Senin, 05 April 2010

KOTA BANGKOK LUMPUH PEMERINTAH THAILAND AKAN AMBIL TINDAKAN TEGAS


Bangkok, - Ibu kota Thailand, Bangkok, Minggu (4/4), lumpuh karena aksi puluhan ribu pemrotes di jantung komersial kota itu. Mereka telah menduduki pusat-pusat perbelanjaan dan hotel-hotel mewah sejak Sabtu guna menuntut pembubaran parlemen.

Pemrotes, dikenal dengan sebutan kelompok ”Kaus Merah”, membangkang perintah untuk membubarkan diri dan kembali ke kawasan kota tua Bangkok, tempat mereka memusatkan aksi protes dalam tiga pekan terakhir. Salah satu pemimpin Kaus Merah, Veera Musikapong, mengatakan, mereka akan tetap di tempat itu setidaknya hingga Senin.

”Kami tidak punya pilihan selain meningkatkan pembangkangan publik sampai pemerintah mendengarkan. Area ini adalah simbol elite Bangkok. Kami ingin menunjukkan bahwa mereka tidak bisa memerintah tanpa konsensus rakyat,” ujarnya.

Di antara tempat-tempat yang mereka duduki adalah Siam Paragon, salah satu pusat perbelanjaan paling favorit di Asia, juga hotel-hotel mewah, seperti Grand Hyatt Erawan dan InterContinental Bangkok. Biasanya, pusat-pusat komersial itu ramai dikunjungi orang pada akhir pekan, tetapi ditutup selama dua hari terakhir dengan alasan keamanan. Kamar Dagang Thailand, seperti dikutip surat kabar setempat, menyebutkan, kerugian akibat aksi itu bisa mencapai 15 juta dollar AS per hari.

Polisi memperkirakan jumlah pemrotes mencapai 50.000 orang pada Sabtu pekan lalu, tetapi turun signifikan pada hari berikutnya. Sejumlah pemrotes juga telah menunjukkan tanda-tanda kelelahan, berlindung di bawah bayangan gedung-gedung yang mereka duduki guna menghindari sengatan sinar matahari.

PM Abhisit menyerukan agar pemrotes, pendukung mantan PM Thaksin Shinawatra, kembali ke tempat mereka protes selama ini. Dia mengatakan, pemerintah dan pemimpin protes sudah hampir mencapai kompromi. Pemrotes bergeming.

”Blokade jalan-jalan di sekitar persimpangan adalah penggunaan hak publik di luar yang ditentukan konstitusi,” kata Abhisit, Minggu. ”(Kami) tahu beberapa orang ingin pemerintah menggunakan langkah keras, tetapi kita semua warga Thailand. Pemerintah akan menggunakan standar internasional, mulai dari langkah yang lunak,” ujarnya.

Abhisit menolak tuntutan pemrotes untuk membubarkan parlemen dalam 15 hari. Dia menawarkan pembubaran parlemen pada akhir tahun ini, setahun lebih awal dari yang dijadwalkan. Dia beralasan, pemilu damai tidak mungkin digelar sekarang saat ketegangan meliputi masyarakat yang terbelah antara warga miskin pedesaan dan kelas menengah di perkotaan.

Analis mengatakan, jika digelar pemilu sekarang, kubu pendukung Thaksin kemungkinan akan memenanginya.

Langkah keras

Juru bicara militer, Kolonel Sansern Kawekamnerd, mengatakan, otoritas akan menggunakan langkah lebih keras jika pemrotes tetap membangkang. Polisi mengatakan, pemrotes bisa menghadapi hukuman penjara hingga setahun atau dan denda 20.000 baht jika tak meninggalkan kawasan komersial karena melanggar Undang-undang Keamanan Internal.

Wakil Perdana Menteri Suthep Thaugsuban mengatakan, pemerintah akan mengupayakan perintah pengadilan untuk meningkatkan tekanan kepada Kaus Merah agar pergi dari kawasan komersial setelah akhir pekan. ”Saat kami memiliki perintah pengadilan, pemerintah akan melihat apa yang bisa kami lakukan,” ujar Suthep.

Pemrotes menyatakan tidak gentar dengan ancaman itu. ”Saya tidak takut. Saya yakin akan ada banyak orang bersama saya,” kata Kampa Ngaokor, salah satu pemrotes, yang berasal dari Provinsi Chaiyaphum di timur laut Thailand.

Pendudukan itu telah memunculkan kekhawatiran tentang dampaknya pada pariwisata dan perekonomian menjelang liburan Festival Songkran pada 13-15 April. Biasanya, turis-turis asing memadati Bangkok saat digelar festival air tersebut.

”Dari 100 penerbangan yang dipesan bagi wisawatan asal China untuk Festival Songkran, 60 di antaranya sudah dibatalkan. Kami mencoba menyelamatkan sisanya,” kata Apichart Singka-aree, Direktur Asosiasi Agen Perjalanan Thailand. (ap/afp/reuters/fro/KPS)