Senin, 30 Maret 2009

LAYANAN TUBERKULOSISI & HIV PERLU DIKOMBINASIKAN


Jakarta, Kompas - Mereka yang terinfeksi HIV rentan terserang kuman tuberkulosis seiring dengan menurunnya daya tahan tubuh. Kondisi ini bisa menyebabkan kematian pada pasien tersebut. Untuk mempercepat diagnosis dan terapi, layanan HIV dan tuberkulosis di tempat layanan kesehatan perlu disinergikan.
Menurut Prof Syamsuridjal Djauzi dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia- Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), Minggu (29/3) di Jakarta, layanan HIV dan TB sebaiknya bisa dilakukan di satu tempat. ”Karena itu, diperlukan para dokter yang memiliki kemampuan menangani HIV maupun TB,” ujarnya.

Dalam laporan Pengendalian Tuberkulosis Global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2009 disebutkan, satu dari empat kematian pada pasien TB terkait dengan infeksi HIV. Pada tahun 2007 diperkirakan 1,37 juta kasus baru tuberkulosis di antara mereka yang terinfeksi HIV dan 456.000 di antaranya meninggal dunia.
Mengingat tingginya angka kasus TB di Indonesia, kemungkinan orang dengan HIV mengalami koinfeksi TB sangat besar. Apalagi daya tahan tubuh pasien HIV rendah. Di RSCM, hampir 50 persen dari pasien yang terinfeksi HIV juga terkena TB. Beberapa koinfeksi lain adalah jamur dan toksoplasma. Penyebab kematian orang dengan HIV umumnya adalah infeksi oportunistik seperti tuberkulosis.
Penanganan
”Karena itu, perlu upaya menemukan, mencegah, dan mengobati TB pada orang dengan HIV, serta pentingnya tes HIV pada semua pasien TB agar pencegahan dan terapi bisa dilakukan. Tiap negara perlu memperkuat program kolaboratif dan sistem kesehatan untuk menangani HIV dan TB,” kata Direktur Jenderal WHO Dr Margaret Chan dalam siaran pers pada situs WHO, pekan lalu.
Direktur Eksekutif Badan Dunia untuk Penanggulangan AIDS (UNAIDS) Michel Sidibe menambahkan, akses universal terhadap pencegahan, terapi dan dukungan HIV harus termasuk pencegahan, diagnosis, dan terapi TB. Kombinasi layanan TB dan HIV akan menyelamatkan jiwa pasien. ”Kita harus mencegah kematian karena tuberkulosis pada mereka yang terinfeksi HIV,” ujarnya.
”Penanganan TB dan HIV mengalami kemajuan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, TB masih membunuh lebih banyak orang dengan HIV dibandingkan dengan penyakit lain,” kata Direktur Eksekutif Dana Global untuk Mengatasi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (GFATM) Dr Michel Kazatchkine. Krisis keuangan diharapkan tidak mengurangi implementasi rencana global pengendalian TB.
Sejauh ini kuman TB pada pasien HIV lebih sulit dideteksi dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi HIV. Karena itu, selain pemeriksaan sampel dahak dan foto rontgen, dokter mendiagnosis koinfeksi TB pada pasien HIV berdasar gejala seperti penurunan berat badan dan demam. ”Tidak semua obat antiretroviral bisa dikombinasikan dengan obat antituberkulosis,” kata Syamsuridjal.
Untuk meningkatkan mutu layanan TB pada pasien yang terinfeksi HIV, Kepala Subdirektorat Tuberkulosis Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Jane Supardi menambahkan, kini program- program penanggulangan TB mulai diintegrasikan dengan program penanganan HIV. ”Salah satunya dalam bentuk pelatihan,” ujarnya. (EVY/KPS)