Selasa, 06 Juli 2010

Buya Syafi’i: Tajdid Itu Kemerdekaan Berfikir, Tidak Gampang Curiga


Yogyakarta – Dalam acara bedah buku Meneropong Satu Abad Muhammadiyah Senin siang (5/7), Ahmad Syafi’i Ma’arif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah tampak ingin memberikan definisi-definisi jelas tentang tajdid, pluralisme dan juga berfikir merdeka.

Menurutnya, bahwa tidak mengakui pluralisme itu dekaden. Baginya, pluralisme itu sama dengan intelektualisme, yang berarti membuka diri terhadap informasi yang selalu berkembang secara cepat.

Bahkan, secara tegas Si Anak Kampung Sumpur Kudus itu mengatakan, Buta informasi itu sangat berbahaya. Lebih lanjut, Syafi’i Ma’arif mengatakan bahwa di usianya yang seabad ini kebesaran Muhammadiyah tidak akan terjadi tanpa keliberalan K H Ahmad Dahlan dahulu, yang artinya berani berpikir merdeka. “Karenanya, umat Islam akan maju jika kemerdekaan berpikir itu digalakkan,” ungkapnya.


Tema Muktamar Satu Abad Muhammadiyah: Gerak Melintasi Zaman, Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama, bagi Syafi’i Ma’arif syarat dengan kemajuan berpikir. “Tajdid itu tidak mungkin dilakukan tanpa kemerdekaan berpikir,” ujarnya meyakinkan.

Muhammadiyah ke depan tidak boleh gamang dengan kecepatan informasi, supaya mampu menjawab segala tantangan yang tak mungkin berhenti. Muhammadiyah tidak selayaknya membangun kultur curiga. Menurut Syafi’i Ma’arif, “Orang yang kalah itu gampang curiga dan menghakimi.”(fahmi)