Rabu, 25 Maret 2009

BARU 10 PERSEN TANAMAN OBAT YANG TERIDENTIFIKASI

SOLO -- Dari 9.000 spesies yang berpontensi sebagai tanaman obat, baru 950 yang berhasil di identifikasi. Untuk itu, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT), Departemen Kesehatan RI, mengoptimalkan penelitian.

''950 spesies itu merupakan hasil penelitian dari 1948,'' ujar Plh Kepala B2P2TO-OT, Indah Yuningprapti, Minggu (8/3). Ia menambahkan, setiap bulan, minimal pihaknya berhasil mengidentifikasi lima tanaman obat. Maksimalnya, berhasil meneliti 100 tanaman obat per tahun.

Yang diteliti tak hanya makanan obat dari seluruh pelosok Indonesia. Beberapa tanaman obat dari luar negeri, seperti Pohon Jati Belanda yang berfungsi untuk melangsingkan tubuh serta sejumlah tanaman dari Jerman diteliti juga di B2P2TO-OT.

Sebagian tanaman obat yang belum teridentifikasi ditanam di etalase tanaman obat Tawangmangu Solo. Biasanya, tanaman itu didapat dari hasil eksplorasi dari berbagai daerah. Misalnya, tim datang ke suku Kubu. Disana bantuan persalinan menggunakan ramuan tanaman obat-obatan.

''Kita ambil contoh tanaman itu langsung ditanam di Tawangmangu, setelah tumbuh cukup bagus, pihaknya langsung menelitinya,'' katanya menjelaskan. Penelitian satu jenis tanaman obat bisa lebih dari satu tahun. Karena penelitian dilakukan hingga uji klinis.

B2P2TO-OT, sambung Dini, hanya melakukan penelitian. Untuk produksi obat dilakukan oleh perusahaan. Namun pihaknya bisa mengeluarkan rekomendasi tanaman obat yang bisa diproduksi. Saat ini, ada beberapa jenis tanaman obat yang sudah mendapatkan standar internasional.

Mengenai efek samping, Dini menjelaskan, semua hal yang bisa mengobati pasti mempunyai efek samping, baik itu obat herbal maupun obat biasa. Hanya saja kemungkinan efek sampingnya lebih kecil. Karena itu pemakaian obat herbal harus memenuhi cara yang tepat yakni menggunakan disaat yang tepat, untuk penyakit yang tepat, dan pemakaian yang tepat.

''Tanaman obat, ada yang bisa digunakan seluruhnya sebagai obat, ada yang tidak,'' cetus dia. Ada pula obat yang cocok dioleskan tapi tidak cocok untuk diminum. ren/fif