Minggu, 14 Februari 2010

Banyak Makanan Kedaluwarsa, Jajanan Anak Mengandung Bahan Beracun


Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan masih menemukan banyak makanan kedaluwarsa di pasaran. Masyarakat diimbau memerhatikan produk yang dibeli, terutama menjelang Imlek, saat kebutuhan akan makanan meningkat.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kustantinah mengatakan, menjelang hari raya Imlek, BPOM memeriksa 556 sarana distribusi makanan di seluruh Indonesia.

”Pengawasan makanan pada dasarnya rutin. Menjelang hari raya diadakan pengawasan ekstra karena kebutuhan terhadap makanan bertambah,” ujarnya.

Pemeriksaan berlangsung 5-11 Februari 2010. Lewat pemeriksaan itu, temuan terbanyak yakni 3.252 kemasan (76,39 persen) kedaluwarsa. Produk kedaluwarsa itu, misalnya,

minuman ringan, minuman bersoda, biskuit, permen, dan makanan kering. Makanan kedaluwarsa tidak baik bagi kesehatan.

Selain itu, BPOM menemukan 251 kemasan (5,90 persen) makanan rusak, 487 item (11,4 persen) makanan impor tanpa izin edar, dan 156 item (3,66 persen) makanan tidak memenuhi ketentuan label, dan selebihnya pelanggaran lain.

Ada 1.603 kemasan dari 93 item dimusnahkan. Produk yang labelnya tidak memenuhi syarat, BPOM meminta diganti labelnya sesuai dengan apa yang disetujui sesuai pemberian izin edar. Sebanyak 1.867 kemasan dari 610 item diamankan dan 19 item dikembalikan ke distributor.

Jajanan anak

Lewat pemeriksaan sampel terhadap jajanan anak, BPOM masih menemukan zat tambahan berbahaya, seperti rhodamin B (pewarna merah), boraks (pengawet), dan methanil yellow (pewarna kuning).

Pengambilan sampel dilakukan di warung, kantin, dan pedagang makanan sekitar sekolah dengan mobil laboratorium keliling.

Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Pangan BPOM Dewi Prawitasari mengatakan, ada 154 sekolah di enam ibu kota provinsi yang diperiksa. ”Makanan yang diperiksa, antara lain, kerupuk, bakso, sirup, dan saus,” ujarnya.

Dewi mengatakan, dari sampel yang diambil, jumlah jajanan anak sekolah yang mengandung bahan tambahan berbahaya semakin berkurang. Ada tiga tahap pengambilan sampel dan hasil terakhir terjadi penurunan 72 persen jajanan anak sekolah yang tak memenuhi syarat.

BPOM juga tengah memeriksa sejumlah sampel susu guna memastikan bebas dari bahan berbahaya, seperti melamin. (INE/kp)