Minggu, 19 Oktober 2008

AKIBAT KRISIS GLOBAL, SATU MILYAR MANUSIA TERANCAM MATI KELAPARAN

Sejumlah lembaga internasional mengungkapkan rasa kekhawatirannya atas terus meningginya jumlah penduduk miskin di dunia. Meningkatnya jumlah penduduk miskin dunia mengakibatkan1 milyar manusia pada 2009 terancam kelaparan. Seribu orang juga dilaporkan tewas setiap harinya akibat kekurangan gizi. Hal ini disampaikannya ketika memperingati hari pangan sedunia yang jatuh pada 16 Oktober.
“Indikator Kelaparan”, sebuah laporan tahunan yang dikeluarkan oleh Institute Riset Kebijakan Pangan Global di AS, baru-baru ini, mengatakan, bahwa data jumlah orang-orang kelaparan meningkat. Pada tahun 2007 mencapai 848 jutar orang menjadi 923 juta jiwa untuk tahun 2008. Sementara sebanyak 25 ribu manusia mati setiap harinya akibat menderita gizi buruk, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak.

Para analis memperkirakan jumlah orang lapar dunia akan mencapai 1 milyar orang pada tahun 2009. Hal ini dikarenakan sejumlah negara-negara kaya akan mengurangi subsidinya kepada negara-negara miskin dan berkembang. Negara-negara kaya akan lebih banyak mengarahkan aset finansialnya untuk membenahi sektor perbankan dan keuangan yang kolaps akibat krisis global.

Menurut laporan tersebut, krisis kelaparan akan mengenai 88 negara sebagian besar berada di benua Afrika, Amerika Latin dan Asia Tengah. Para analis mengkategorikan 33 negara ke dalam kondisi " sangat berbahaya".

Laporan tersebut menyebutkan bahwa 1 milyar manusia itu tidak seluruhnya menanggung kesalahan kelangkaan pangan. tapi krisis pangan disebabkan oleh banyak faktor, antara lain, bencana alam, perang dan konflik, perubahan iklim yang mengakibatkan terjadinya kekeringan parah dan bencana banjir, disamping akibat tindakan spekulan di pasar dunia dan persaingan industri bio energi.

Meski harga sejumlah bahan biji-bijian seperti gandum dan jagung mengalami penurunan, tapi harganya untuk saat ini telah meningkat 62 persen dibandingan dengan harga pada tahun 2002.

Theresa Kafaro, Peneliti pada Pusat Oksham Inggris, LSM yang bergerak di bidang peningkatan pangan, mengatakan, saatnya negara-negara dan pemerintahan untuk memperbesar peran negara di sektor pertanian dan sentralisasi kebijakan. Hal ini, menurut Theresa, sangat penting dalam rangka memberi perlindungan sosial bagi rakyat di bidang pemenuhan kebutuhan pangan.

Dia mengecam keras, kecenderungan pasar pangan saat ini yang mengarah pada pengurangan peran negara di sektor pertanian dan pangan, sebaliknya memperbesar peran swasta.

" liberalisasi sektor pertanian seperti ini, yang telah membawa petaki bagi jutaan manusia tak berdosa yang mati kelaparan akibat krisis harga pangan dunia", tegas Theresa.

Di saat harga pangan dunia meningkat tajam, namun ironisanya, perusahaan-perusahaan raksasa dibidang produksi makanan justru meraup keuntungan yang berlipat.

Dalam laporannya, Oksham menyebutkan, laba bersih yang diperoleh perusahaan raksasa, seperti Nestle mengalami peningkatan sebesar 9 persen dibandingkan tahun lalu. Hal yang sama juga dialami perusahaan Monsanto untuk proudksi biji-bijian, meningkat 26 persen hingga mencapai 3,6 milyar dollar.

Tidak ada komentar: