kerja sama itu Aisyiyah menyiapkan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi yang produktif dalam bentuk individu, kelompok, kemitraan, dan klaster yang dapat dibiayai dengan KUR.

“Selain itu, juga melakukan pembinaan dan pendampingan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi sebelum dan selama masa kredit atau pembiayaan,” katanya.

Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini mengatakan, kerja sama itu dalam rangka memudahkan akses bagi usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi binaan Aisyiyah untuk mendapatkan KUR.

Menurut dia, kerja sama yang merupakan bagian dari rapat kerja nasional dan Milad ke-97 Aisyiyah itu juga untuk mendukung kegiatan kelompok ekonomi Aisyiyah agar dapat berkembang.

“Kami selama ini telah bergerak membina kelompok ekonomi mikro, kecil, menengah, dan koperasi yang berkembang cukup baik di berbagai daerah, yang harus terus ditingkatkan,” katanya. (Ant)
Selengkapnya.....

Setelah Joqjakarta, kini Rakernas 'Aisyiyah Berlangsung di Jakarta


JAKARTA - Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah akan menggelar acara Konsolidasi Pimpinan dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis-Lembaga Aisyiyah. Acara itu akan diadakan di Depok pada 2-4 Juni 2011. "Melalui agenda Konsolidasi Pimpinan dan Rakernas Majelis dan Lembaga ini, Aisyiyah akan mem-break down konsep dan keputusan Muktamar ke-46 Aisyiyah," ujar Sekretaris PP Aisyiyah, Rohimi Zamzam, di kantor Republika, Senin (30/5).

Beberapa pengurus PP Aisyiyah, Senin kemarin, bersilaturahim ke kantor Republika. Pemred Republika, Nasihin Masha, beserta jajaran redaksi menerima rombongan Aisyiyah itu.



Melalui konsolidasi pimpinan dan rakernas itu, Aisyiyah akan mendorong kehidupan keluarga yang berkualitas sesuai dengan konsep keluarga sakinah dan qoryah thayyibah. Aisyiyah juga akan ikut serta membangun dan menciptakan budaya kemandirian ekonomi umat serta menumbuhkan perilaku keagamaan umat yang penuh rahmat dan kasih sayang.

Aisyiyah juga akan melakukan advokasi terkait berbagai perilaku kekerasan sosial, baik terhadap anak maupun perempuan. Selain itu, Aisyiyah akan melakukan sosialisasi dan pendidikan antikekerasan dan mendorong program perbaikan, seperti sosialisasi pendidikan anak usia dini, sekolah luar biasa, dan sebagainya, termasuk sosialisasi kesehatan reproduksi perempuan dan remaja.

Aisyiyah juga akan ikut menggalakkan program penanggulangan bencana melalui anak siaga banjir dan akan meningkatkan kecermatan terhadap pasar bebas (bekerja sama dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia).

Rohimi menjelaskan, konsolidasi pimpinan dan rakernas itu akan dibuka oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Din Syamsudin MA. "Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar akan memberikan keynote speech dengan tema pembangunan karakter bangsa untuk penguatan pendidikan, hukum dan HAM, menuju masyarakat madani," ujar Rohimi. Aisyiyah juga akan menghadirkan pembicara lain, yaitu Prof Malik Fajar (mantan menteri agama), Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini.

Menurut Rohimi, persoalan pendidikan dan pembinaan keluarga, kemandirian dan kesejahteraan ekonomi umat, keagamaan, pendidikan dan kekerasan, serta persoalan sosial kebangsaan akan terus menjadi perhatian Aisyiyah. "Selaku gerakan dakwah sayap perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah sangat menyadari bahwa kompleksitas persoalan kehidupan nasional sekarang ini membutuhkan penanganan dan kerja nyata dari berbagai komponen bangsa," ujar Rohimi (rep)



Selengkapnya.....