Kamis, 05 Februari 2009

BENARKAH DIET GOLONGAN DARAH BERMANFAAT ?

Benarkah Diet Golongan Darah Bermanfaat?
Oleh : dr. Widodo Judarwanto, Sp.A

Dalam suatu arisan keluarga seorang ibu dengan yakinnya memuji penemu diet golongan darah, karena setelah ia mengikuti diet golongan darah A, berbagai gangguan yang selama ini dirasakan berangsur membaik. Ceritanya terputus sebelum selesai, saat seorang ibu lain menyanggah dengan cepat, "apa diet golongan darah, yang ada cuman lapar tetapi penyakit tetap “nongol” terus”.

1. Pendahuluan
Diet golongan darah ternyata sudah menjadi fenomena besar di Indonesia, bahkan di dunia internasional. Fenomena ini telah ramai dibicarakan di Amerika sejak sepuluh tahun lalu. Dalam lima tahun belakangan ini Indonesia juga terkena imbasnya. Temuan diet golongan darah tersebut ternyata mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Buku-buku bertema diet golongan darah laris bak kacang goreng. Pebisnis di bidang kuliner juga tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Muncullah rumah makan dengan menu golongan darah, ice cream golongan darah, jus golongan darah. Benarkah diet golongan darah bermanfaat, atau malah merugikan?

Temuan besar tentang diet golongan darah ini sampai saat ini masih menjadi kontroversi di dunia kedokteran. Secara ilmiah temuan tersebut tidak didasarkan pada evidence based medicine atau kedokteran berbasis bukti. Dalam era modern dunia kedokteran, setiap tindakan dan terapi medis harus berdasarkan hasil penelitian secara ilmiah. Bila tidak terbukti maka pendapat dan teori tersebut belum layak digunakan dalam masyarakat.

2. Teori dr. Peter J. D’Adamo

Adalah seorang naturopatis dari Stamford, Connecticut - Amerika bernama dr. Peter J. D’Adamo yang sekitar tahun 1996 memperkenalkan cara baru berdiet dengan mendasarkan pada golongan darah manusia. Meskipun seorang dokter tetapi dalam kehidupan profesional sehari-hari ia bergerak di bidang terapi alternatif atau non-medis.

Dalam bukunya berjudul "Eat Right For Your Type", dr. D’Adamo menyebutkan bahwa manusia yang memiliki tipe darah berbeda pasti memiliki respon atau tanggapan terhadap makanan yang berbeda pula. Gagasan ini berakar pada sejarah evolusi, khususnya yang berkaitan dengan perbedaan golongan darah (O, A, B, dan AB). Teori evolusi yang dianutnya adalah kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang dimiliki manusialah yang menyebabkan terjadinya perubahan tipe darah. Adaptasi yang terkait dengan makanan yang dikonsumsi, diyakini menjadi kunci sehat nenek moyang kita.

Penelitian tentang tipe darah yang dilakukannya selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa terdapat efek fisiologis yang muncul akibat lektin yang masuk dalam tubuh. Lektin adalah protein yang terdapat pada makanan, khususnya biji-bijian dari tanaman polong-polongan. Setiap protein yang terserap oleh tubuh melalui makanan yang kita asup, menurutnya, masing-masing hanya cocok dengan tipe darah tertentu. Kalau makanan tersebut lektinnya tidak cocok dengan tipe darah, akan membawa bahaya berupa menggumpalnya sel darah merah. Proses yang disebut aglutinasi yang diperantarai oleh lektin inilah yang mengakibatkan munculnya banyak keluhan kesehatan.

Dalam penelitian tersebut telah dikategorikan 16 kelompok makanan, yaitu: daging dan unggas; hasil laut; susu dan telur; minyak dan lemak; kacang dan biji-bijian; buncis dan polong-polongan; sereal; roti dan aneka kue; padi-padian dan pasta; sayur-sayuran; buah-buahan; jus dan segala macam cairan; rempah-rempah dan bumbu; teh-teh herbal; dan bermacam-macam minuman. Makanan-makanan ini masih dimasukkan dalam golongan sangat baik, netral, atau harus dihindari sesuai tipe darah. Golongan sangat baik bisa diartikan bahwa makanan itu bekerja bagaikan obat. Golongan netral berarti makanan tersebut bekerja sebagaimana yang pengaruhnya kecil bagi tubuh. Golongan dihindari berarti makanan bertindak bagaikan racun bagi tubuh.

Namun sayangnya teori dan berbagai penelitian yang dilakukan oleh Dr. Peter J. D’Adamo, tidak sesuai kaidah ilmu kedokteran dan tidak termasuk penelitian yang memenuhi kelayakan ilmiah. Sampai saat ini, belum dijumpai hasil penelitian tentang diet golongan darah dalam Pubmed Online atau publikasi penelitian ilmiah yang diakui dunia medis internasional. Penelitian yang diterima secara ilmiah harus memenuhi berbagai kelayakan penelitian, seperti uji klinis acak tersamar ganda (Randomized Double Blind Clinical Trial) dan sebagainya.

3. Telaah di bidang medis

Meskipun kalangan kedokteran internasional banyak yang menentang teori diet golongan darah ini, kita tidak boleh memandang sebelah mata. Logika umum mengatakan, bahwa mungkin saja ada kelebihan di balik teori ini. Buktinya teori dan pendapat ini booming di mana-mana, baik di dunia internasional ataupun di Indonesia.

Di bidang kedokteran memang telah diakui adanya reaksi simpang makanan yang dialami oleh banyak individu manusia. Reaksi simpang makanan adalah reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang ditelan. Reaksi ini merupakan kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh paparan terhadap makanan. Berbagai organ tubuh yang terganggu dapat menimbulkan gejala berupa diare, nyeri perut, konstipasi (sulit buang air besar), asma, nyeri tulang, berat badan sulit naik, sakit kepala dan badan lemas. Bahkan berbagai temuan ilmiah menyebutkan bahwa reaksi simpang makanan ternyata dapat menganggu otak dan perilaku manusia, seperti sakit kepala, migrain, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, agresifitas meningkat, ganguan tidur dan gangguan perilaku lainnya. Penelitian biomolekular tentang penghindaran makanan pada penderita autism dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), ternyata menghasilkan perbaikan gejala yang bermakna.

Reaksi simpang makanan bisa juga timbul karena alergi makanan, intoleransi makan, celiac disease (ketidak cocokan terhadap gluten atau terigu) dan lain-lain. Alergi makanan adalah reaksi imunologik yang menyimpang. Sebagian besar reaksi ini terjadi melalui reaksi hipersensitifitas tipe 1. Intoleransi makanan adalah reaksi makanan non-imunologik dan merupakan sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Reaksi ini dapat disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan akibat kontaminasi toksik (misalnya toksin yang disekresi oleh Salmonella, Campylobacter dan Shigella, histamine pada keracunan ikan), zat farmakologik yang terkandung dalam makanan misalnya tiramin pada keju, kafein pada kopi atau kelainan pada pejamu sendiri seperti defisiensi laktase, maltase atau respon idiosinkrasi pada pejamu. Sebenarnya di bidang kedokteran sering terjadi perbedaan pendapat tentang hal ini, karena untuk memastikan makanan penyebab alergi dan intoleransi sangat sulit. Mencari penyebab makanan yang mengganggu tersebut bukan berdasarkan tes alergi, tes darah atau berbagai tes lainnya. Untuk memastikannya, harus berdasarkan eliminasi provokasi atau trial and error. Selama 3 minggu makanan yang dicurigai harus dihindari, kemudian setelah keluhan membaik dilakukan provokasi tiap jenis makanan yang dicurigai sambil diamati gejala yang timbul.

Keberhasilan yang terjadi pada penganut diet golongan darah tampaknya karena sebagian besar makanan yang harus dihindari adalah penyebab intoleransi dan alergi makanan, seperti ikan laut, kacang, telor, buah, susu dan tepung terigu. Bila bahan makanan tersebut dihindari oleh penderita alergi atau intoleransi makanan, maka akan memperbaiki berbagai keluhan. Tetapi ini tidak akan terjadi pada orang yang tidak menderita alergi atau intoleransi makanan. Alergi dan intoleransi makanan tidak terjadi karena perbedaan golongan darah, tetapi bersifat genetik, keturunan, imaturitas (ketidak matangan saluran cerna) dan gangguan fungsi saluran cerna lainnya. Belum tentu semua penderita golongan darah O adalah penderita alergi. Bisa saja seseorang berbeda golongan darah tetapi punya alergi atau ketidakcocokan dengan makanan yang sama. Bagi penderita alergi atau intoleransi makanan yang kebetulan menghindari jenis makanan tertentu akan dapat membaik. Tetapi bila makanan yang tidak cocok dipaksakan, dampaknya terhadap kesehatan bisa lebih besar.

4. Bagaimana menyikapinya

Bila terapi kedokteran dipertemukan dengan terapi alternatif, maka yang timbul adalah kontroversi yang berkepanjangan. Teori kedokteran harus berlandaskan bukti klinis dan berdasarkan imunopatobiologi imu kedokteran. Sementara, terapi alternatif biasanya berdasarkan pengalaman nenek moyang, turun temurun atau berdasarkan rekaan dan pendapat pribadi yang diyakini tanpa berdasarkan pengetahuan ilmiah yang lazim.

Atas dasar itu maka terapi diet golongan darah termasuk salah satu jenis terapi alternatif non-medis, meskipun penemunya adalah dokter. Saat ini di berbagai penjuru dunia banyak klinisi profesional atau dokter yang juga melakukan profesinya di jalur terapi alternatif. Memang harus diakui bahwa mungkin saja terdapat terapi alternatif yang bermanfaat. Sebaiknya masyarakat tetap harus berhati-hati, karena jumlah ketidakberhasilan, efek samping dan dampak bahaya terapi alternatif terhadap kesehatan belum diketahui secara pasti.

Sikap logis yang bisa dilakukan adalah: bagi penganut diet golongan darah, bila berhasil boleh saja menghindari makanan tersebut. Tetapi harus diingat bahwa belum tentu makanan yang dihindari tersebut yang mengganggunya. Bila makanan tersebut sebetulnya tidak mengganggu, alangkah malangnya nasibnya, karena harus menghindari makan enak dan bergizi. Tetapi bila ada pengalaman dengan makanan tertentu yang berulang dengan gangguan yang sama, sebaiknya dihindari. Bila menghindari makanan tertentu harus dicari makanan penggantinya agar tidak kekurangan gizi, misalnya ikan laut diganti gurame, telur diganti daging dan seterusnya. Kalau hal itu masih ragu, sebaiknya harus berkonsultasi dengan ahlinya.

5. Daftar Pustaka


Peter J D’Adamo, Catherine W. Read Eat Right For Your Type.
Reingardt D, Scgmidt E. Food Allergy.Newyork:Raven Press,1988.
Walker-Smith JA, Ford RP, Phillips AD. The spectrum of gastrointestinal allergies to food. Ann Allergy 1984;53:629-36.
Opper FH, Burakoff R. Food allergy and intolerance. Gastroenterologist. 1993;1(3):211-220.
Carter, C M et al. Effects of a few foods diet in attention deficit disorder. Archives of Disease in Childhood (69) 1993; 564-8
Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.
Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.
Judarwanto W. Dietery Intervention as Therapy for behaviour problem in Children with Gastrointestinal Allergy. Presented at World Congress Pediatric Gastroenterology Hepatology Nutrition, Paris, Juli 2004.
Vaughan TR. The role of food in the pathogenesis of migraine headache. Clin Rev Allergy 1994;12:167-180.
Allergy induced Behaviour Problems in children. http://www.allergies/wkm/behaviour
Brain allergic in Children.Htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.

Tidak ada komentar: