Jumat, 09 Juli 2010

Keputusan Muktamar : Pluralisme, Gender, Tenaga Kerja, Hingga Islamofobia


Yogyakarta - Beberapa isu strategis terkait masalah keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal Muhammadiyah dikaji dalam Muktamar Satu Abad yang berlangsung sejak 3-8 Juli 2010.
Hal tersebut disampaikan Dahlan Rais saat membacakan Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah dalam rangka penutupan Muktamar di Sportorium UMY, Kamis (08/07/2010).

Ia mengungkapkan, kemajemukan agama dan keadilan gender merupakan contoh adanya permasalahan keumatan yang dihadapi masyarakat saat ini. Menurutnya, Muhamamdiyah menerima pluralitas agama namun menolak pluralisme yang mengarah pada sinkretisme, sintesisme, dan relatifisme. “Karena itu, umat Islam diajak memahami kemajemukan agama dan keberagaman dengan mengembangkan tradisi toleransi dan ko-eksistensi,” urainya.

Setiap individu bangsa hendaknya menghindari segala bentuk pemaksaan kehendak, ancaman dan penyiaran agama yang menimbulkan konflik antar pemeluk agama. “Pemerintah diharapkan memelihara dan meningkatkan kehidupan beragama yang sehat untuk memperkuat kemajemukan dan persatuan bangsa,” jelas Dahlan Rais.

Dalam keadilan gender, Muhammadiyah mendukung usaha yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas, memberdayakan, memperluas, dan memperkuat peran, serta memberikan penghargaan atas prestasi kaum perempuan di berbagai kehidupan sesuai ajaran Islam demi terciptanya masyarakat, umat, bangsa yang bermartabat.

Permasalahan kebangsaan seperti perlindungan dan kesejahteraan pekerja juga menjadi perhatian Muhammadiyah yang memandang kamu pekerja yang harus mendapatkan perlindungan dan pembelaan. Untuk memperbaiki nasib pekerja Indonesia, Muhammadiyah mengusulkan agar segera dilakukan review Undang-Undang Ketenagakerjaan yang lebih memberikan jaminan dan perlindungan HAM pekerja dengan menghapuskan sistem outsourcing dan menggantikannya dengan sistem full-employement yang memberi keadilan kepada pekerja.

Munculnya Islamofobia dalam permasalahan kemanusiaan universal dipandang sebagai ancaman global yang mereduksi hakikat peradaban dan keadaban umat, bertentangan dengan prinsip HAM, serta berbahaya bagi terwujudnya perdamaian dunia. “Muhammadiyah menyerukan agar Islamofobia dengan segala bentuk dan manifestasinya yang muncul di sejumlah negara segera diakhiri dan diganti dengan dialog dan kerjasama antar peradaban kondusif dan menjunjung tinggi hakekat kemanusiaan, prinsip kesetaraan terhadap keadilan dalam tatanan global dan dinamika hubungan antar agama dan peradaban di dunia,” tambah Dahlan Rais. (tya)