Senin, 30 Maret 2009

OBAT-OBATAN DAPAT SEBABKAN KEPIKUNAN


YOGYAKARTA -- Ada berbagai faktor penyebab kepikunan (demensia) diantaranya obat-obatan (drugs) seperti obat jantung, obat tidur (penenang), obat-obat insektisida, obat penurun tensi, obat aritmia, dan lain-lain.

Hal itu dikemukakan dr Probosuseno, SpPD, KGer dari SMF(Staf Medis Fungsional) Geriatri RSUP Dr Sardjito/FK UGM, di SMF Saraf RSUP Dr Sardjito/FK UGM, Sabtu (28/3) pada saat jumpa pers dalam rangka akan diadakan Seminar Ilmiah Populer untuk Umum "Kiat Mencegah Kepikunan Menuju Pribadi yang Bermanfaat" yang akan dilaksanakan Rabu, 1 April di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, diselenggarakan oleh AAzi (Asosiasli Alzheimer) Propinsi DIY.

Probosuseno mengungkapkan demensia itu ada berbagai jenis diantaranya penyakit kepikunan Al-Zheimer. Ia menyebutkan berbagai faktor penyebab kepikunan dengan singkatan dementia yaitu Drugs; Emosional disorder (depresi karena stres), Metabolik (cara kerja organ tubuh) kacau seperti hipertiroid, hipotiroid, hipoglikemik, kekurangan vitamin B12, fungsi liver dan ginjal terganggu, faktor keturunanM Eye Ear (gangguan mata dan pendengaran); Nutritional defisiensi (kekurangan nutrisi), Trauma benturan kepala, penyumbatan darah ke otak; Infeksi (herpes otak); Anemia, akohol dan arsen.


Menurut Probosuseno, panitia seminar sekaligus sebagai pembicara seminar, untuk mengetahui seseorang itu menderita penyakit Alzheimer itu harus dicek otaknya, tetapi ini punya risiko. Karena itu selama ini umumnya orang yang menderita penyakit Alzheimer didiagnosa dengan gejala-gejala yang mendekati Alzheimer antara lain: gangguan daya ingat, kesulitan dalam melakukan aktivitas sederhana/pekerjaan sehari-hari, problema berbicara./berbahasa, disorientasi (gangguan mengenal waktu, tempat dan mengenali lingkungan), penampilan memburuk, kesulitan dalam melakukan penghitungan sederhana, salah atau lupa meletakkan benda, curia seseorang telah mencurinya, perubahan perasaan atau perilaku (keluar rumah malam hari, menjadi agresif), perubahan kepribadian, hilangnya minat dan inisiatif.

Alzheimer ini kerjanya pelan, tetapi pasti dan biasanya berkaitan dengan waktu/usia. Resiko terserang penyakit Alzheimer diperkirakan satu persen pada orang yang berusia 60-64 tahun dan 25 persen pada orang berusia 85-93 tahun. Ditemukan lebih banyak pada perempuan dibanding pria, karena usia perempuan lebih panjang. Perbandingan jumlah penderita Alzheimer antara perempuan dan laki-laki adalah 3:1, jelas Wakil Ketua IDI DIY ini.

Selanjutnya Ketua AAzi Propinsi DIY Ir KRAy Setianingsih Anglingkusumo, SPd mengatakan kepikunan akan dialami oleh setiap manusia terutama yang sudah lansia (lanjut usia). Karena itu seminar ini diselenggarakan agar para lansia ini mengenali gejala kepikunan dan kalau bisa mencegahnya. Sehingga meskipun sudah tua tetap bermartabat.

Peserta seminar diharapkan lansia, keluarga yang mempunyai lansia di rumah, pramurukti, guru yang mengajar di bidang kesehatan/perawat lansia, dan lain-lain. Pembicara dalam seminar adalah KRAy. Setianingsih Anglingkusumo (Ketua Aazi Propinsi DIY),SPd, dr Pernodjo Dahlan, SpS (Klinik Memori-Neurologi), dr Probosuseno, SpPD-KGer (klinik geriatri/lanjut usia) dan Dra Mamiek Suhardo (Pakar senam). nri/fif/rep