
Meski ribuan kasus influenza A (H1N1) yang dilaporkan, ternyata penderita flu H1N1 kebanyakan tidak dirawat di rumah sakit atau hanya mengalami kasus ringan.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP&PL) Prof dr Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE lewat surat elektronik, Selasa (19/5).
Prof Tjandra yang mengikuti World Health Assembly yang ke-62 di Jenewa, Swiss, dan dibuka Senin (18/5) kemarin di Assembly Hall United Nations Geneve menyebutkan bahwa berdasarkan laporan delegasi dari Kanada, dari 97 persen kasus H1N1, hanya 3 persen kasus H1N1 yang masuk rumah sakit. Angka kematian/CFR di Kanada 0,2 persen. Ini artinya 99,8 persen (hampir 100 persen) kasus yang ada sembuh.
Sementara itu, laporan dari Menteri Kesehatan Meksiko menyebutkan bahwa kasus di negara tersebut terjadi hanya pada 224 kotamadya dari total 2.443 kotamadya yang ada di Meksiko. Artinya, kasus H1N1 tidak terjadi di seluruh kotamadya yang ada di Meksiko atau kurang dari 10 persen dari seluruh kotamadya di Meksiko.
Hingga Senin, jumlah pasien H1N1 di dunia mencapai 8.829 orang, 74 orang di antaranya meninggal (angka kematian atau case fatality rate (CFR) 0,83 persen).
Sementara itu, majalah ilmiah ternama, Science, terbaru mempublikasi perkiraan CFR akibat H1N1 adalah 0,4 persen, dan reproductive rate atau R0 (berapa banyak orang yang dapat ditulari 1 pasien H1N1) hanya 1,4-1,6.
Selengkapnya.....
Media Komunikasi -- berita dan kebijakan persyarikatan -- Guna Meningkatkan Syiar Organisasi
Rabu, 20 Mei 2009
Hampir 100 Persen dari 8.000 Penderita Flu H1N1 Sembuh
STATUS 'HALAL-HARAM' VAKSIN DIUMUMKAN PEKAN INI

JAKARTA -- Status kehalalan vaksin meningitis bagi jamaah haji dan umrah kemungkinan akan ditetapkan pada pekan ini. Anggota Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara (MPKS) Departemen Kesehatan (Depkes), Prof Jurnalis Udin, mengungkapkan, pemerintah bersama ulama akan segera mengumumkan kejelasan kandungan vaksin meningitis kepada umat Islam.
Langkah itu dilakukan guna meredam keresahan dan kekhawatiran para calon jamaah umrah dan haji. Menurut Prof Jurnalis, MPKS pada Rabu (20/5), akan menggelar pertemuan dengan sejumlah lembaga, seperti, Depag, Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Komisi Fatwa MUI, serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Menurut dia, dalam pertemuan itu, Glaxo Smith Kline (GSK), produsen vaksin meningitis akan mempresentasikan proses pembuatan vaksin yang biasa digunakan para jamaah haji dan umrah. "Setelah GSK presentasi, Rabu 920/5) ini, kami akan lakukan rapat. Dan, segera kami berikan kejelasan mengenai kandungan vaksin meningitis kepada masyarakat, pekan ini," ujar Prof Jurnalis kepada Republika , Senin (18/5).
Dalam pertemuan itu, ungkap dia, MPKS dan beberapa lembaga terkait akan melakukan tanya jawab dengan GSK tersebut seputar proses pembuatan vaksin meningitis. "Mereka akan memberikan presentasi detail bagaimana prosedur pembuatan vaksin meningitis. Ini akan sangat menentukan dicampur atau tidaknya vaksin tersebut dengan enzim babi," ungkapnya.
Sebelumnya, GSK telah mengeluarkan surat pernyataan dan mengklaim vaksin meningitis yang diproduksinya terbebas dari enzim babi, bahkan animal free. ''Itu kan barang baru, mungkin saja barang lamanya menggunakan enzim babi," ujarnya. Prof Jurnalis mengaku pihaknya tak mau begitu saja percaya pada GSK, karena itu MPKS dan lembaga terkait juga akan mengecek dari sumber lain.
Meski begitu, pihaknya optimistis pertemuan yang akan digelar pada Rabu (20/5) itu akan membuahkan hasil. "Namun, jika nantinya lembaga yang hadir ragu terhadap presentasi dari pihak GSK, kami setuju dengan usulan LPPOM MUI untuk mengecek langsung ke pabriknya di Amerika," paparnya.
Ketidakjelasan kandungan vaksin meningitis telah membuat umat Islam yang akan menunaikan umrah dan haji menjadi resah. Bahkan, sebagian dari mereka tidak mau disuntik vaksin meningitis, seperti diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), Baluki Ahmad, beberapa waktu lalu.
"Ini memang keadaan yang dilematis, ketentuan vaksinasi berasal dari pemerintah Arab Saudi. Jadi, mau tak mau harus dipakai. Jika tidak, calon jamaah haji pasti akan dilarang masuk wilayah mereka. Sebelum ada kepastian, masih berstatus darurat," ujar Prof Jurnalis menegaskan.
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif LPPOM MUI, Muhammad Nadratuzzaman Hosen, menegaskan, pihaknya tidak percaya dengan klaim produsen vaksin meningitis yang menyebutkan produknya halal. Menurut dia, status halal tidaknya sebuah produk, papar dia, ditentukan ulama.
"GSK itu kan bukan ulama, jadi tidak bisa mengatakan itu (vaksin meningitis) halal," tutur Nadratuzzaman. Pihaknya menegaskan, pernah mengusulkan agar LPPOM MUI beserta pemerintah melakukan audit langsung ke pabrik GSK untuk menentukan status halal atau tidaknya vaksin tersebut.
Sayangnya, kata dia, hingga kini pemerintah belum merespons usulan itu. LPPOM MUI menyayangkan sikap pemerintah yang selalu percaya kepada perusahaan pembuat vaksin tersebut. "Pemerintah ini keras kepala, tidak mau paham apa yang kami kerjakan. Mereka selalu percaya pada perusahaan. Mereka kan perusahaan non-Muslim, tak boleh dipercaya begitu saja.'' she
PPOM MUI mengusulkan audit kehalalan vaksin secara langsung di pabrik GSK.
JAKARTA -- Status kehalalan vaksin meningitis bagi jamaah haji dan umrah kemungkinan akan ditetapkan pada pekan ini. Anggota Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara (MPKS) Departemen Kesehatan (Depkes), Prof Jurnalis Udin, mengungkapkan, pemerintah bersama ulama akan segera mengumumkan kejelasan kandungan vaksin meningitis kepada umat Islam.
Langkah itu dilakukan guna meredam keresahan dan kekhawatiran para calon jamaah umrah dan haji. Menurut Prof Jurnalis, MPKS pada Rabu (20/5), akan menggelar pertemuan dengan sejumlah lembaga, seperti, Depag, Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Komisi Fatwa MUI, serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Menurut dia, dalam pertemuan itu, Glaxo Smith Kline (GSK), produsen vaksin meningitis akan mempresentasikan proses pembuatan vaksin yang biasa digunakan para jamaah haji dan umrah. "Setelah GSK presentasi, Rabu 920/5) ini, kami akan lakukan rapat. Dan, segera kami berikan kejelasan mengenai kandungan vaksin meningitis kepada masyarakat, pekan ini," ujar Prof Jurnalis kepada Republika , Senin (18/5).
Dalam pertemuan itu, ungkap dia, MPKS dan beberapa lembaga terkait akan melakukan tanya jawab dengan GSK tersebut seputar proses pembuatan vaksin meningitis. "Mereka akan memberikan presentasi detail bagaimana prosedur pembuatan vaksin meningitis. Ini akan sangat menentukan dicampur atau tidaknya vaksin tersebut dengan enzim babi," ungkapnya.
Sebelumnya, GSK telah mengeluarkan surat pernyataan dan mengklaim vaksin meningitis yang diproduksinya terbebas dari enzim babi, bahkan animal free. ''Itu kan barang baru, mungkin saja barang lamanya menggunakan enzim babi," ujarnya. Prof Jurnalis mengaku pihaknya tak mau begitu saja percaya pada GSK, karena itu MPKS dan lembaga terkait juga akan mengecek dari sumber lain.
Meski begitu, pihaknya optimistis pertemuan yang akan digelar pada Rabu (20/5) itu akan membuahkan hasil. "Namun, jika nantinya lembaga yang hadir ragu terhadap presentasi dari pihak GSK, kami setuju dengan usulan LPPOM MUI untuk mengecek langsung ke pabriknya di Amerika," paparnya.
Ketidakjelasan kandungan vaksin meningitis telah membuat umat Islam yang akan menunaikan umrah dan haji menjadi resah. Bahkan, sebagian dari mereka tidak mau disuntik vaksin meningitis, seperti diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), Baluki Ahmad, beberapa waktu lalu.
"Ini memang keadaan yang dilematis, ketentuan vaksinasi berasal dari pemerintah Arab Saudi. Jadi, mau tak mau harus dipakai. Jika tidak, calon jamaah haji pasti akan dilarang masuk wilayah mereka. Sebelum ada kepastian, masih berstatus darurat," ujar Prof Jurnalis menegaskan.
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif LPPOM MUI, Muhammad Nadratuzzaman Hosen, menegaskan, pihaknya tidak percaya dengan klaim produsen vaksin meningitis yang menyebutkan produknya halal. Menurut dia, status halal tidaknya sebuah produk, papar dia, ditentukan ulama.
"GSK itu kan bukan ulama, jadi tidak bisa mengatakan itu (vaksin meningitis) halal," tutur Nadratuzzaman. Pihaknya menegaskan, pernah mengusulkan agar LPPOM MUI beserta pemerintah melakukan audit langsung ke pabrik GSK untuk menentukan status halal atau tidaknya vaksin tersebut.
Sayangnya, kata dia, hingga kini pemerintah belum merespons usulan itu. LPPOM MUI menyayangkan sikap pemerintah yang selalu percaya kepada perusahaan pembuat vaksin tersebut. "Pemerintah ini keras kepala, tidak mau paham apa yang kami kerjakan. Mereka selalu percaya pada perusahaan. Mereka kan perusahaan non-Muslim, tak boleh dipercaya begitu saja.'' N she
Selengkapnya.....
IBRAHIM KHALIL, MISIONARIS PENDETA KOPTIK YANG BERSAHADAT

Al-Haj Ibrahim Khalil Ahmad, dulu bernama Ibrahim Khalil Philobus, Pendeta Koptik ( dari kata Kopt yakni suku kuno di Mesir) yang belajar teologi dan mendapat gelar master dari Universitas Princeton. Ia belajar Islam untuk menemukan celah menyerang sebagai ganti ia malah menerima islam bahkan bersama keempat putranya, salah satu kini menjadi guru besar di Sorbonne, Paris. Inilah cerita Ibrahim Khalil.
Ia lahir di Alexandria pada 13 Januari 1919 dan dikirim ke sekolah Misi Amerika hingga memperoleh sertifikat pendidikan menengah di sana.
Pada 1942 ia mendapat gelar diploma dari Assiut University, dan dimana ia memilih spesialisasi studi agama sebagai awal bergabung dengan Fakultas Teologi.
Menurut Ibrahim, bukanlah hal mudah untuk bergabung dengan fakultas, karena tidak ada satu kandidat dapat bergabung kecuali mendapat rekomendasi khusus dari gereja, dan juga ia harus melewati serangkaian tes sulit.
Saat itu Ibrahim mendapat rekomendasi dari Gereja Al-Attareen di Alexandria dan satu lagi dari Gereja Assembly of Lower Egypt setelah lulus banyak tes untuk mengetahui kualifikasinya untuk menjadi seorang yang benar-benar taat agama.
Lalu ia mendapat rekomendasi ketiga dari Gereja Persekutuan Snodus, termasuk para pendeta dari Sudan dan Mesir.
Snodus memberi kemudahan ia masuk Fakultas Teologi di 1944 sebagai siswa asrama. Di sana ia belajar langsung di tangan-tangan dosen Amerika dan Mesir hingga lulus pada 1948.
Ia seharusnya ditunjuk untuk meneruskan pendidikan di Jerusalem jika saja tidak ada pecah perang di Palestina pada tahun terebut. Ia pun akhirnya dikirim ke Asna, Mesir Atas. Pada tahun yang sama ia mendaftar untuk penggarapan thesis di Universitas Amerika, Kairo. Saat itu ia menulis tentang aktivitas misionari di kalangan Muslim.
"Perkenalan dengan Islam sendiri dimulai di Fakultas Teologi, dimana saya belajar Islam dan seluruh metode ibadahnya dimana melalui itu para siswa mampu mengguncang iman seorang Muslim dan menumbuhkan keraguan dalam pemahaman mereka terhadap keyakinanya," tutur Ibrahim.
Pada tahun 1952 ia mendapat gelar MA dari Princeton di USA dan ditunjuk sebagai dosen di Fakultas Teologi Assiut. Ia mengajarkan Islam di fakultas sesuai dengan pemahaman salah yang disebarkan oleh para misionari dan para penentangnya.
Selama periode itulah ia memutuskan untuk meluaskan studi Islam dan tidak hanya sekedar membaca buku-buku misionaris. "Saat itu saya cukup yakin dengan diri saya untuk membaca dari sudut pandang lain. Lalu saya mulai membaca literatur yang ditulis pengarang Muslim. Saya juga memutuskan untuk membaca Al Qur'an dan memahami artinya," aku Ibrahim panjang lebar.
"Hal itu didorong kecintaan saya terhadap pengetahuan dan digerakkan keinginan menambah lebih banyak bukti untuk menyerang Islam," imbuh Ibrahim.
Titik itulah yang justur mengubah Ibrahim. "Posisi saya mulai terguncang, dan saya mulai merasakan pergolakan kuat, dan saya tidak menemukan kesalahan di pada apapun yang pernah saya pelajari dan saya kotbahkan. Namun saya tidak berani menghadapi diri saya sendiri, dan mencoba mengatasi krisis internal itu dengan meneruskan pekerjaan," ungkapnya.
Kemudian pada 1954, ia dikirim ke Aswan sebagai sekretaris jenderal misi Jerman-Swiss. "Selama in posisi nyata saya hanyalah untuk misi berkotbah menentang Islam di Mesir Atas, terutama di kalangan Muslim," akunya.
Sementara di Aswan merupakan konferensi misionaris diselenggarakan di Hotel Catract, dan ia diberi kesempatan berbicara pada forum. "Hari itu saya berbicara terlalu banyak, mengucapkan semua, konsepsi salah menentang Islam berulang-ulang, dan pada akhir pidato, krisis internal itu tiba-tiba datang lagi dan saya mulai merevisi posisi saya," kata Ibrahim.
Ibrahim berkata, "Saya mulai bertanya pada diri sendiri, 'Mengapa saya harus melakukan semua itu ketika saya tahu pasti saya berbohong, karena itu semua bukan kebenaran? Saya meninggalkan konferensi sebelum berakhir dan pulang sendirian ke rumah,"
"Saya sepenuhnya terguncang. Saat berjalan melalui taman publik Firyal, saya mendengar sebuah ayat di Al Qur'an berbunyi 'Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (QS 72:1)
Lalu dilanjutkan dengan bunyi ayat berikut (QS 72:2) "(yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami,"
Ibrahim terdiam di tempat hingga ia mendengar lagi "Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (QS 72:13)"
"Saya merasa dalam perasaan tenang luar biasa malam itu ketika pulang kerumah dan menghabiskan seluruh malam dengan diri saya membaca Al Quran di perpustakaan," ungkap Ibrahim.
Istrinya sempat menanyakan mengapa ia duduk sendirian semalaman. "Saya langsung memintanya untuk meninggalkan saya sendiri. Saya berhenti untuk beberapa lama, berpikir, dan bermeditasi ketika sampai pada ayat, "Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS 59:21)"
Juga ketika masuk ayat berikut "Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani...karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri, (QS 5:82)
Ayat berikut, "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui: seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (QS 5:83)
Ibrahim juga menuturkan mengutip tiga ayat dari Al Qur'an yakni Surat Al A'raaf ayat 157-158.
Di malam yang sama secara dramatis Ibrahim menyimpulkan, "Saya mengambil keputusan akhir saya. Di pagi hari saya berbicara dengan istri yang dengannya saya memperoleh tiga anak lelaki dan satu orang putri,"
Namun tidak lama setelah ia merasa Ibrahim bertambah semakin menerima Islam dari yang ia takutkan ia meminta bantuan dari kepala misionari bernama Monsieur Shavits dari Switzerland. Dalam pandangan Ibrahim pria itu mempunyai kemampuan mempersuasi orang.
Ia bertanya pada Ibrahin tentang kebenaran berita itu. Ibrahim pun mengatakan terus terang apa yang ia inginkan dan Shavits berkata,
"Pertimbangkan dirimu keluar dari pekerjaan hingga kami menemukan apa yang menimpa dirimu,"
Ibrahim langsung menjawab," Ini pengundurang diri saya dari pekerjaan,"
Shavits meyakinkan Ibrahim untuk menunda itu namun Ibrahim bersikeras, dan Shavits pun memunculkan rumor Ibrahim telah gila. Ibrahim pun mesti menjalani serangkaian tes penuh tekanan hingga ia meninggalkan Aswan dan kembali ke Kairo.
Ketika di Kairo ia sempat dikenalkan dengan seorang guru besar Islam dihormati, Muhammad Abdul Moneim Al Jamal, yang membantunya menghadapi sidang mengerikan, dan Al Jamal melakukan itu tanpa mengetahui apapun cerita Ibrahim.
"Ketika Dr Jamal tahu saya telah mengundurkan diri dari pekerjaan di Aswan, dan saya menganggur, ia membantu saya mendapat pekerjaan di Perusahaan Alat Administrasi Standar di Kairo. Sehingga saya mapan kembali tak lama kemudian," ujarnya Ibrahim.
Hanya saja ia mengaku tidak bercerita pada istrinya tentang niat memeluk Islam, sehingga sang istri mengira Ibrahim telah melupakan segalanya dan tak lebih dari sekedar krisis keimanan yang tak lagi ada.
"Namun saya tahu pasti jika peralihan keyakinan saya membutuhkan bukti dan sejumlah langkah rumit panjang. Saat itu fakta yang terjadi adalah pertempuran dalam hati yang saya tunda untuk beberapa saat hingga saya benar-benar saya pahami setelah saya melengkapi studi perbandingan," tutur Ibrahim
Pada 25 Desember 1959 ia mengirimkan telegram kepada Dr Thompson, kepala Misionaris Amerika di Mesir memberi informasi jika ia akan memeluk Islam.
Setelah mengirim telegram masalah baru dimulai. Tak tanggung-tangguh tujuh rekan seperkuliahan sekaligus membujuknya membatalkan ikrar tersebut, namun Ibrahim bergeming.
Mereka bahkan mengancam akan memisahkannya dengan istrinya. Ibrahim menjawab, "Ia bebas untuk melakukan apa yang ia inginkan,". Mereka juga mengancam akan membunuhnya. Namun demi melihat sikat Ibrahim yang keras kepala, mereka meninggalkannya sendiri dan meminta teman lama Ibrahim yang juga teman seperkuliahan.
Sang teman sangat luar biasa keras mempengaruhi, dan menghina Ibrahim, yang dihina pun menjawab, "Kamu seharusnya menghina mereka yang melecehkan Tuhan dengan mendengarkan Al Qur'an dan mempercayai kebenaran yang kamu tahu tapi kau tolak,". Teman Ibrahim pun meninggalkannya setelah tahu semua upaya sia-sia belaka.
Pada bulan Januari 1960, Ibrahim pun resmi memeluk Islam.
Istri Ibrahim meninggalkannya dan mengambil semua perabot dalam rumah. "Namun semua anak saya menerima dan memeluk islam, yang paling antusias adalah putra pertama saya Isaac yang mengganti namanya menjadi Osman, anak kedua Joseph, dan yang ketiga Samuel mengganti nama menjadi Jamal, dan anak perempuan bernama Majida menjadi Najwa," tutur Ibrahim.
Ibrahim menulis dalam majalah La Monde, "Yang saya sesalkan istri saya meninggalkan rumah selama enam tahun, tapi kemudian setuju kembali pada 1966 tetap dengan agamanya. Saya menerima ini karena di Islam tidak ada paksaan dalam agama,"
"Saya berkata 'Saya tak ingin kamu peluk Islam karena saya, tapi hanya karena kamu yakin," lanjut Ibrahim dalam tulisan tersebut.
Akhirnya ketika ditanya apa hal yang membuat ia paling tertarik terhadap Islam, ia menjawab ia sangat menyukai sistem pengampunan dosa dalam Islam dan hubungan langsung antara Tuhan dan hambanya.
Namun diantara itu semua ia berkata "Saya terutama tertarik dengan konsep satu Tuhan, yang paling penting dalam Islam. Tuhan hanya satu dan tak ada yang menyerupai-Nya. Kepercayaan ini membuat saya menghamba kepada Tuhan saja, bukan yang lain. Penyerahan diri pada satu Tuhan membebaskan orang menyembah dan takut pada manusia, dan itulah kebebasan sesungguhnya,"./berbagaisumber/itz
Selengkapnya.....
Jumat, 15 Mei 2009
LUPUS HARUS DIHADAPI DENGAN SIKAP OPTIMIS
Cukup banyak penderita lupus yang menikmati karier cemerlang sambil menjaga kondisinya
Tak mudah bagi Erlinda Kristin Kiroyan untuk mengungkap akar masalah kesehatan yang dialaminya sejak sepuluh tahun silam. Kulit mantan guru SD dan SMP swasta di Papua ini selalu bermasalah jika tersengat terik matahari.
Ia akan merasa gatal dan selang sesaat kulitnya akan mengalami luka yang serius hingga berborok. `Teman sejawat mungkin mengira saya malas mengikuti upacara tetapi sebetulnya saya hanya tak tahan matahari, ujar perempuan berdarah Manado kelahiran Jayapura, 45 tahun silam.
Setelah tujuh tahun menjalani pemeriksaan silih berganti oleh tiga profesor berlatar belakang spesialis imunitas, kulit, dan penyakit dalam, barulah tersibak tabir penyakit Erlinda. Dari biopsi kulit ia terlihat mengalami lupus kulit. `Dua profesor terdahulu tidak menyimpulkan lupus sebab hasil uji laboratorium semuanya negatif,jelas Erlinda.
Seberapa mengganggu penyakit ini? fLupus beserta obat corticosteroid jangka panjang juga menurunkan penglihatan, daya ingat, fungsi ginjal, usus, dan tulang saya, tutur Erlinda yang juga aktivis Yayasan Lupus Indonesia. Pelan-pelan, Erlinda belajar hidup dengan lupus. Ia berusaha menghindari faktor pencetus kekambuhan, stres dan keletihan.
Dibarengi dengan keikhlasan serta doa, trik ini ampuh menjaganya dirawat berulang di rumah sakit. `Saya terkontrol lupusnya dan dapat beraktivitas terbatas. Hingga April 2009, Yayasan Lupus Indonesia (YLI) mencatat 8.891 orang hidup dengan lupus (odapus) dengan mortalitas 15 orang. Setahun sebelumnya, 8.693 odapus bergabung dalam yayasan yang sama. Sepanjang tahun 2008, YLI memantau 48 odapus meninggal dunia. `fSedangkan sepuluh tahun sebelumnya (1998), jumlah odapus hanya 586 saja, ungkap Ketua YLI, Tiara Savitri.
The Great Imitator
Penyakit ini, menurut dr Laniyati Hamijoyo SpPD Mkes, memang belum dikenal luas. Bahkan dalam kalangan medis sekalipun masih banyak yang tidak mengenal tanda-tanda penyakit ini. `fAkibatnya penderita membutuhkan waktu lebih lama untuk didiagnosis, bahkan kadang tidak terdiagnosis sampai keadaan fatal yang dialami oleh penderita, ungkap konsultan reumatologi FK Universitas Padjadjaran, Bandung, itu. Sebetulnya apakah lupus itu?
Lupus atau dikenal juga dengan nama lupus eritematosus sistemik (LES) adalah suatu penyakit autoimun, artinya sistem imun membentuk antibodi yang seharusnya bekerja memerangi agen-agen infeksi yang disebut antigen seperti bakteri, virus, jamur atau zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh malah berbalik menyerang dirinya sendiri.
Akibatnya, antibodi yang terbentuk menyerang sel atau jaringan tubuh sendiri dan menyebabkan berbagai kelainan, tergantung bagian tubuh yang diserang, bisa di susunan saraf, jantung, paru-paru, ginjal, kulit maupun sendi. Kelainan yang ditimbulkan bisa berupa nyeri, peradangan, ataupun kerusakan jaringan. Memang tidaklah mudah untuk mendiagnosis penyakit lupus, karena tidak ada gejala yang khas, sehingga penyakit ini sering dijuluki the Great Imitator alias peniru ulung, kata Laniyati.
Nyeri pada sendi membuat pasien didiagnosis menderita rematik, keluhan pada ginjal membuat pasien dikira menderita gangguan ginjal, kurang darah akan didiagnosis sebagai anemia. Karena itu, bisa jadi penderita lupus baru diketahui setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun mengidap penyakit itu. Penyebab penyakit ini sampai sekarang belum diketahui secara pasti, diduga berhubungan de ngan faktor genetik dan lingkungan seperti infeksi virus, sinar ultraviolet dan obat-obatan tertentu.
Masing-masing penderita mengalami gejala dan perjalanan penyakit yang berbeda dengan penderita lain namun ada beberapa ciri yang dapat membangkitkan dugaan seseorang terkena lupus jika terdapat gejala-gejala tertentu di antaranya rasa lemas, capek yang berlebihan, demam berkepanjangan, ruam merah di wajah yang menyerupai gambar kupukupu, ruam merah di kulit yang umumnya lebih nyata bila terpapar sinar matahari, juga ruam diskoid, rambut rontok, sariawan yang berulang, nyeri pada sendi, dan bengkak pada kedua tungkai. Gangguan neurologik maupun psikiatrik juga dapat terjadi pada mereka yang menderita lupus.
Tidak sendiri
Perjalanan penyakit lupus, ungkap Laniyati, sangat bervariasi dan kerusakan yang ditimbulkan pada berbagai organ tubuh yang terkena kadang berakibat fatal. Sebagai contoh pada beberapa penderita lupus yang mengenai ginjal kadang berakhir dengan gagal ginjal sehingga mereka harus menjalani cuci darah rutin (hemodialisis). Ada pula penderita yang mengalami kebutaan akibat kerusakan pada saraf mata, dan beberapa yang mengalami gangguan psikosis harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa.
Beban penyakit ini semakin bertambah karena hingga saat ini belum ada obat yang dapat benarbenar menyembuhkan lupus. Meskipun demikian, kata Lani, terdapat obat-obat yang dapat mengendalikan penyakit ini, sejauh penderita rajin kontrol ke dokter dan secara teratur mengonsumsi obatobat yang diberikan. fPada penderita yang penyakit lupusnya sudah terkendali dapat mengalami kekambuhan, artinya penyakit menjadi aktif kembali, jelas Laniyati.
Suatu hal yang wajar jika seseorang didiagnosis lupus menjadi sangat depresi, membayangkan apa yang harus dialami akibat dari penyakit ini. Demikian pula keluarga yang terlibat, tidak saja masalah keuangan dalam hal menyediakan obat-obatan maupun perawatan namun juga masalah psikologis dan beban fisik untuk mendampingi dan menjaga penderita.
Masalah lain adalah usia penderita yang relatif muda dan merupakan masa produktif, sedang giat-giatnya mengejar karier, ataupun mereka yang menjadi tulang punggung keluarga harus menghadapi penyakit ini. Hal penting yang perlu diingat adalah: Anda tidaklah sendirian, kata Lani. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, tidak memandang suku bangsa, ataupun latar belakang ekonominya.
Lani mencontohkan, di antaranya, penyanyi terkenal Seal Samuel yang memiliki suara merdu, telah menderita lupus sejak usia remaja. Ini menunjukkan, orang-orang bisa sukses dalam karier dan hidupnya meskipun menderita lupus.rei
Selengkapnya.....
SUSUN SOP PENANGGULANGAN BENCANA, MDMC KUMPUL KADER RELAWAN
Yogyakarta – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) sebagai lembaga baru di Muhammadiyah terus menyusun perangkat gerakan, seperti Standard Operational Procedure (SOP). Hal berkaitan dengan upaya membentuk sistem dan prosedur penanggulangan bencana sebagai panduan semua elemen Muhammadiyah. Salah satu rangkaian upaya pembuatan SOP ini adalah diselenggarakannya Pra- Workshop SOP Kebencanaan yang diselenggarakan pada tanggal 10-11 Mei 2009 di Gedoeng Moehammadiyah, Jl KHA Dahlan 103 Yogyakarta.
Menurut Boy Matriyosa sebagai penanggungjawab acara, acara pra-workshop kali ini merupakan bagian dari rangkaian acara Workshop yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 19-21 Mei 2009 si Yogyakarta. Acara Pra-Workshop sendiri sebelumnya juga telah diadakan di Jakarta pada tanggal 14-15 April 2009.
Pada acara Pra-Workshop kali ini mengundang kader-kader muda Muhammadiyah yang sebelumnya terlah menjadi relawan psikososial di Tsunami Aceh, Longsor Banjarnegara maupun Penanggulangan Gempa Bumi Yogyakarta. Selain relawan, acara yang bertujuan untuk mendapatkan pengalaman para pelaku penanggulangan bencana ini juga mengundang tim penanggulangan bencana bagian medis dari PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan PKU Muhammadiyah Bantul. Hadir pula perwakilan dari Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Proses diskusi difasilitasi oleh fasilitator dari Resource Management anda Development Consultant (REMDEC) dan dibantu oleh Hening Parlan dari Humanitarian Forum Indonesia (HFI) (arif)
Selengkapnya.....
Jumat, 08 Mei 2009
PERADABAN ISLAM SUDAH DIKENAL SEBAGAI PERINTIS BIDANG FARMASI

Peradaban Islam dikenal sebagai perintis dalam bidang farmasi. Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam sudah berhasil menguasai riset ilimiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obatan sederhana dan campuran. Selain menguasai bidang farmasi, masyarakat Muslim pun tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki apotek atau toko obat.
Sharif Kaf al-Ghazal dalam tulisannya bertajuk The valuable contributions of Al-Razi (Rhazes) in the history of pharmacy during the Middle Ages, mengungkapkan, apotek pertama di dunia berdiri di kota Baghdad pada tahun 754 M. Saat itu, Baghdad sudah menjadi ibukota Kekhalifahan Abbasiyah. ''Apotek pertama di Baghdad didirikan oleh para apoteker Muslim,'' ungkap al-Ghazal.
Jauh sebelum peradaban Barat mengenal apotek, masyarakat Islam lebih dulu menguasainya. Sejarah mencatat, apoteker pertama di Eropa baru muncul pada akhir abad ke-14, bernama Geoffrey Chaucer (1342-1400). Ia dikenal sebagai apoteker asal Inggris. Apotek mulai menyebar di Eropa setelah pada abad ke-15 hingga ke-19 M, praktisi apoteker mulai berkembang di benua itu.
''Umat Islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama,'' papar Howard R Turner dalam bukunya bertajuk Science in Medievel Islam . Philip K Hitti dalam bukunya yang terkenal bertajuk History of Arab, juga mengakui bahawa peradaban Islamlah yang pertama kali mendirikan apotek.
''Selain itu, peradaban Islam juga merupakan pendiri sekolah farmasi pertama,'' ungkap K Hitti. Ia juga membuktikan bahwa umat Muslim di era kekhalifahan sebagai pencipta pharmacopoeia yang pertama. Perkembangan ilmu farmasi yang begitu cepat, membuat apotek atau toko-toko obat tumbuh menjamur di kota-kota Islam.
Hampir di setiap rumah sakit besar di kota-kota Islam dilengkapi dengan apotek atau instalasi farmakologi. Apotek-apotek itu dikelola oleh apoteker yang menguasai ilmu peracikan obat. ''Kaum Muslimin menyumbang begitu banyak hal terhadap perkembangan apotek atau obat,'' ungkap Howard R Turner dalam bukunya bertajuk Science in Medievel Islam .
Di era kejayaan Islam, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang banyak jumlahnya tak cuma hadir di kota Baghdad - kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah - namun juga di kota-kota Islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan, serta menjaga aneka obat-obatan.
Pemerintah Muslim pun turun mendukung pembangunan di bidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar.Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek swasta dan pemerintah diawasi secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib - semacam badan pengawas obat-obatan - mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan ukuran kemurnian dari obat yang digunakan.
Pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti yang telah diterapkan di era kekhalifahan Islam.
Perkembangan ilmu botani dan kimia telah mendorong umat Muslim untuk mengembangkan farmasi. Pada masa itu, ilmuwan Muslim seperti Muhammad ibnu Zakariya al-Razi (865-915 M) alias Razes turut mengembangkan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan. Selain itu, dokter dan ahli farmasi Muslim lainnya Abu al-Qasim al-Zahrawi alias Abulcasis (936-1013 M) juga tercatat sebagai saintis perintis dalam bidang distiliasi dan sublimasi.
Tak cuma itu, Sabur ibnu Sahl (wafat 869 M), juga tercatat sebagai dokter pertama yang mencetuskan pharmacopoedia. Ia telah menjelaskan beragam jenis obat-obatan untuk mengobati penyakit. Saintis Muslim lainnya yang turut menopang tumbuhnya aoptek di era Islam adalah al-Biruni (973-1050 M). Sang ilmuwan legendaris Islam itu telah menulis buku farmakologi yang sangat berharga bertajuk Kitab al-Saydalah ( Buku tentang Obat-obatan).
Dalam kitabnya itu, al-Biruni menjelaskan secara detail pengetahuan mengenai peralatan untuk pembuatan oba-obatan, peran farmasi, fungsi serta tugas apoteker. Ia juga menjelaskan tentang apotek. Ilmuwan Muslim lainnya, Ibnu Sina alias Avicenna juga menulis tak kurang dari 700 persiapan pembuatan obat, peralatannya, kegunaan dan khasiat obat -obatan tersebut. Kontribusi Ibnu Sina dalam bidang farmasi itu dituliskannya dalam bukunya yang sangat monumental Canon of Medicine.
Ilmuwan Muslim lainnya yang turut menopang berdiri serta berkembangnya apotek di dunia Islam adalah al-Maridini dan Ibnu al-Wafid (1008-1074). Kedua karya ilmuwan Muslim itu telah dicetak dalam bahasa Latin lebih dari 50 kali. Kitab yang ditulis keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul De Medicinis universalibus et particularibus dan Medicamentis simplicibus.
”Kaum Muslimin telah menyumbang banyak hal dalam bidang farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa terhadap Barat,” papar Turner. Menurut Turner, para sarjana Muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan sederet obat herbal yang terbukti berkhasiat untuk kesehatan, seperti, adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur, serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan.
Menurut K Hitti, kemajuan peradaban Islam dalam farmasi dan apotek ditopang oleh banyaknya buku dalam bidang farmakologi yang ditulis ilmuwan Muslim. K Hitti mencatat, buku farmakologi pertama di dunia Islam ditulis oleh Jabir bin Hayyan. Selain itu, ada pula karya al-Razi, Ibnu Sina, Tabari dan d Majusi. ''al-Razi dan Ibnu Sina adalah dua dokter yang paling terkemuka di zamannya,'' ujar K Hitti.
Sejak dulu, apotek yang dikelola apoteker merupakan bagian yang tak terpisahkan dari institusi rumah sakit. Hal itu sama halnya dengan farmasi dan farmakologi yang juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah.
Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke-8 M, membuat farmakolog menjadi profesi yang independen dan farmakologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Menurut Howard R Turner, praktisi seperti herbalis, kolektor, penjual tumbuhan, rempah-rempah untuk obat-obatan, penjual dan pembuat sirup, kosmetik, air aromatik, serta apoteker merupakan profesi yang menopang geliat farmasi di dunia Islam. heri ruslan
Ilmuwan Muslim Penopang Apotek
* Abu Ja’far Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)
Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami’ Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam metodelogi, eksperimen, serta observasi dalam farmakologi dan farmasi.
* Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M)
Ibnu Sahal adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopoeia. Kontribusinya dalam bidang farmakologi dan farmasi juga terbilang mata besar. Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan. Sumbangannya untuk pengembangan farmakologi dan farmasi dituangkannya dalam kitab Al-Aqrabadhin.
* Yuhanna Ibnu Masawayh (777 M - 857 M)
Orang Barat menyebutnya Mesue. Ibnu Masawayh merupakan anak seorang apoteker. Kontribusinya juga terbilang penting dalam pengembangan farmasi dan farmakologi. Dalam kitab yang ditulisnya, Ibnu Masawayh membuat daftar sekitar 30 macam aromatik.Salah satu karya Ibnu Masawayh yang terkenal adalah kitab Al-Mushajjar Al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut pengobatannya melalui obat-obatan serta diet.
* Abu Hasan ‘Ali bin Sahl Rabban at- Tabari
At-Tabari lahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh Khalifah Al-Mu’tasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan At-Tabari dalam bidang farmakologi adalah dengan menulis sejumlah kitab. Salah satunya yang terkenal adalah Paradise of Wisdom. Dalam kitab ini dibahas mengenai pengobatan menggunakan binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara pembuatannya. hri
Selengkapnya.....
Kamis, 07 Mei 2009
DI EROPA, ISLAM SEMAKIN DIMINATI

Menjelajahi tiga negara Eropa: Belanda, Jerman, dan Belgia, kita dengan mudah menemui para wanita berjilbab, baik tua maupun remaja. Mereka berbusana Muslimah saat berada di jalan, kendaraan, pasar, dan pusatpusat keramaian.
Imigran asal Turki, misalnya, kalau di negaranya yang sekuler kerap menghadapi kendala saat mengenakan jilbab, tidak demikian di ketiga negara Eropa Barat itu. Selain warga Turki, Muslimah asal Maroko, Afrika Utara, yang tinggal di Eropa juga tak lepas dari jilbab. Imigran asal kedua negara Muslim itu mendominasi umat Islam di Belanda, Jerman, dan Belgia.
Ketika mengunjungi Masjid Al-Aksa di Den Haag, Republika menemui sekitar dua puluhan pemuda dan pelajar Belanda yang sedang belajar Islam. Recep Canir seorang voorzitter atau pengurus masjid itu dengan cekatan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan para pemuda.
Kepada Republika yang menunggunya sekitar satu jam, pria berusia 50 tahun itu dengan bangga mengungkapkan, Masjid Al-Aksa telah berfungsi sejak 27 Juli 1979. Menurut dia, awalnya masjid itu adalah sebuah sinagog ¡Âª tempat peribadatan Yahudi. Masyarakat imigran Turki sepakat memberi nama masjid itu Al-Aksa, diambil dari tempat suci pertama umat Islam.
Di Kota Den Haag, pusat administrasi Pemerintahan Belanda, terdapat tak kurang dari 25 masjid. Masjid atau mushala itu ada yang berasal dari gereja, pertokoan, atau gedung tua.
Bukan hanya para imigran Turki dan Maroko yang banyak membangun tempat peribadatan, juga kaum Muslimin yang berasal dari Suriname (sebagian etnis Jawa yang dikirim pemerintah kolonial ke daerah di Amerika Latin itu pada abad ke-19), maupun warga Suriname yang berasal dari etnis India.
Di seantero negeri kincir angin itu, terdapat sekitar 600 sampai 700 masjid, dengan jumlah umat Islam lebih dari 1,5 juta jiwa. Republika sempat menyusuri kota kecil Leiden, yang berpenduduk 125 ribu jiwa. Di kota itu, terdapat tiga buah masjid, dua masjid dibangun imigran Maroko dan sebuah masjid didirikan imigran Turki.
Islam kian berkembang di Eropa. Perlahan namun pasti masyarakat Eropa mulai tertarik memeluk Islam. Paul (61), seorang mualaf Belanda yang setelah Islam mengubah namanya menjadi Ahmad Fauzi Nobel, mengaku telah belasan tahun memeluk Islam. Kepada Republika, dia mengemukakan semakin mantap dengan Islam yang disebutkan sebagai agama rahmatan lilalamin.
Ia menolak dengan tegas pendapat sementara pihak di Barat yang menyebut Islam sebagai agama teroris dan kekerasan. Menurut dia, sebetulnya banyak warga Belanda yang kini memeluk Islam. Tapi, mereka masih merahasiakan identitasnya,tutur Paul.
Hal itu dibenarkan Lusi Sihabuddin yang sejak 1990-an tinggal di Belanda. Wanita dua anak itu menetap di Rotterdam. Menurutnya, di Rotterdam, terdapat lima buah masjid, dua masjid Maroko, dan tiga masjid Turki. Lusi kini tengah mengumpulkan dana untuk membangun sebuah masjid Indonesia bersama dengan masyarakat Suriname.
Fenomena serupa juga terjadi di Jerman. Dr Fuad Jindan (38) menuturkan, imigran Turki mulai banyak berdatangan ke Jerman, ketika negara itu hancur akibat Perang Dunia II. Mereka bekerja membangun gedung, bangunan, dan jalan kereta api. Sebagai tanda terima kasih, para imigran asal Turki itu diperbolehkan untuk mendatangkan istrinya.
Seperti halnya di Belanda dan Belgia, berbusana Muslimah tak jadi masalah di Jerman. Menurut Fuad, jumlah umat Muslim di negeri panser itu berkembang pesat. Pada 2008 saja, sekitar 2.000 warga Jerman telah memeluk Islam. Tak heran jika jumlah orang Jerman yang ingin menunaikan ibadah haji pun terus bertambah.
Umat Muslim yang ingin menunaikan ibadah haji difasilitasi oleh Yayasan Pengiriman Haji yang dipimpin Wolf Garing Muhammad Sidik. Pria kelahiran Jerman itu merupakan alumnus Universitas Madinah. Setiap tahun, ia memberangkatkan 400 Muslim untuk menunaikan rukun Islam kelima. Padahal, setiap tahunnya lebih dari 900 orang yang mendaftar haji.
Berkembangnya Islam di Eropa tentu saja mendapat tantangan keras, terutama dari kelompok Yahudi. Suratkabar Der Spiegel dan Focus tanpa mengenal ampun terus menjelekjelekkan Islam. Sementara Pemerintah Jerman, takut terhadap Yahudi kalau harus membayar uang duka terhadap pembantaian warga Yahudi oleh Hitler. Meski orang Jerman sendiri tidak percaya kalau peristiwa itu benar-benar terjadi. Masjid juga tersebar di berbagai kota di Jerman, seperti Koln, Berlin, dan Munchen. Seperti halnya di Belanda dan Belgia, mereka membeli gedung-gedung dan perumahan untuk dijadikan sebagai tempat ibadah. /alwi shahab/rep
Selengkapnya.....
Jumat, 01 Mei 2009
FENOMENA: AWAS PANDEMI "FLU BABI"

Dunia kini di ambang pandemi ”flu babi” H1N1. Setelah penyebaran virus yang menewaskan sekitar 176 orang di Meksiko ini meluas ke sejumlah negara, Organisasi Kesehatan Dunia, Kamis (30/4), meningkatkan kewaspadaan pandemi dari fase 4 ke fase 5. Evy Rachmawati
Ini berarti sumber penularan adalah manusia yang terinfeksi virus itu. Tinggal selangkah lagi akan terjadi pandemi influenza di dunia. Menurut Direktur Jenderal WHO Margaret Chan, dalam situs WHO, peningkatan level kewaspadaan pandemi influenza ini berdasarkan data penyebaran virus H1N1 dan konsultasi dengan para pakar.
Fase 5 ditandai penularan antarmanusia yang menyebar setidaknya di dua negara di dalam satu kawasan WHO. Fase ini merupakan sinyal kuat bahwa pandemi sudah mengancam. Jika ada deklarasi fase 6, itu berarti sedang terjadi pandemi di mana ada kejadian luar biasa influenza di negara lain di luar kawasan WHO di fase 5.
Atas dasar itu, WHO menyerukan agar semua negara di dunia segera mengaktifkan rencana kesiapsiagaan menghadapi pandemi. Pada tahap ini, hal mendasar yang harus dilakukan antara lain surveilans, deteksi secara dini, penanganan kasus, dan pengendalian infeksi di semua fasilitas kesehatan.
Sejauh ini belum dilaporkan adanya penularan virus baru H1N1 di Indonesia. Potensi berkembangnya virus baru H1N1 di Tanah Air menimbulkan polemik. Menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, virus baru H1N1 tak dapat bertahan di negara tropis seperti Indonesia. Virus itu hanya bertahan di negara-negara subtropis-empat musim. Virus itu juga dinilai tidak seganas virus flu burung H5N1. Sebab, tingkat kematiannya hanya sekitar 6,4 persen, sedangkan tingkat kematian virus H5N1 lebih dari 80 persen.
Namun, Ketua Panel Ahli Komisi Nasional Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) Amin Soebandrio menyatakan, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan virus baru H1N1 tidak bisa muncul di Indonesia.
”Virus ini berpotensi muncul di Indonesia karena baru mati pada suhu 70 derajat celsius,” ujarnya. Pada suhu udara seperti di Indonesia, virus itu masih bisa hidup. Kemudahan akses transportasi juga membuat mobilitas penduduk antarnegara tinggi yang memicu penyebaran virus itu ke banyak negara.
Kasus H1N1 pada manusia menjadi pandemi di Spanyol pada 1918. Di Indonesia, laporan medis zaman Belanda menyebutkan, saat terjadi pandemi juga ditemukan kasus-kasus dengan gejala sama di Pulau Jawa.
Penularan antarmanusia
Ketika virus influenza dari spesies berbeda menulari babi, virus bisa saling bertukar gen dan menimbulkan virus baru, gabungan virus influenza babi, manusia, dan burung. Virus yang mewabah saat ini ditularkan dari satu orang ke orang lain lewat udara. ”Percampuran virus babi, unggas, dan manusia meningkatkan risiko pandemi,” kata Amin.
Menurut buku Influenza karya Jan C Wilschut, Janet E McElhaney, dan Abraham M Palache, ada beberapa cara munculnya virus subtipe baru yang menular ke manusia. Pertama, virus unggas ditularkan langsung ke manusia dan beradaptasi ke ”host” baru dengan bermutasi. Kedua, virus influenza manusia bercampur virus unggas dalam proses saling bertukar gen. Ketiga, virus lama manusia yang telah bersirkulasi muncul lagi ke populasi manusia.
Kepala Laboratorium Flu Unggas Universitas Airlangga CA Nidom menjelaskan, virus H1N1 di Indonesia sudah ada sejak dulu dengan subtipe H1N1 klasik yang tak berbahaya. ”Virus H1N1 tipe Meksiko atau dikenal sebagai flu babi ini berbahaya, cepat menyebar, dan daya rusak rendah. Yang dikhawatirkan apabila hasil penyusunan ulang menghasilkan virus cepat menular dengan daya rusak tinggi,” kata Nidom.
Secara teoretis, virus di unggas tidak bisa langsung ke mamalia seperti manusia. Harus ada perantara mamalia lain. Kemungkinan besar itu babi. Di tubuh babi, virus berubah dengan dua pola, yaitu adaptasi tanpa mengubah struktur virus. Pola kedua, penyusunan ulang virus hingga jadi gabungan flu babi, flu unggas, dan flu manusia yang lebih berbahaya.
”Jika itu terjadi, virus H1N1 tipe Meksiko bisa berkembang di Indonesia, apalagi banyak peternakan ayam dan babi berdekatan,” kata Nidom. Karena itu, prinsip dasar biosekuritas perlu lebih diperhatikan: tata letak dan restrukturisasi pengelolaan biosekuritas peternakan.
Sejauh ini, pemerintah menyatakan siap melaksanakan rencana kesiapsiagaan pandemi influenza. Dengan angka kasus flu burung tertinggi di dunia, Indonesia telah mengadakan simulasi besar pandemi influenza di Bali dan Makassar, serta simulasi kecil di hampir 20 desa.
Upaya lain adalah menghidupkan surveilans, menyiapkan rumah sakit rujukan, dan persediaan obat oseltamivir. Di sejumlah bandara dan pelabuhan, para penumpang dari luar negeri diperiksa dengan pemindai suhu badan. Jika suhu badan di atas 39 derajat celsius, penumpang dibawa ke ruang karantina.
Sejumlah daerah mengintensifkan pemantauan ternak babi dari ancaman virus H1N1 dan menerapkan biosekuritas di peternakan babi. Di Kulon Progo, misalnya, petugas diterjunkan memantau ternak babi dan menyelidiki kesehatan warga sekitarnya. Setiap hari, kotoran babi dibersihkan dan ternak dimandikan.(rep)
Selengkapnya.....
PENGALAMAN "ISLAM" MUSTAFA GARMENT: MENEMUKAN ISLAM DISAAT TERSULIT

NEW YORK — Buku yang terletak di meja kantor Mustafa Garment berjudul "'Merubah' Rencana Permainan Anda. Bagi lelaki Afrika-Amerika yang memutuskan berpisah dari kehidupan kriminalnya dengan memeluk Islam, buku tersebut terkait erat ketimbang buku-buku yang pernah ada.
"Saya dapat katakan dengan mengubah rencana permainan, mengubah cara berpikir, karena seperti itulah cerita hidup saya," ungkap Mustafa, seorang kordinator forensik di Mahkamah Kesehatan Mental Brooklyn.
Mustafa, bercambang dan berpenuturan lemah lembut, 64 tahun itu tak sama dengan ia saat 20 puluh tahun lalu. Kini ia bekerja di Pengadilan Kesehatan Mental, sebuah lembaga yang berafiliasi dengan Mahkamah Tinggi Negara Bagian New York. Ia membantu penghuni penjara yang mengalami sakit mental dan kecanduan obat, mendapat perawatan layak
Tak ada satupun, menurut para sipir, yang dapat membantu lebih baik ketimbang Mustafa, lelaki yang telah menghabiskan awal kehidupannnya berjuang tanpa rumah dalam kecanduan obat-obatan dan alkohol.
Tumbuh besar di lingkungan sangat miskin, Harlem, masa kecil Mustafa diliputi penderitaan. "Saya ingat ketika luar biasa lapar. Saya ingat merasa begitu lemah karena kelaparan," ungkapnya.
Sentuhan pertamanya dengan narkoba dan alkohol--yang lantas menjadi bagian gaya hidup selama 30 tahun kemudian--terjadi saat Mustafa berusia 13 tahun.
Ia mengatakan untuk diterima di kalangan temanya ia mesti terlibat dalam rutinitas merokok mariyuana dan minum anggur.
"Saya sering bertemu dengan ibu saya di bar," ujarnya menuturkan dirinya yang dulu. Ia putus sekolah di tingkat menengah di awal masuk SMP.
Namun ketika ia mulai berkenalan dengan crack, istilah kokain khusus untuk rokok, gaya hidup kecanduan Mustafa mencapai klimaksnya.
Ia mulai mengambil barang-barang dan mencuri dan bahkan menjual narkoba demi memenuhi nafsu kecanduannya. "Ketika anda kecanduan kokain, pikiran pertama yang merasuki adalah bagaimana cara untuk mendapatkan lagi," ujarnya.
Mustafa pun tumbuh menjadi lelaki getir pemarah yang keluar masuk penjara lebih 30 kali gara-gara dakwaan tindak kriminal mulai dari pengedar hingga perampokan
Titik Balik
Berada di lingkaran narkoba dan penjara, Mustafa yang dibesarkan sebagai seorang Katholik, bersentuhan dengan Islam pada 1972. Pada usia 27 tahun ia sebenarnya telah berpindah agama dan menikah dengan wanita Muslim.
Namun Mustafa mengakui jika perpindahan agama yang ia lakukan sebatas administasi, dan itu tidak menghentikannya dari tindak kriminal dan gaya hidupnya.
"Saya dulu tidak berpikir tentang mengubah rencana permainan saya," ujarnya.
Saat ia tetap meneruskan hidup dalam cengkeraman narkoba dan penjara, istrinya, seorang Muslim akhirnya menuntut cerai.
Akhirnya pada 1998, setelah sekurangnya 40 tahun hidup di jalan, bertahan dari sup-sup sisa dapur restoran, mencuri dan menggunakan narkoba, Mustafa memutuskan untuk membuka lembar baru untuk dirinya.
Ia mulai mendatangi pertemuan Narkotik Tanpa Nama dan mencari bantuan dari The Bridge, sebuah organisasi yang membantu kaum gelandangan, dan mereka yang terkena masalah kekerasan.
Disanalah Mustafa kemudian bertemu Amin, pemandu Muslimnya yang membimbing ia menjadi Muslim sesungguhya saat dalam masa penyembuhan.
Amin sendiri ialah mantan pecandu heroin dan pasien AIDS. Ia mengenalkan Mustafa kepada Milliati Islami--program penyembuhan narkoba berdasar prinsip-prinsip Islam.
"Kita berbicara tentang mendekat kepada Allah, dan beribadah serta berdoa," kenang Mustafa.
Lucille Jackson, salah satu pengelola yang dulu menjalankan The Bridges, menyatakan penemuan kembali Mustafa atas islam menjadi salah satu titik baliknya.
"Ia mengambil manfaat dengan pandangan positif terhadap apa yang terjadi di sekitarnya nya. Ia menjadikan pengetahuan tersebut dengan sebaik-baiknya," kata Lucille.
Membantu Orang Lain
Lucille sangat terkesan hingga ia memutuskan memberi Mustafa pekerjaan di organisasi tersebut meski ia tengah menjalani penyembuhan.
Ketika Lucille menjadi Direktur Proyek Pengadilan Kesehatan Mental Brooklyn, ia ingin pula mempekerjakan Mustafa sebagai kordinator forensik. Namun karena catatan kriminal yang berderet, Lucille pun mesti mendapat ijin khusus dari pengadilan tinggi negara bagian. Wanita itu pun mendapatkan ijin tersebut.
Pekerjaan Mustafa melibatkan para penghuni penjara dengan layanan yang dibutuhkan untuk menyembuhkan gangguan mental dan masalah kekerasan yang mereka hadapi. Selain itu ia juga kerap memberi bantuan terhadap pengangguran dan gelandangan.
Meski ia tidak diminta berbagi pengalamannya dengan para pasien, Ia dengan suka rela membuka masa lalunya jika ia pikir itu akan membantu seseorang, terutama pemuda yang hidup dalam trauma tragedinya.
"Saya melihat hidup mereka dipotong. Saya akan memperlakukan mereka sebagai anak saya. Saya selalu katakan,'Raihlah pendidikan. Jangan lakukan itu terhadap dirimu sendiri," ujarnya.
Lucille melabeli dedikasi Mustafa sangat istimewa. "Ia adalah sosok manusia luar biasa," ujarnya.
"Ia tidak pernah membiarkan satu pun menghalangi jalannya dalam membantu klien. Bahkan jika perlu ia akan menempuh ekstra kilometer untuk sampai kesana," kata Lucille.
Saat ini, ayah sekaligus seorang kakek itu mengaku bersyukur saban hari telah menemukan Islam kembali selama masa sulit dalam hidupnya.
Selain pekerjaanya, Mustafa juga menyelesaikan Peningkatan Pendidikan Umum (GED). Ia juga cemerlang dalam kelas Bahasa Arab yang ia ambil demi upayanya memahami Al Qur'an secara penuh.
Mustafa bahkan berencana mengambil kuliah Studi Islam suatu hari kelak.
"Ketika kamu muda, kami terbiasa menyalahkan semua hal pada pria kulit putih," kenangnya.
"Namun kini saya seorang Muslim. Kondisi saya bergantung pada upaya dan kehendak Allah," ujarnya./iol/itz
Selengkapnya.....
Prof.Dr. Jeffrey Lang : Hidayah dari Hadiah Al-Quran

Adam diturunkan ke bumi bukan karena dosa yang diperbuatnya, melainkan karena Allah SWT menginginkan seorang khalifah di bumi untuk mengatur dan menyejahterakan alam.’’ (Jeffrey Lang).
Prof Dr Jeffrey Lang,nama lengkapnya.Sehari-hari dia be -kerja sebagai dosendan peneliti bidangmatematika di Uni -versitas Kansas, salahsatu universitasterkemuka di Amerika Serikat. Gelar master dan doktor matematika diraihnya dari Purdue University pada tahun 1981. Ia dilahirkan dalam sebuah ke luarga penganut paham Katolik Roma di Bridgeport, Connecticut, pada 30 Januari 1954.
Pendidikan dasar hingga menengah ia jalani di sekolah berlatar Katolik Roma selama hampir 18 tahun. Selama itu pula, menurut Lang—sebagaimana ditulis dalam catatan hariannya tentang perjalanannya mencari Islam— menyisakan banyak pertanyaan tak berjawab dalam dirinya tentang Tuhan dan filosofiajaran Kristen yang dianutnya selama ini.
‘’Seperti kebanyakan anak-anak lain di kisaran tahun 1960-an hingga awal 1970-an, saya melewati masa kecil yang penuh keceriaan. Bedanya, pada masa itu, saya sudah mulai banyak bertanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik itu secara politik, sosial, maupun keagamaan. Saya bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan, termasuk para pemuka gereja Katolik,’’ paparnya.
Menginjak usia 18 tahun, Lang remaja memutuskan menjadi seorang atheis. ‘’Jika Tuhan itu ada dan Dia punya belas kasih dan sayang, lalu mengapa ada begitu banyak penderitaan di atas bumi ini? Mengapa Dia tidak masukkan saja kita semua ke dalam surga? Mengapa juga dia menciptakan orang-orang di atas bumi ini dengan berbagai penderitaan?’’ kisah Lang tentang kegelisahan hatinya kala itu. Selama bertahun-tahun, pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menggelayuti pikirannya.
Dihadiahi Alquran akhirnya Lang baru mendapat jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut ketika ia bekerja sebagai salah seorang asisten dosen di Jurusan Matematika, Universitas San Francisco. Di sanalah, ia menemukan petunjuk bahwa Tuhan itu ada dan nyata dalam kehidupan ini. Petunjuk itu ia dapatkan dari beberapa mahasiswanya yang beragama Islam.
Saat pertama kali memberi kuliah di Universitas San Francisco, Lang bertemu dengan seorang mahasiswa Muslim yang mengambil mata kuliah matematika. Ia pun langsung akrab dengan mahasiswa itu. Mahmoud Qandeel, nama mahasiswa tersebut. Dia berasal dari Arab Saudi.
Mahmoud, kata Lang, telah memberi banyak masukan kepadanya mengenai Islam. Menariknya, semua diskusi mereka menyangkut dengan sains dan teknologi. Salah satu yang pernah didiskusikan Lang dan Qandeel adalah riset kedokteran. Lang dibuat terpana oleh jawaban Qandeel, yang di negaranya adalah seorang mayor polisi.
Qandeel menjawab semua pertanyaan dengan sempurna sekali dan dengan menggunakan bahasa Inggris yang bagus.
Ketika pihak kampus mengadakan acara perpisahan di luar kampus yang dihadiri oleh semua dosen dan mahasiswa, Qandeel menghadiahi asisten dosen itu sebuah Alquran dan beberapa buku mengenai Islam.
Atas inisiatifnya sendiri, Lang pun mempelajari isi Alquran itu. Bahkan, buku-buku Islam tersebut dibacanya hingga tuntas. Dia mengaku kagum dengan Alquran. Dua juz pertama dari Alquran yang dipelajarinya telah mem buat dia takjub dan bagai terhipnotis.
‘’Tiap malam muncul beraneka ma cam pertanyaan dalam diri saya. Tapi, entah mengapa, jawabannya segera saya temukan esok harinya. Seakan ada yang membaca pikiran saya dan menuliskannya di setiap baris Alquran. Saya seakan menemukan diri saya di tiap halaman Alquran,’’ ungkap Lang.
Telaah Alquran Sebagai seorang pakar dalam bidang matematika dan dikenal sebagai seorang peneliti, penjelasan yang didapatkannya tidak langsung ia percayai begitu saja. Ia meneliti dan menelaah secara lebih mendalam ayatayat Alquran. Beberapa ayat yang membuatnya kagum dan telah membandingkannya dengan ajarannya yang lama adalah ayat 30-39 surah Albaqarah tentang penciptaan Adam.
Dalam bukunya Losing My Religion: A Call for Help, Jeffrey Lang secara lengkap menjelaskan pergulatannya dalam memahami ayat 30-39 surah Albaqarah tersebut.
‘’Saya membaca ayat tersebut beberapa kali, namun tak kunjung sanggup menangkap apa maksud Alquran,’’ ujarnya. ‘’Bagi saya, Alquran sepertinya sedang menyampaikan sesuatu yang sangat mendasar atau mungkin keliru. Lalu, saya membacanya lagi secara perlahan dan saksama, baris demi baris, untuk memastikan pesan yang di -sampaikan,’’ lanjutnya.
Ketika membaca ayat ke-30 surah Albaqarah, ‘’Dan, ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Malaikat berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi, mereka adalah orang-orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Padahal, kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan Engkau?’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.’’ Menurut Lang, ayat ini sangat mengganggunya. ‘’Saya merasa sangat kesepian. Seakan-akan penulis kitab suci ini telah menarik diri saya ke dalam ruang hampa dan sunyi untuk berbicara langsung dengan saya,’’ ujarnya.
‘’Saya berpikir, keterangan ayat tersebut ada sesuatu yang keliru. Saya protes. Lalu, saya baca lagi. Saya amati dengan saksama. Sebab, menurut ajaran yang pernah saya dapatkan, diturunkannya Adam ke bumi bukan menjadi khalifah, tetapi sebagai hukuman lantaran dosa Adam. Namun, dalam Alquran, tidak ada satu kata pun yang menjelaskan sebab-sebab diturunkan Adam karena perbuatan dosa,’’ jelasnya.
Menurut Lang, pertanyaan yang di utarakannya sama dengan pertanyaan malaikat yang menyatakan bahwa manusia itu berbuat kerusakan.
‘’Tapi, saya merasa ada sesuatu yang lain dari keterangan ayat selanjutnya.
Allah hanya menjawab, ‘Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’ Jawaban ini terkesan sederhana dan enteng, namun mengandung makna yang dalam,’’ ungkapnya.
Lang menjelaskan, dalam Alkitab, jawaban Tuhan atas pertanyaan malaikat disampaikan tentang hukuman yang diberikan karena berbuat dosa. ‘’Penjelasan ini berbeda dengan Alquran. Alquran menjawab pertanyaan para malaikat dengan memperlihatkan kemampuan manusia, pilihan moral, dan bimbingan Ilahi.
Allah mengajarkan manusia (Adam) nama-nama benda.’’ ‘’Ayat tersebut menunjukkan kemu liaan dan kemampuan manusia yang tidak diberikan kepada malaikat,’’ ujarnya.
Bahkan, pada ayat ke-39 dite rangkan, ‘’Adapun orang-orang yang tidak beriman dan mendustakan ayatayat Kami, mereka adalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya.’’ ‘’Saya merasa ayat ini makin kuat menyerang saya. Namun, saya semakin percaya akan kebenaran Alquran dan meyakini agama Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW,’’ jelasnya.
Islam rasional
Sekitar tahun 1980-an, belum banyak pelajar Muslim yangmenuntut ilmu di UniversitasSan Francisco. Sehingga, kalau bertemu dengan mahasiswa Muslim di area kampus, menurut Lang, itu merupakan hal yang sangat langka.
Ada cerita menarik tatkala Lang sedang menelusuri kampus. Secara tak terduga, ia menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja. Ruang tersebut rupanya dipakai oleh beberapa mahasiswa Islam untuk menunaikan shalat lima waktu.
Kepalanya dipenuhi tanda tanya dan rasa ingin tahu. Dia pun memutuskan masuk ke tempat shalat tersebut.
Waktu itu, bertepatan dengan waktu shalat Zuhur. Oleh para mahasiswanya, dia pun diajak untuk ikut shalat. Dia berdiri persis di belakang salah seorang mahasiswa dan mengikuti setiap gerakannya.
Dengan para mahasiswa Muslim ini, Lang berdiksusi tentang masalah agama, termasuk semua pertanyaan yang selama ini tersimpan dalam kepalanya. ‘’Sungguh luar biasa, saya benar-benar terkejut sekali dengan cara mereka menjelaskan. Masuk akal dan mudah dicerna. Ternyata, jawabannya ada dalam ajaran Islam,’’ tuturnya.
Sejak saat itu, Lang pun memutuskan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat. Dia menjadi seorang mualaf pada awal 1980. Ia mengaku bahwa dengan menjadi seorang Muslim, banyak sekali kepuasan batin yang didapatkannya.
Itulah kisah perjalanan spiritual sang profesor yang juga meraih karier bagus di bidang matematika. Dia mengaku sangat terinspirasi dengan matematika yang menurutnya logis dan berisi faktafakta berupa data riil untuk menda patkan jawaban konkret.
‘’Dengan cara seperti itulah, saya bekerja. Adakalanya, saya frustrasi ketika ingin mencari sesuatu, tapi tidak mendapat jawaban yang konkret. Namun, dengan Islam, semuanya rasional, masuk akal, dan mudah dicerna,’’ tukasnya.
Prof Lang saat ini ditunjuk oleh fakultasnya sebagai pembina organisasi Aso siasi Mahasiswa Islam guna menjembatani para pelajar Muslim dengan pihak universitas. Tak hanya itu, dia bah kan ditunjuk untuk memberikan ma ta kuliah agama Islam oleh pihak rektorat.
Ia menikah dengan seorang perempuan Arab Saudi bernama Raika pada tahun 1994. Mereka dikaruniai tiga anak, yakni Jameelah, Sarah, dan Fattin. Selain menulis ratusan artikel ilmiah bidang matematika, dia juga telah menulis beberapa buku Islam yang menjadi rujukan komunitas Muslim Amerika. Even Angels ask: A Journey to Islam in America adalah salah satu buku best seller-nya. Dalam buku itu, dia menulis kisah perjalanan spiritualnya hingga memeluk Islam.
Beberapa tahun belakangan ini, Lang aktif pada banyak kegiatan Islami dan dia merupakan pembicara inspirasional yang paling terkenal di sebuah organi sasi pendidikan bernama Mecca Centric. Di sana, dia melayani konsultasi segala sesuatu tentang Islam ataupun kegiatan kepemudaan.sya/dia/berbagai sumber/kem
Selengkapnya.....
Kamis, 30 April 2009
ANTISIPASI FLU BABI, INDONESIA SIAPKAN 3 JUTA DOSIS OBAT

Untuk mengantisipasi penularan virus flu babi H1N1 di Indonesia, Departemen Kesehatan menyiapkan 3 juta dosis obat yang pada dasarnya sama dengan untuk flu burung H5N1, yaitu oseltamivir.
Demikian dikatakan Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Departemen Kesehatan Rita Kusriastuti saat dihubungi, Rabu (29/4) di Jakarta. Obat dari pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ada 3 juta dosis. Persediaan bantuan internasional yang ada di Indonesia 1,9 juta dosis.
Masih ada persediaan cadangan untuk negara-negara Asia, 5 juta dosis, yang tersedia di Singapura. Indonesia bisa mengambilnya jika perlu.
Depkes juga menyiapkan 100 rumah sakit rujukan yang berkemampuan menangani kasus flu babi. Tiap rumah sakit itu memiliki ruang isolasi pasien, ventilator, dan beberapa fasilitas kesehatan lain. Simulasi pandemi influenza juga sudah beberapa kali dilakukan di sejumlah tempat, antara lain RSUP Dr Sardjito di Yogyakarta, kemarin.
Pihak RSUP Dr Sardjito menyiapkan 12 kamar, empat di antaranya kamar isolasi penuh dilengkapi dengan fasilitas khusus, termasuk masker N95 (khusus flu babi). Persediaan tamiflu pun masih cukup. ”Jika ada pasien masuk, ada 22 perawat dan 20 dokter,” ujar Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Heru Trisno Nugroho.
Di Jawa Barat, selain RS Hasan Sadikin (RSHS), Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Subang, Garut, Cirebon, dan Kota Sukabumi juga siap menjadi rujukan pasien flu babi.
”Cara penanggulangan flu burung dan flu babi hampir sama. Dengan pengalaman menangani kasus flu burung, kita relatif siap,” kata Rita.
Persediaan tamiflu di Jabar tergolong cukup, ada 2.000-an dosis disimpan dinas kesehatan dan 7.000 dosis di RSHS.
Adapun Bali sebagai daerah kunjungan wisata utama dunia menyiagakan RSUP Sanglah yang selama ini menjadi RS rujukan utama. Persediaan tamiflu pun mencukupi.
Sementara itu, alat pemindai suhu tubuh (thermoscanner) di Bandara Internasional Adisumarmo, Surakarta, Jawa Tengah, mendapati seorang penumpang dari Malaysia dengan suhu tubuh mencapai 40° celsius. Penumpang yang merupakan tenaga kerja Indonesia itu sempat diwawancarai, tetapi ia lalu dibolehkan melanjutkan perjalanan. Hal itu mengingat dalam seminggu terakhir ia hanya menetap di Malaysia yang masih dinyatakan bebas flu burung dan flu babi.
Dengan belum adanya pengumuman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang flu babi, menurut dokter pada Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang Wilayah Kerja Bandara Adisumarmo, dr Arqu Aminuzzab, ”Kami tidak bisa membawa ke ruang karantina karena mengganggu kenyamanan perjalanan mereka.” (Kps)
Selengkapnya.....
YANG PERLU DIKETAHUI TENTANG VIRUS FLU BABI

Virus mematikan flu babi yang belum pernah ditemukan sebelumnya telah mewabah di Meksiko. Setidaknya 81 orang telah meninggal dan menimbulkan kekhawatiran terjadinya pandemi.
ADVERTISEMENT
Berikut sejumlah fakta yang perlu diketahui mengenai virus strain baru ini:
Flu babi sebenarnya merupakan penyakit influenza yang disebabkan virus influenza A subtipe H1N1. Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengkonfirmasi bahwa beberapa kasus flu babi yang muncul di Meksiko merupakan strain baru virus H1N1 yang belum pernah ditemukan.
Karena itu meski namanya flu babi, namun strain baru ini belum pernah ditemukan pada babi. Ancaman penyakit ini justru pada transmisi dari orang ke orang. Demikian seperti dilansir Reuters, Senin (27/4/2009).
Virus ini secara genetik berbeda dengan virus influenza manusia H1N1 yang telah beredar secara global selama beberapa tahun terakhir. Virus flu baru ini mengandung DNA yang identik dengan virus avian, virus babi dan virus manusia, termasuk elemen-elemen dari virus babi Eropa dan Asia.
Menurut badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus ini menular dari orang ke orang. Penularannya melalui bersin, batuk atau ketika seseorang terkena virus ini dari tangan mereka yang tidak dicuci bersih.
Lantas bisahkah orang tertular flu babi dengan memakan daging babi? Menurut CDC, tidak, asalkan daging tersebut dimasak secara benar dan matang. Pematangan hingga suhu 160°F telah mematikan virus flu babi maupun virus-virus lain dan bakteri.
Sejak Desember 2005 hingga Februari 2009, telah dikonfirmasi adanya 12 kasus penderita flu babi. Namun dari semua kasus itu, hanya satu orang yang pernah melakukan kontak dengan babi. Saat itu belum ada bukti penularan orang ke orang dalam kasus tersebut.
Namun sejak Maret lalu, kasus ini mulai dilaporkan di Meksiko dan terus menyebar ke AS dan negara-negara lainnya.
Yang perlu diingat, virus flu terus bermutasi. Karena itulah vaksin flu berubah setiap tahun. Untuk virus flu babi yang baru ini belum ditemukan vaksinnya.
Selengkapnya.....
Selasa, 28 April 2009
MASJID SEBAGAI PUSAT GERAKAN

Saya sering kali menyebut masjid adalah bukan hanya semata-mata sebagai tempat untuk beribadah umat, melainkan juga sebagai pusat kebudayaan. Tetapi, saya lebih menekankan lagi, bahwa masjid sesungguhnya harus difungsikan dan diperuntukkan untuk semua gerakan dan kegiatan hajat manusia.
Semasa kepemimpinan Nabi Muhammad saw, sebagai pimpinan gerakan Islam dan sekaligus pimpinan umat, menjadikan masjid sebagai tempat pemersatu umat Islam dari beberapa suku dan golongan. Bahkan, menjadi pusat musyawarah untuk mencapai kompromi berbagai persoalan ekonomi, keluarga dll.
Sehingga tidak ayal lagi, segala perselisihan dan perbedaan umat dapat diselesaikan dalam musyawarah kesepakatan yang dilangsungkan di masjid.
Masjid keberadaannya bagi Muhammadiyah hendaknya menjadi pusat gerakan dakwah. Oleh karena itu, Persyarikatan Muhammadiyah selalu menganjurkan kepada seluruh anggotanya untuk mengembalikan masjid menjadi pusat untuk menggerakkan dakwah.
Di tingkat Pimpinan Ranting dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah harus ada pusat-pusat dakwah yang menyatu dengan masjid dan gedung perkantoran.
Kenyataannya, yang terjadi sekarang ini, masjid-masjid yang ada belum digunakan sebagaimana mestinya. Masih sebatas untuk penggunaan peribadatan, pintu masjid ditutup jika usai shalat Isa’.
Mestinya, masjid terbuka untuk seluruh kegiatan musyawarah, kegiatan perekonomian, kebudayaan, kesenian, bahkan untuk mengatasi persoalan-persoalan dengan sebuah pertemuan musyawarah.
Kita mengetahui, Muhammmadiyah saat ini sedang berada di tengah-tengah krisis global dan keuangan global yang menghimpit kesulitan seluruh umat bangsa-bangsa di dunia. Kita tidak bisa mengelak lagi, Muhammadiyah jangan turut serta berputus harapan dan kecil hati. Muhammadiyah harus tampil sebagai pemecah masalah dan bagian dari energi kebangkitan untuk mencapai semangat baru dengan penuh kegairahan untuk terus berjuang.
Sebagian besar umat menaruh harapan kepada Muhammadiyah dalam memecahkan masalah dan mengatasi persoalan yang terjadi. Karena itu, Muhammadiyah harus dapat memberikan jawaban dan solusi terbaik.
Muhammadiyah terlahir sebagai sebuah gerakan penyelesai masalah dan solusi-solusi baru dari persoalan umat. Muhammadiyah tidak perlu kehilangan kepercayaan diri. Muhammadiyah sudah teruji dan memiliki kematangan dalam menghadapi masalah-masalah berat. Bahkan terkenal karena hal ini, umat lain justru terkena ‘sindrom tidak mau bersaing’ dengan Muhammadiyah. Dengan kondisi yang seperti itu, Muhammadiyah jangan sampai justru menjadi pihak yang tidak mau bersaing dengan umat-umat lain yang sudah lebih dulu maju.
Saya mengajak kepada umat untuk kembali membangkitkan kembali semangat dan kegairahan dalam berjuang. Jika mereka dapat maju, kita harus maju, jika mereka mampu bertahan kita harus melebihi dan jika mereka punya gairah kita harus lebih bersemangat.
Muhammadiyah yang hampir mencapai usia satu abad, tidak pernah mengeluh dalam mengembangkan masyarakat dan umat. Muhammadiyah satu abad adalah sebuah lembaran baru untuk melahirkan semangat baru bertajdid jilid kedua. Muhammadiyah kembali kepada bentuk identitas kelahirannya dulu. Semoga dalam perjalanan barunya nanti tidak ada lagi masalah yang menjadi kendala untuk memecahkan persoalan-persoalan umat.•(Oleh : Din Syasuddin - Ketua PP Muhammadiyah/SM)
Selengkapnya.....
VIRUS FLU BABI TERUS MELUAS, PRESIDEN GELAR RAPAT KABINET TERBATAS

Komunitas internasional berpacu dengan waktu untuk mencegah penyebaran virus flu babi ke seluruh dunia. Eropa pun sudah dirambah. Pos pemeriksaan kesehatan di perbatasan dan bandara diperketat. Di Indonesia, impor daging babi dihentikanW
Pemerintah Meksiko melaporkan, jumlah penderita dengan gejala flu babi yang tewas diperkirakan mencapai 103 orang. Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan 22 orang dari 103 orang positif tewas akibat virus flu babi dan terdapat 1.614 kasus dengan gejala flu babi sejak 13 April 2009.
Sementara itu, Pemerintah Kanada juga memastikan ada enam orang tewas akibat flu babi. Di Amerika Serikat ada 20 orang tewas.
Di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendadak menggelar rapat kabinet terbatas, Senin (27/4) sore, untuk membahas wabah flu babi. Presiden memerintahkan jajaran menteri segera melaksanakan kebijakan antisipatif untuk mencegah penyebaran penyakit itu ke Indonesia.
Menyebar ke Eropa
Kasus flu babi telah merambah ke Eropa, khususnya Spanyol. Pemerintah Spanyol, Senin, mengaku menemukan satu kasus penderita flu babi positif. Kini masih ada 17 penderita yang diperiksa karena diduga memiliki gejala flu babi.
Untuk mencegah penyebaran virus flu babi ke negara Eropa lain, Komisaris Kesehatan Uni Eropa mengimbau warga Eropa agar tidak ke Meksiko dan AS jika tidak ada kepentingan mendesak. Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Peter Cordingley, mengatakan, virus baru ini menyebar sangat cepat di Meksiko dan AS selatan.
”Jujur, kami belum tahu secara pasti bagaimana bentuk dan cara kerja virus baru ini,” kata Cordingley.
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Janet Napolitano, Minggu, menegaskan, AS belum bisa mengetahui persis seberapa serius dan akan menjadi seberapa parah flu babi pada masa mendatang. Alasannya, WHO saja juga belum tahu. Meski demikian, AS memperketat pemeriksaan kesehatan di perbatasan, sementara Presiden AS Barack Obama mengimbau rakyatnya untuk tetap tenang.
Sebuah sekolah di New York City ditutup selama dua hari, Senin dan Selasa, setelah diketahui ada delapan kasus positif flu babi. Di Texas ada 14 sekolah yang ditutup selama sepekan karena ada dua kasus flu babi. Demikian pula di California dan Ohio.
Bank Dunia mengirim dana pinjaman 25 juta dollar AS untuk Meksiko dan 180 juta dollar AS pinjaman jangka panjang untuk membantu pencegahan sekaligus perawatan akibat virus flu babi.
Hentikan impor
Kemarin, Presiden dalam rapat kabinet terbatas meminta jajarannya untuk bertindak cepat dan tepat.
”Kita mulai hari ini melakukan semua yang harus kita lakukan, termasuk kontrol, pengecekan maskapai penerbangan, utamanya yang berasal dari Meksiko, AS, maupun negara yang telah ada kasus flu babi,” ujar Presiden Yudhoyono.
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie juga memutuskan untuk sementara melarang impor daging babi dan semua produk turunannya.
Sementara itu, sejumlah daerah telah mengerahkan petugas dinas peternakan untuk mengawasi kondisi peternakan dan penampungan babi.
”Jika ada babi yang terinfeksi flu babi, akan segera dimusnahkan,” ujar Kepala Bidang Pemasaran Sosial dan Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tini Suryati.
Di Bali, Dinas Peternakan Bali telah menerbitkan surat yang ditujukan ke semua dinas di kabupaten/kota untuk memantau peternakan babi. Juga dibagikan masker dan desinfektan.
Sejumlah ternak babi yang sekarat di rumah potong babi di wilayah Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Jawa Timur, pada akhir tahun lalu dicurigai terjangkit virus flu babi. Kepala Seksi Peternakan Dinas Pertanian Kota Mojokerto Sunarto menyebutkan, ”Kemungkinan memang ada, tetapi belum kami lakukan tes, jadi belum bisa dipastikan. Belum ada petunjuk dari Departemen (Pertanian) soal flu babi.”
Di Kota Malang, warga diingatkan untuk memantau kondisi fisik babi sebelum dan sesudah dipotong.
Dalam rapat kabinet terbatas juga diputuskan, pendatang yang masuk ke Indonesia, khususnya dari Amerika Utara dan Singapura, negara transit, diharuskan melalui pemeriksaan pemindai suhu tubuh (thermographic scanner). Pemindai ini sudah dipasang dan dioperasikan di 10 bandar udara internasional.
Di seluruh dunia kini perhatian dipusatkan kepada para pelancong antarnegara. ”Virus ini diperoleh di Meksiko, lalu dibawa pulang dan mulai menyebar ke mana-mana,” ujar Robert Strang dari Lembaga Kesehatan Publik Nova Scotia di Kanada.
China, Rusia, dan Taiwan akan melakukan karantina bagi setiap pelancong dari negara-negara yang terkena flu babi. Sementara Italia, Polandia, dan Venezuela mengimbau warganya menunda atau membatalkan rencana perjalanan ke Meksiko dan AS. Singapura, Thailand, Filipina, Jepang, Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan melakukan pemeriksaan khusus di bandara pada penumpang dari Amerika Utara.
Sementara itu, Direktur Marketing dan Distribusi Indonesia AirAsia Widijastoro Nugroho dan Manajer Komunikasi Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang menekankan, belum terlihat penurunan jumlah penumpang untuk rute internasional.
Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), yang beranggotakan 230 maskapai di dunia, dalam siaran persnya, Minggu (26/4), menyatakan telah merekomendasikan kepada maskapai anggotanya untuk menyiapkan rencana darurat dan bersiap mengimplementasikannya ketika wabah menyebar lebih luas (KPS)
Selengkapnya.....
Senin, 27 April 2009
MUHAMMADIYAH BERDUKA; MAKNA BERMUHAMMADIYAH MENURUT K.H.S IBNU JURAEMI

Yogya - Allahumma, inna ustadzuna Suprapto Ibnu Juraimi, fi dzimmatika wa habli jiwarika, faqihi fitnatal qabri wa-adzabannar, wa anta ahlul wafa-i wal haq, faghfirlahu warhamhu, innaka antal ghafurur rahim.
Alhamdulillah, ketika saya pertama kali memangku tugas selaku Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, sekitar dua tahun yang lalu, telah dapat dilaksanakan ‘proyek’ Rihlah Dakwah tahap I yang ketika itu dimulai dari Magelang, Temanggung, Banjarnegara, Purwokerto dan Tegal.
Program ini merupakan suatu terobosan dari Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, yaitu model kajian selama satu hari satu malam, menggunakan pendekatan spiritual dan intelektual. Selama 2 tahun itu, sekitar 215 PDM sudah sempat dikunjungi untuk melaksanakan pengajian ini. Bahkan ada yang sudah sampai 3 kali, karena mereka minta dilaksanakan lagi.
Tema yang diangkat dalam kajian satu hari satu malam ini adalah “Meningkatkan Kualitas Kepribadian Pimpinan agar Berakidah yang Benar, Memiliki Kemampuan Berpikir Bayani, Burhani dan Irfani, serta Dapat Menjadi Uswah Hasanah”. Sebuah tema yang luar biasa. Kalau dilaksanakan dengan waktu hanya kira-kira 1,5 jam, harapannya tidak
mungkin akan tercapai. Sebab, pengajian model ini memerlukan proses. Dan, proses yang paling tepat itu kalau pengajian ini diprogram mulai dari pukul 4 sore sampai pukul 6 pagi esok hari. Pengajian ini dulu sudah pernah dicoba oleh PDM Temanggung dengan sasaran peserta para pimpinan. Para pimpinan Muhammadiyah ini dituntut menjadi pribadi yang berkualitas, sanggup berfikir bayani, burhani dan irfani.
Materi kajian dibagi dua. Karena menyangkut pimpinan Muhammadiyah, yang saya angkat pertama kali adalah tentang makna bermuhammadiyah. Jangan-jangan setelah sekian tahun bermuhammadiyah, ternyata kita tidak tahu apa sebenarnya bermuhammadiyah itu. Kira-kira setahun yang lalu, PWM DIY mengadakan kegiatan pembinaan Daerah. Saya mendapat tugas untuk melakukan Konsolidasi Ideologi. Saya angkat tema “Bagaimana seharusnya kita bermuhammadiyah”. Ada lima hal pokok di dalam kita bermuhammadiyah. Nampaknya, acara itu dianggap menarik. Sehingga pada tiga tempat yang menjadi tugas saya dalam Konsolidasi Ideologi ini, saya mengangkat tema ini. Setelah itu, insya Allah, baru kita bisa memposisikan diri sebagai pimpinan Muhammadiyah, dan apa yang perlu dilakukan sebagai pimpinan Muhammadiyah.
Dari pengamatan, saya menjumpai di beberapa Daerah/PDM, ada Pimpinan Daerah yang diangkat menjadi pimpinan langsung dari Pimpinan Ranting, bahkan menduduki jabatan sebagai Ketua PDM. Padahal dia tidak tahu seluk beluk Muhammadiyah, tidak kenal apa itu Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, tidak tahu apa itu MKCH, apalagi Kepribadian Muhammadiyah. Hanya karena kebetulan dia pinter bicara, ketika diselenggarakan Musyawarah Daerah, ia kelihatan menonjol, lalu terpilih menjadi ketua PDM.
Di sisi lain, bisa kita saksikan juga bahwa banyak orang tertarik dengan Muhammadiyah. Rupanya dengan aktif di Muhammadiyah itu bisa menjadi jembatan untuk, misalnya, menjadi anggota Dewan (wakil rakyat).
Konon, saya tidak tahu pasti, di Jawa Tengah, kini sedang ramai-ramainya orang Muhammadiyah berupaya untuk bisa menjadi calon anggota Dewan. Padahal tidak semua dari mereka itu bisa terangkat menjadi anggota Dewan, sehingga kemudian terjadi masalah. Di antara mereka sendiri saling padu, konflik antar sesama teman sendiri.
Memperhatikan hal yang demikian, maka kita perlu faham bagaimana sebenarnya bermuhammadiyah itu.
Makna Bermuhammadiyah: Pertama, Bermuhammadiyah adalah Berislam
Makna bermuhammadiyah yang pertama dan paling utama serta sangat mendasar adalah berislam. Bagaimana maknanya berislam itu? Mengungkap hal ini, saya akan membuka lembaran sejarah yang sudah amat jarang diketahui oleh para pimpinan Muhammadiyah. Alhamdulillah, saya beruntung, mendapat rahmat ketika saya bisa nginthil, mengikuti guru saya, seorang ulama besar di Jogjakarta, Bapak K.H.R. Hadjid. Beliau dijuluki sebagai Asyaddul Muhammadiyah, Jago Tua Muhammadiyah, sekretaris Badan Penasehat PP Muhammadiyah. Gara-gara saya ditendang dari IAIN, saya justru sempat berguru kepada beliau selama tidak kurang dari 10 tahun.
Saya sempat mendengar kisah yang dialami beliau. Beliau termasuk murid termuda K.H. Ahmad Dahlan. Nampaknya, beliau satu-satunya murid yang mencatat pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Kami sempat beberapa kali menerbitkan Buku Pelajaran Kyai Ahmad Dahlan itu dalam bentuk stensilan. Terakhir, diterbitkan oleh Depag Jawa Tengah, dibagi secara
gratis untuk PDM-PDM se Jateng. Buku itu adalah Himpunan Ayat-ayat Alquran yang Difahami oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan.
Buku itu berisi tentang bagaimana cara memahami, bagaimana cara mengajarkan, dan bagaimana pula cara mengamalkannya. Semua itu terungkap dalam Buku Pelajarannya Kyai Haji Ahmad Dahlan yang ditulis oleh KHR Hadjid. Generasi sekarang ini barangkali tidak banyak mengenalnya. Yang dikenal mungkin malah putra tertuanya yang juga terkenal, Bapak R.H. Haiban Hadjid.
Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik
Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik,
dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.
Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan.
Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga “ambisi” menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat.
Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.
Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam?
Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya “Beranikah kamu beragama Islam?”. Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, “Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu”. Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.
Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H. Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu pertanyaan.
Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, “Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe” (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).
Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An’am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.
Dalam salah satu kitab tafsir diungkap bahwa ayat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Kata-kata dalam ayat Alquran yang menyebut aslama-yuslimu-aslim, muncul dari Nabi Ibrahim AS. Jadi, awwalul muslimin itu Ibrahim, sedang wa ana minal muslimin itu Rasulullah Saw.
Maka di dalam doa Iftitah yang diucapkan dalam bacaan shalat tadi
boleh dipilih antara awwalul muslimin atau wa ana minal muslimin.
Qul, katakanlah (Muhammad), inna shalati, sungguh shalatku; wa nusuqi,
dan pengorbananku; wa mahyaya, dan kiprah hidupku; wa mamati, dan
tujuan matiku; lillah, hanya untuk dan karena Allah; raabil alamin,
pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; wa
bidzaalika umirtu, dan dengan itu aku diperintah; wa ana awwalul
muslimin, dan aku orang yang pertama, pasrah, setia tunduk kepada
Allah Subhanahu wataala. Amin ya rabbal alamin.
Itu makna yang populer, kecuali kata nusuq yang saya terjemahkan
menjadi pengorbananku. Pada hampir semua terje-mahan, nusuq diartikan
ibadah.
Mengenai tafsirnya, kebetulan tidak sempat saya catat tapi saya punya
kitabnya, nusuq bukan berarti ibadah. Yang berarti ibadah adalah
nasaqun. Nusuq artinya menyembelih kurban. Maka saya artikan, nusuqi
adalah pengorbananku. Jadi, “shalatku, pengorbananku, hidup matiku,
lillahi rabbil alamin”.
Kyai Bakir Sholeh, seorang ulama besar Jogja yang dikenal sebagai
kamus berjalan, memaknai dengan liman kana yarju…… “Sungguh, shalatku,
pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah”. Dalam terjemah
Miftah Farid masih kelihatan biasa. Tetapi untuk terjemahan ini orang
bisa tertegun, “Hanya karena untuk Allah rabbil alamin.”
Laa syarikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengertian ini oleh Kyai
R.H. Hadjid, yang telah mendengar pelajarannya langsung dari Kiyai
Dahlan dengan terjemahan tafsir “itu tidak untuk selain Allah”.
Karena syarikat bermakna sekutu. Sekutu itu apa saja bisa dianggap sekutu.
Lalu ayat tadi bermakna apa? “Shalatku, pengorbananku, hidup dan
matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta”. Laa syarikalah, tidak
ada sekutu selain Allah. “Aku diperintah untuk hidup dengan model cara
yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk
anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan
tanah airku”. Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan.
Hidupku tidak untuk itu.
Pertanyaannya, lalu untuk apa? “Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela
tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan
tanah air, tetapi karena Allah”. Di sini lalu maknanya, “berbuat
baiklah kamu kepada orang tuamu”. Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar
karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua,
tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata
“wa-ahsinuu, …..birrul walidaini”.
Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan “wa ana awwalul muslimin.
O, ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik
kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang
lain.
Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yang
namanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang
tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat
yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya’buduun.
Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat
yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan
satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain.
Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah.
Di situlah makna hakekat dari Islam.
Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi
pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup
menjawab.
Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang
dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama
aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye,
jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari
oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya
panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya
jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir,
yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput
mobil.
Bermuhammadiyah adalah berislam. Ungkapan ini memang cukup tandas.
Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main
trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan
itu, “Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran
tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang
banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya
jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi
sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya
menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar
fitnah”. Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal
ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal
Rasululah.
Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di
jaman sekitar hidup Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang
punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalnya haadzal
qur’ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan
Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan
menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah
kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.
Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan
karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk
menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar,
simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca
Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang
sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang
terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.
Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran,
kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending,
kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum’at Shubuh, Nabi
selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan
di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada.
Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak
apalagi diamalkan.
Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang
Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal.
Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi
kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis
diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau
menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal
mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap
Islamnya.
Anehnya, diantara orang-orang yang beragamanya hanya tiga kali seumur
hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini
sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang
merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk
perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi
di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat
gado-gado.
Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif,
membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu,
diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam
juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung
menjadi satu, Pancasila.
Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam.
Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan
kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat
kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang
mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada
orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika
mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan.
Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji
itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji
masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin…. Islam itu
dibangun di atas lima perkara, yang kita kenal dengan rukun Islam.
Lima perkara itu adalah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji,
itu baru pondasi. Untuk membangun Keluarga Sakinah memang harus lima
perkara itu dulu yang ditata. Sebab, ada orang yang berhaji
berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi
keluarga sakinah.
Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah,
bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya
tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya,
pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap
masalah ini.
Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang
dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan
pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga
pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis
kalimat itu, hanya mendengar sepintas, “Hidup sepanjang kemauan
Islam”.
Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani
menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut
kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini
yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat
mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari
bermuhammadiyah itu.
Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham
apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja.
Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma.
Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi,
tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua,
warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada
jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu
khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka
orang tadi difahamkan agamanya oleh Allah.
Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa
tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa
faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang
sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab
Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah
mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita
yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin
kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang
mengamalkan hal ini.
Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah
Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat
mereka dalam “wa-tawashau bil haq”. Ada sebutan yang cukup populer
pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk
jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya
berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya
nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang
seperti itu disebut mubaligh cleleng.
Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah
Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan
mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan
mengucap salam, “Selamat pagi, Pak!”. Beliau bertanya, “Kamu siapa?”
“Saya mahasiswa Bapak”, katanya. “Kembali sana, ucapkan dulu
“Assalamu’alaikum”.
Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan
“kulonuwun“. Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab,
padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena
berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud
pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar
Muzakkir sambil berkata, “Kibir kamu ya?” “Kenapa?” tanya orang itu.
Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam
dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya
mengucap salam “Assalamu’alaikum” kalau bertamu ke rumah orang koq
malah “kulonuwun”. Inilah contohnya mubaligh cleleng.
Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota
saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan
kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat
kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya
tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan
sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini
tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai
sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi
karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak
bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau
mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat
keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah
I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah
yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya
ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut.
Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan
kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih
minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil ’alamin
dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa
quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.
Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara
membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian
ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca
Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab,
“Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah
wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah
bertabligh.
Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah.
Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak Usman Tampubolon, orang
Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), tinggal di
Jogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang
adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa.
Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman
Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, “Wong saya
sendiri yang menyusun koq disuruh merubah”, kata Pak Usman.
Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya,
dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan
tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya
kitab tauhid, “Al Ushulust-tsalasah”,30) ketika ajarannya diambil,
mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah
Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka,
yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti.
Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.
Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan
menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk
bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama
jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini
membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai
Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan
mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada
di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad
Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan.
Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang
masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal
kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid’ah.
Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi.
Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu
membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah
melangkah lebih lanjut.
Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup
anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini,
selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak
sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang
singkat.
Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian
besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan
banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan
mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang
Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir
Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya budaya-budaya itu.
Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa
menjawab.
Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya
lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu
itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo,
Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan?
Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang lain,
adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup
menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat.
Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden,
terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto
adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di
bidang pendidikan.
Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti
asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu
bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta.
Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui
dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama
menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah.
Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober
lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita
ini termasuk sebagai pewaris falsafah “sendu” (seneng duit), merasa
senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang
senang terhadap duit.
Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin
menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja
membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana
pengaruh pendidikan Muhammadiyah.
Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang
memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke
sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah
mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya,
belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah
meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari
Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.
Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi
Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah
melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana
ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran,
sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu,
organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul
sebelumnya karena kebutuhan yang mendesak. SDI muncul untuk
mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari
pengaruh politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan
surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga
saja yang menjadi harapannya.
Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun saat itu belum ada
Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh
sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya.
Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam
wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya tidak tahu
persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat
ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada
jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada
saat lahirnya Muhammadiyah.
Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya
sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat
Haji Wada’ jumlah jama’ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang
punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu.
Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi 1 juta. Ummat yang sekitar 700
ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad
SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang
kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk
surga sebelum Rasullah meninggal.
Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu.
Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh
tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak
menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di
Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal
Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal
uswah hasanah saja.
Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan,
ada audien/peserta pengajian itu, yang memper-hatikan betul terhadap
Kyai Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia
memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya
ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan
waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di
Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa
menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu
hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa tidak puas
dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu.
Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan pulang ke Jogja orang tadi mengikuti.
Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan
sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang
sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh,
orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa
Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang
ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, “Pantas kalau
Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah”. Orang
itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau adalah
saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan,
yang berasal dari negeri Minangkabau.
Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah
orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP
Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di
Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika
beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya,
Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan
dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi kantor PP Muhammadiyah
Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang
lalu.
Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau
sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti
RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit,
sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.
Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada
satupun orang Muhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin
diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak
jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi.
Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan
pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80
ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok pengajian tadi lalu menyebarkan
warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian
diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat.
Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang
Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut,
kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi
membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus
kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak
AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu,
maka sisanya dikembalikan.
Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah
sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali
ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan
seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah
dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya,
dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah
tidak boleh seperti itu.
Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari
200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30
juta ummat yang juga sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan
kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ,
yang dikenal sebagai da’i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun
ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau
juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk
membangun ummat diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.
Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan
Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY,
UHAMKA dan sekitar 130 PTM, ditambah puluhan ribu sekolah
Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra
Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk
mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada
sedikit yang berasal dari IPM/IRM.
Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka
masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan
keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam
menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah,
koq setelah sholat malah yasinan.
Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap
tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak
itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?
Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua
Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di
Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah
itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih
lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang
membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling
tidak selama tiga tahun mereka kita didik.
PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu
melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa
di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu
menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius.
Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari
penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan “Hidup-hidupilah
Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah” masih relevan?
Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di
majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah.
Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas
ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.
Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini
sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied
di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat
itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan,
tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di
lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli
lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke
mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai
dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya
ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis
dhoif.
Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring
tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah
kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk
memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman
dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah
kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh
pengorbanan beliau.
Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk
dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor,
sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai
Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana,
misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur
juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di
kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu
latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu
orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami
Muhammadiyah tersebut.
Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja.
Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu,
panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman
beliau atas surat Al-Maun.
Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada
benturan yang berarti ia menjadi diminati oleh ummat. Cuma, sekarang
masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah
menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya,
untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.
Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan,
dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau
tidak kita jadikan kader kita.
Keempat dan Kelima, Bermuhammadiyah adalah Berjuang dan Berjihad serta
Berkorban.
Yang keempat, bermuhammadiyah itu berjuang dan berjihad.
Yang kelima, bermuhammadiyah adalah berkorban.
Untuk dua hal yang terakhir ini belum sempat saya angkat. Sebenarnya
mau saya sampaikan karena waktunya belum ada, maka saya minta maaf.::
*) Transkrip Ceramah Ustadz Ibnu Juraimi dalam Pengajian di PDM
Temanggung Jawa Tengah. Ditranskrip oleh Arief Budiman Ch.
Selengkapnya.....