Minggu, 21 Februari 2010

Dusun Krajan Mencekam: Warga Takut "Anjing Drakula" Memangsa Manusia


ilustrasi MALANG, KOMPAS.com - Sejak belasan kambing Mbah Surateman mati diserang anjing pengisap darah, para peternak kembali ketakutan. Beberapa warga bahkan melakukan ritual agar anjing ‘drakula’ tidak menyerang ternak mereka.

Suasana malam di Kampung Krajan, Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, terasa sangat mencekam dan lengang. Jika hari biasanya sesudah Maghrib, banyak anak-anak berlarian di jalan dusun untuk bermain, kini tak terlihat lagi.

Cerita tentang anjing pengisap darah yang mengisap habis darah 12 kambing milik Mbah Surateman (74) Rabu (17/2/2010) lalu, membuat warga ketakutan. Apalagi cerita itu dibumbui bahwa hewan pengisap darah itu adalah makhluk jadi-jadian. Anakanak yang sejatinya tidak paham betul tentang apa yang terjadi ikut ketakutan. Mereka tidak berani keluar rumah ketika matahari mulai tenggelam.

“Hingga kini saya masih khawatir kalau hewan itu nantinya menyerang manusia,” ungkap Gatot, Kaur Keamanan Desa Sumbersekar, Sabtu (20/2/2010).

Saat ini warga gencar menggelar ronda malam untuk menangkap anjing pengisap darah. Banyak pemilik ternak juga berjaga semalaman untuk menunggui kandang. Warga ketakutan akan ada serangan lanjutan. Sejumlah warga bahkan ada yang mendatangi dukun untuk melindungi kandang secara gaib.

“Saya sudah memasang jaring dan menabur beberapa jenis kembang yang sudah didoai orang pintar yang saya datangi. Jika itu memang serangan makhluk jadi-jadian, maka hanya bisa ditangkal dengan ilmu gaib juga,” ujar seorang warga yang tak mau disebut namanya.

Strategi melibatkan paranormal diyakini ampuh untuk menghentikan teror anjing pengisap darah. Sejumlah warga bercerita serangan anjing itu sebenarnya juga dialami kambing-kambing milik salah satu warga bernama Herman tahun lalu. Pascakejadian, warga kemudian melakukan sejumlah ritual gaib, mulai meminta bantuan dari paranormal sampai istighotsah.

“Hasilnya cukup menenteramkan. Sejak saat itu tidak ada lagi serangan. Serangan baru terjadi lagi Rabu lalu,” ujar Santi, warga RW 3 Dusun Krajan. Enam bulan setelah peristiwa yang menghabisi 42 kambing milik Herman, insiden serupa terulang dan kali ini menimpa kambing Mbah Surateman. Warga dan para peternak kembali terguncang. Dan, sejumlah warga pun kembali melakukan ritual.

Suyono, tetangga Mbah Surateman, memilih mengecat bulu kambingnya dengan warna merah, sehari setelah 12 kambing Surateman berbulu putih diserang anjing pengisap darah. Alasannya, anjing pengisap darah hanya mengincar kambing-kambing domba berbulu putih.

“Saya harap itu bisa mengelabui hewan pengisap darah. Pengalaman dari serangan enam bulan lalu, dimana dalam satu kandang kambing ras lokal berwarna kemerahan dengan kambing putih ini dicampur, tetapi yang diisap darahnya hanya kambing putih saja,” jelas Suyono.

Tak hanya kambing putih miliknya yang disulap menjadi warna merah, Suyono juga mengecat ulang kandang dengan warna merah. Meski demikian, Suyono tak sepenuhnya tenang. Setiap malam ia masih begadang menjaga kandang. Hingga akhirnya Suyono menjual murah semua kambingnya kepada seorang pembeli, Sabtu pagi.

“Memang sudah diwarnai, tetapi saya juga tidak terlalu yakin karena tak ada jaminan. Daripada saya tidak dapat uang lebih baik tujuh kambing yang saya miliki itu dijual dengan harga murah,” ungkap Suyono.

Tiga anak kambing dan empat kambing siap potong dijual. Sejumlah tetangga Surateman pun berencana menjual kambing dengan harga murah. Apalagi sebagian besar kambing yang mereka pelihara adalah milik orang lain dengan sistem bagi hasil.

“Untuk sementara waktu saya akan mencari pekerjaan lain, tidak jadi pemelihara kambing dulu sampai situasinya tenang,” tandas Suyono. (renni susilawati/hayu yudha prabowo)