Senin, 29 September 2008

AISYIYAH DAN KEBANGKITAN GERAKAN EKONOMI UMAT

oLEH : Isngadi Marwah Atmadja

Ketika suatu bangsa tengah mengalami masa kritis, kaum perempuan ternyata jauh lebih mampu bertahan dan terbukti jauh lebih kreatif dalam mencari solusi kritis. Hal ini, dapat dilihat dari pengalaman pasca bencana. Sesaat setelah bencana gempa Yogya meluluh-lantakan kedua kota itu, banyak orang merasa stress dan putus asa, para ibu ternyata jauh lebih gesit dan kreatif mempertahankan kehidupan keluarganya sekaligus mempertahankan kebersaman umat dengan berbagai kearifan lokal yang mereka ketemukan.

Pada masa kejayaan kerajinan batik di Surakarta, hampir semua pelaku usaha batik yang ada di kota
Surakarta (dan bahkan seluruh Jawa) adalah kaum perempuan. Seluruh pasar tradisional di negeri ini, juga pernah dijejali oleh kaum perempuan. Mereka semua pada dasarnya adalah para pelaku usaha yang sesungguhnya. Sementara itu, kaum laki-laki priyayi (terutama yang menjadi penghuni rumah kaum bangsawan) yang dianggap sebagai pemimpin cenderung terjebak dalam kerja-kerja yang mapan, dan relatif tidak kreatif, apalagi produktif seperti menjadi pegawai pemerintah, yang biasanya sangat jumud.
Memori kolektif bangsa ini tentunya masih ingat bahwa yang disebut sebagai priyayi adalah kaum laki-laki yang bekerja pada pemerintah. Dalam banyak novel Jawa (novel ditulis bersandarkan pada realitas) dan juga pada kenyataan yang sebenaranya, gaji yang diperoleh kaum bangsawan priyayi sebagai pegawai pemerintah itu teryata tidak bisa untuk mencukupi kehidupan keluarga. Apalagi, gaya hidup kelas priyayi itu menuntut pembiayaan yang sangat mahal. Pada saat itulah kaum mbok-mase (kaum ibu pengusaha) terpaksa bangkit memikul semua beban biaya hidup keluarganya termasuk untuk memberi subsidi biaya untuk meneruskan hoby para suaminya yang rata-rata merupakan hoby berbiaya tinggi, namun sangat tidak produktif. Misalnya, klangenan pada burung dan bermain dadu serta kartu China.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas semua kejadian di masa lalu itu, namun untuk menunjukan potensi kaum perempuan dalam membangkitkan sektor ekonomi. Terutama untuk mengulas potensi ekonomi yang dikembang-kan oleh Aisyiyah.
Sebagai komponen Muhammadiyah, ‘Aisyiyah merupakan organisasi sosial keagamaan yang bergerak pada hampir semua aspek kehidupan. Di antaranya, pada bidang penguatan keagamaan, bidang kesehatan, kesejahteraan, ekonomi, lingkungan hidup, dan lain sebagainya. Dan yang jelas, mempunyai struktur yang sangat rapi dari dari Pusat sampai Ranting, yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia (bahkan ada beberapa cabang yang ada di luar negeri)

Gerakan BUEKA
Pada umumnya lembaga non pemerintah yang lain, Aisyiyah juga bercita-cita mewujudkan masyarakat sipil (masyarakat madani) yang kuat dan berkeadilan. Cita-cita itu diwujudkan dalam berbagai kegiatan untuk meningkatkan kapasitas dan komunitas kaum perempuan. Salah satu dari program-program itu adalah peningkatan dan penguatan ekonomi bagi kaum perempuan.
Dalam program peningkatan ekonomi ini Aisyiyah mempunyai gerakan yang dinamakan Bina Usaha Ekonomi Keluarga Aisyiyah, yang lebih populer disebut dengan istilah BUEKA. Program ini dilaksanakan secara nasional dengan basis komunitas pada tingkatan akar rumput. Gerakan BUEKA ini pada prinsipnya disandarkan pada gerakan berperspektif pemberdayaan dan pendampingan pemberdayaan. Dan pendampingan yang dimaksud di sini adalah dengan menggali potensi dari warga masyarakat setempat, khususnya kaum perempuan dan membentuk komunitas masyarakat yang kemudian dikembangkan serta didampingi untuk dicarikan peluang-peluang dan akses informasi yang selama ini sulit terakses oleh kaum perempuan.
Akses informasi ini dianggap cukup penting oleh Aisyiyah, dikarenakan tradisi umum yang berjalan selama masih cenderung menomorduakan perempuan dalam banyak hal. Termasuk pemberian beberapa akses informasi. Salah satu sebabnya adalah karena perempuan masih dianggap “hanya” sebagai pendamping dalam keluarga. Kenyataan ini menyebabkan usaha-usaha yang selama ini digeluti kaum perempuan dalam banyak sektor informal menjadi kurang cepat akselerasinya.
Konsep BUEKA sendiri adalah kelompok usaha yang terdiri dari lima sampai sepuluh orang, yang di-dampingi secara intensif dengan menggali dan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Selain penggalian potensi ekonomi, konsep pemberdayaan ekonomi keluarga dalam BUEKA, juga termasuk di dalamnya advokasi, pembelaan serta mendorog kelahiran Perda (Peraturan Daerah) dan juga Perdes (Peraturan Desa) yang berpihak pada pengembangan usaha mikro.
Pada tataran empris, gerakan BUEKA yang dikembangkan Aisyiyah ini dapat dikatakan cukup berkembang. Untuk propinsi DIYmisalnya, saat ini sudah 2 koperasi ada dan lebih dari 200 UKM yang tergabung dalam BUEKA. Program BUEKA di DIY dikembangkan melalui forum-forum pengajian Aisyiyah di tingkat Ranting/Desa. Bahkan di beberapa tempat juga sudah dikembangkan pada tingkat pedukuhan.
Biasanya UKM-UKM yang tergabung dalam BUEKA berkumpul satu bulan sekali dibarengi dengan semacam bazar dan pameran semua produk mereka masing-masing. Di samping itu, semua produk yang dihasikan UKM-UKM itu sedapat mungkin diserap oleh unit-unit usaha milik Muhammadiyah dan Aisyiyah. Misalnya kalau Aisyiyah mengadakan kegiatan, maka konsumidan makanan kecilnya dibeli dari anggota BUEKA yang memang bergerak pada usaha itu Demikian juga ketika ada orang Aisyiyah yang mempunyai hajat keramaian, semua keperluan mulai konsumnsi, dekorasi, undangan dan lain sebagainya dipasok dari para anggota BUEKA. Gula UKM pembuat makanan kecil, juga dipasok dari anggota BUEKA yang memproduk gula, demikian seterusnya.

BUEKA dan Qoryah Thayyibah
Apabila melihat pada program kesehariannya, gerakan ekonomi Aisyiyah ini dapat dikembangkan secara lebih intensif. Optimisme ini didasarkan pada sejumlah fakta, bahwa saat ini Aisyiyah telah mempunyai forum pengajian rutin pada setiap Ranting. Pada setiap pengajian itu, juga telah ada semacam koperasi simpan-pinjam. Pada banyak Cabang dan Ranting Asiyiyah, juga sudah terdapat BMT (Baitil mal wa Tamwil) dan lembaga keuangan yang lain.
Apabila program BUEKA ini disinergikan dengan kegiatan yang lebih dahulu ada yaitu pembentukan Qaryah Tayyibah (masyarakat utama) yang merupakan potret masyarakat mandiri dan agamis, maka program BUEKA ini dapat dikatakan menemukan relevansinya. Karena, dalam program Qaryah Tayyibah bidang ekonomi juga disebutkan program ekonomi untuk individu adalah membangun jiwa individu dan meningkatkan berbagai jenis ketrampilan yang produktif. Sedangkan untuk keluarga, adalah meningkatkan kesadaran anggota keluarga untuk berwirausaha, meningkatkan kemampuan anggota keluarga untuk mengelola keuangan rumah tangga, dan menanamkan gaya hidup hemat dan produktif.
Jiwa-jiwa wirausaha yang disemai dalam keluarga sakinah, sebagai anasir dasar pembentuk qaryah tayyibah, itu dapat diaplikasikan dalam bentuk nyata dengan membuat unit kerja mandiri yang produktif, yang kemudian disinergikan dengan keluarga-keluarga yang lain yang tergabung dalam BUEKA. Dengan gambaran yang sederhana ini, tampaknya gatra ekonomi keumatan yang mandiri dapat menjadi sesuatu hal yang tidak mustahil lagi bisa diwujudkan oleh Aisyiyah.
Wallahhu a’lam bi showab.l
Isngadi Marwah Atmadja, Koordinator Kajian Kebudayaan di Lembaga Studi Islam dan Politik (LSIP) Yogyakarta

Tidak ada komentar: