Rabu, 07 April 2010

AIR BERSIH: WARGA BERPERAHU UNTUK MENDAPATKAN AIR


Jayapura - Ratusan warga di Kampung Enggros dan Tobati, Kota Jayapura, Papua, masih kesulitan air bersih. Warga terpaksa mengangkut air bersih dari tempat jauh dan antre.

”Waktu dan uang kami habis untuk mengambil air bersih. Kami berharap pada 100 tahun Kota Jayapura membawa kemajuan bagi kampung kami yang merupakan penduduk mula-mula Jayapura,” kata Franky Sanyi (26), warga Kampung Enggros, Distrik Abepura, Selasa (6/4).

Ia menuturkan, setiap hari warga harus mengambil air dari bekas saluran PDAM dengan mendayung perahu sekitar 30 menit. Sering kali saluran itu tidak mengalir sehingga mereka harus memutar balik perahu menuju Entrop, yang jarak tempuhnya dua jam mendayung untuk mengais air bersih dari saluran air yang bocor. Itu pun harus antre.

Nelly Meroje Haay (52), warga Kampung Tobati, Distrik Jayapura Selatan, mengatakan, setiap hari harus bangun pagi untuk mengantre air bersih. Ia berharap saluran air dari PDAM kembali dialirkan ke kampung sehingga warga tidak perlu mengambil air terlalu jauh.

Ia menuturkan, warga harus menyewa perahu mesin untuk mengambil air ke Entrop. Perlu sedikitnya Rp 100.000 untuk membayar transportasi itu.

Menurut ibu tujuh anak ini, tahun 1999, saluran air PDAM masuk ke Kampung Tobati dan Kampung Enggros, yang berdekatan. Namun, belum setahun, saluran air putus karena tekanan air laut pasang naik dan turun. Hingga kini, saluran itu belum disambung kembali.

Pihak PDAM menyatakan, untuk memperbaiki saluran air ke Kampung Enggros dan Tobati perlu biaya Rp 500 juta.

Kepala Kampung Tobati Yairus Lois Haay mengaku telah mengusulkan ke Pemkot Jayapura agar membantu pemasangan kembali saluran air supaya masuk ke kampung. ”Kami berharap pergantian wali kota tahun ini (Pilkada Kota Jayapura bulan Juni 2010) bisa membawa perubahan kampung kami agar tidak lagi kesulitan air,” katanya.

Yairus mengatakan, warga yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan mengatasi kesulitan air dengan menampung air hujan. Namun, upaya ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan minum. Karena itu, mereka terpaksa berperahu untuk mengambil air.

”Rata-rata penghasilan warga dari menjual ikan sekitar Rp 200.000 per hari. Dipotong biaya transportasi mengambil air dan mencari ikan serta kebutuhan lain, hanya tersisa Rp 500.000 per bulan. Jadi, masalah air sangat berat bagi kami,” katanya. (ich/kps)