Senin, 19 Juli 2010

Kematian Lansia karena Diabetes Rangking No 2 di Indonesia

Surabaya - Bagi kalangan lanjut usia jangan menyepelekan penyakit diabetes melitus (DM). Karena diabetes khususnya penderita berumur di atas 45 tahun tercatat penyakit yang mematikan nomor urut dua di Indonesia.

"Ya lihat-lihat umurnya. Kalau dibawah umur 15 tahun, tingkat (nomor urut penyebab kematian, Red) 9. Kalau diatas 15 sampai 45 tahun tingkat 6. Sedangkan diatas 45 tahun tingkat 2," kata Ketua PB Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA), Dr dr Achmad Rudijanto, SpPD-KEMD saat jumpa pers usai acara Hari Kebersamaan Diabetes Nasional 2010, di lapangan Makodam V Brawijaya, Surabaya, Minggu (18/7/2010).

Dari data hasil RISKESDAS (2007) menunjukkan prevalensi diabetes sebesar 5,7 persen. Sedangkan prevalensi pre-diabetes sebesar 10,8 persen dan prevalensi obesitas sentral sebesar 18,8 persen. Kedua keadaan tersebut merupakan faktor risiko timbulnya diabetes.


Sementara itu, International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan terjadinya peningkatan jumlah pasien DM di Indonesia, dari 7 juta pada tahun 2009 diprediksi mencapai 12 juta pada tahun 2030. Sedangkan World Health Organization (WHO) memperkirakan kenaikan jumlah yang lebih besar, yakni dari 8 juta pasien pada tahun 2000 menjadi 21 juta pada tahun 2030.

Ketua PERSADIA Cabang Surabaya, Prof DR dr Agung Pranoto, MSc, SpPD, K-EMD, FINASIM menambahkan, pasien diabetes dapat menggunakan insulin lebih dini dapat memberikan harapan yang lebih baik bagi pasien, dalam mengontrol gula darah dan mencegah terjadinya komplikasi vaskular.

"Pemberian insulin pada saat yang tepat akan memberikan hasil yang lebih baik pada pasien diabetes. Tapi kenyataannya, sampai saat ini masih terdapat persepsi yang salah tentang pemberian insulin. Pasien diabetes kerap menganggap pemberian insulin sebagai pilihan terapi terakhir," tuturnya.

Sementara itu, Widji Soerati (59) salah satu penderita diabetes mengatakan, jika penyakit diabetes tidak bisa diusir (disembuhkan), dapat dijadikan sebagai teman baik. Asalkan kontrol rutin dan menjaga kadar gula darah, menjaga pola hidup sehat dan rajin berolah raga.

"Tekad untuk bisa hidup lebih sehat dan dapat menjalankan semua aktivitas secara normal membuat saya bisa berdamai dengan diabetes. Dan rasa nyeri saat menyuntikkan insulin menjadi tidak berarti. Resep saya untuk tetap bersemangat menjalani pola hidup yang sehat dan selalu ikut aturan," ujar Soerati.